Kisah Kompol Andi Sutrisno, Polisi di Kepri yang Dijuluki ‘Andi Mayat’ karena Kerap Turun ke Liang Lahat

Kepri, Kolom, Lingga57 Dilihat

Lingga – Warga Sekop Laut, Kabupaten Lingga, masih mengingat jelas peristiwa siang itu. Sebuah rumah duka dipenuhi pelayat. Kursi-kursi plastik tersusun rapi di halaman rumah sederhana, sementara tangis keluarga pecah di sela kesibukan warga yang tengah menyiapkan prosesi pemakaman.

Di tengah suasana kehilangan yang mendalam, seorang pria datang tanpa banyak bicara.

Setelah menyalami pihak keluarga untuk menyampaikan belasungkawa, ia tidak lantas duduk diam. Tangannya langsung cekatan membantu pengurusan jenazah. Pria itu ikut memikul keranda, berdiri di saf paling depan saat salat jenazah, hingga turun langsung ke liang lahat untuk membantu proses pemakaman hingga selesai.

Bagi warga setempat, pemandangan itu membekas kuat dalam ingatan. Pria tersebut adalah Kompol Andi Sutrisno. Saat peristiwa itu terjadi, ia masih menjabat sebagai Wakapolres Lingga. Kini, pengabdiannya berlanjut sebagai Kayanma (Kepala Pelayanan Markas) Polda Kepri di Batam.

Namun, apa yang terjadi di Sekop Laut hanyalah satu dari sekian banyak kisah tersembunyi. Di berbagai wilayah penugasannya di Kepulauan Riau (Kepri), masyarakat mengenalnya lewat sebuah sapaan yang begitu lekat dan unik: “Andi Mayat.”

Penghormatan di Balik Julukan yang Tak Biasa

Sepintas, julukan itu mungkin terdengar keras atau bahkan menyeramkan. Namun bagi warga yang mengenalnya, sapaan tersebut bukanlah ejekan, melainkan sebuah bentuk penghormatan tertinggi. Julukan itu lahir dari rahim kepedulian seorang polisi yang selalu hadir paling depan ketika duka menyambangi warganya.

Baca Juga :  Imigrasi Tanjung Uban Gandeng RT/RW Perkuat Pengawasan WNA di Tanjung Uban Selatan

Di berbagai tempat tugasnya, Andi dikenal bukan sekadar aparat penegak hukum yang kaku. Ia adalah sosok yang kerap datang membantu warga mengurus jenazah, ikut memikul keranda, hingga turun langsung ke liang kubur.

Kompol Andi Sutrisno turut membantu warga saat meninggal dunia. F : Istimewa

Bagi sebagian orang, liang lahat adalah tempat yang membuat langkah kaki terasa berat untuk mendekat. Namun bagi Andi, membantu mengantar seseorang ke peristirahatan terakhir telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengabdiannya.

“Kalau orang sedang berduka itu jangan dibiarkan bingung sendiri. Kadang keluarga tidak tahu harus mulai dari mana. Kalau saya bisa bantu, ya saya bantu. Kita ini hidup untuk saling meringankan,” ujar Andi dengan bersahaja.

Lahir dari Empati Mantan Tim Inafis

Kebiasaan mulia ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Lulusan SPN Gobah Pekanbaru tahun 1992 ini ternyata pernah lama bertugas di dunia identifikasi forensik atau Inafis, baik di lingkungan Polda Kepri maupun Polresta Barelang.

Pengalaman panjang bergulat dengan garis polisi dan tempat kejadian perkara (TKP) membuatnya sangat akrab dengan tragedi, kematian, dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

Namun alih-alih menjadikannya berhati dingin, pengalaman tersebut justru menumbuhkan empati yang luar biasa di dalam dirinya. Andi sangat memahami bahwa saat kematian menjemput, keluarga yang ditinggalkan sering kali membutuhkan lebih dari sekadar ucapan duka—mereka membutuhkan tindakan nyata dan uluran tangan.

Baca Juga :  Antisipasi Tambang Ilegal, Kades dan OPD Se-Bintan Terima Pembekalan Hukum dari Kejati Kepri

Kariernya di kepolisian terus menanjak menembus berbagai posisi strategis, mulai dari Kanit Reskrim Batu Aji, Kasat Narkoba Polres Lingga, Humas Polda Kepri, Wakapolres Lingga, hingga kini menjabat sebagai Kayanma Polda Kepri. Namun bagi masyarakat akar rumput, jabatan mentereng bukanlah hal utama yang mereka ingat. Yang paling membekas di hati warga justru adalah ketulusannya.

Kesaksian Warga dan Insan Pers

Salah satu kesaksian datang dari Anugrah, seorang warga Sekop Laut. Paman Anugrah pernah menjadi salah satu warga yang dibantu langsung oleh Andi saat meninggal dunia.

“Kami benar-benar tidak bisa lupa dengan kebaikan Pak Andi. Beliau datang membantu tanpa melihat siapa kami. Bahkan ikut turun ke liang lahat sampai pemakaman selesai. Di saat keluarga sedang bingung dan berduka, kehadiran beliau sangat berarti,” tutur Anugrah dengan mata berkaca-kaca.

Kedekatan perwira menengah ini dengan masyarakat juga diamini oleh Ruslan, jurnalis iNews sekaligus Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Lingga. Menurut Ruslan, sapaan “Andi Mayat” sudah lama menggema di tengah masyarakat dan murni lahir dari aksi sosial sang polisi.

Baca Juga :  Buruh Batam Pilih Aksi Bersih Lingkungan di May Day 2026, Amsakar Achmad Beri Apresiasi Tinggi!

“Kalau masyarakat menyebut beliau Andi Mayat, itu bukan dalam konteks buruk. Justru karena beliau memang selalu ada membantu warga ketika ada yang meninggal. Saya beberapa kali melihat sendiri bagaimana Pak Andi turun langsung sampai ke dasar liang lahat,” ungkap Ruslan.

Ruslan juga menilai Andi sebagai sosok pejabat kepolisian yang sangat ramah dan tidak pernah membangun sekat dengan wartawan maupun warga.

“Beliau orangnya sangat terbuka, mudah diajak komunikasi, dan membumi,” tambahnya.

Kompol Andi Sutrisno saat menyalurkan bantua bagi warga. F : Istimewa

Tidak hanya hadir di rumah duka, Kompol Andi Sutrisno juga dikenal kerap blusukan menjenguk warga yang sedang sakit di lingkungan tempat tinggalnya untuk meringankan beban mereka. Bagi Andi, orang yang sedang sakit tidak hanya butuh obat, tapi juga suntikan semangat agar tidak merasa menghadapi cobaan seorang diri.

“Kehadiran kita mungkin sederhana, tapi kalau bisa membuat orang sedikit lebih kuat, kenapa tidak,” kata Andi tersenyum.

Mungkin karena filosofi hidup itulah, hingga hari ini, sapaan “Andi Mayat” tetap hidup subur di tengah masyarakat Kepri. Bukan sebagai julukan yang menakutkan, melainkan sebagai simbol cinta dari rakyat untuk seorang polisi yang memilih setia menemani mereka—bahkan di saat paling sunyi dalam kehidupan manusia. (Adhe Bakong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *