Bintan – Program ketahanan pangan yang digagas BUMDes Gemilang Desa Gunung Kijang, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, mulai menunjukkan hasil. Panen perdana ubi jalar atau keledek madu yang ditanam di lahan seluas 3.000 meter persegi berhasil diperkirakan mencapai 2 ton.
Penanaman perdana ini dilakukan oleh Kelompok Tani Sido Makmur yang diketuai oleh Panut. Keberhasilan tersebut menjadi langkah awal dalam mendorong diversifikasi pangan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Bintan, Firman Setyawan dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kerja keras BUMDes bersama kelompok tani.
“Kami mengucapkan apresiasi kepada BUMDes Gemilang Desa Gunung Kijang bersama kelompok tani yang telah berhasil menanam ubi keledek. Kami berharap kegiatan ini terus berkelanjutan. Ubi ini bisa menjadi pangan lokal alternatif selain beras yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujarnya, Rabu (18/02) siang.
Firman menegaskan bahwa pemerintah desa memiliki peran penting dalam mengawal keberlanjutan program ketahanan pangan. Kepala desa sebagai penasihat BUMDes diharapkan terus melakukan pengawasan agar program berjalan optimal dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, dana desa yang dikelola saat ini memiliki nilai cukup besar sehingga harus dikelola dengan tertib administrasi.
“Kami menghimbau agar tertib administrasi, karena awal bencana biasanya datang dari administrasi yang tidak tertib. Dana desa ini besar, maka harus dikelola dengan baik,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tahun sebelumnya terdapat dukungan pembiayaan sebesar 20 persen dari APBD untuk dana desa. Meski tahun ini tidak ditentukan secara khusus, komitmen pengawasan dan pembinaan tetap dilakukan pemerintah desa.
Target Perluasan Hingga 1 Hektare
Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Panut, menjelaskan bahwa penanaman ubi jalar atau keledek madu tahap pertama dilakukan di lahan 3.000 meter persegi dengan estimasi hasil sekitar 2 ton.
“Untuk tahap kedua akan kembali ditanam seluas 3.000 meter persegi, dan tahap ketiga direncanakan hingga 1 hektare,” jelasnya.
Untuk sementara, hasil panen akan dipasarkan kepada masyarakat lokal dengan harga jual di kebun sebesar Rp6.000 per kilogram.
Panut mengungkapkan, awal mula budidaya ubi madu ini berasal dari bibit yang dibawa rekannya dari Medan. Dari tiga jenis bibit yang dicoba, satu varietas dinilai paling unggul dari segi rasa dan kualitas, sehingga kemudian dikembangkan lebih luas.
Saat ini, hasil panen belum dipasarkan melalui BUMDes ke luar daerah karena permintaan pasar Batam cenderung menginginkan ukuran besar dengan harga yang fluktuatif dan terkadang lebih rendah.
Ke depan, diharapkan ubi madu ini bisa menjadi produk khas Bintan yang mampu bersaing dengan daerah lain, baik dari sisi rasa maupun kualitas.
Melalui kolaborasi BUMDes, kelompok tani, dan pemerintah desa, program ketahanan pangan ini diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi lebih dahulu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat desa sebelum dipasarkan lebih luas. (Red)






