“Opung, Kenapa Diwisuda?” Kisah 35 Mahasiswa Lansia Rumah Bahagia Bintan

Bintan, Kepri, Peristiwa18 Dilihat

Bintan – Semangat belajar ternyata tidak mengenal usia. Sebanyak 35 lansia mengikuti wisuda Sekolah Lansia Rumah Bahagia Bintan angkatan pertama, Rabu (30/9/2026) siang.

Prosesi wisuda berlangsung di Rumah Bahagia Bintan, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang. Para peserta tampak antusias menunggu momen ketika mereka menerima sertifikat setelah mengikuti rangkaian pembelajaran selama 12 kali pertemuan.

banner 728x90

Para peserta tidak seluruhnya merupakan penghuni Rumah Bahagia Bintan. Sebagian lainnya berasal dari lansia yang tinggal di lingkungan sekitar dan mengikuti kegiatan melalui Posyandu Lansia.

Dengan langkah perlahan, sebagian bahkan harus didorong menggunakan kursi roda oleh petugas, para lansia satu per satu maju mengikuti prosesi wisuda. Di hadapan mereka, Bupati Bintan Roby Kurniawan bertindak layaknya seorang rektor, memindahkan tali toga dari kiri ke kanan sebelum menyerahkan sertifikat sebagai tanda telah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran di Sekolah Lansia Rumah Bahagia Bintan.

“Mahasiswa” Sekolah Lansia Rumah Bahagia saat memperagakan senam satu jari di hadapan Bupati Bintan dan tamu undangan. F : Channelkepri.com

Suasana wisuda semakin semarak ketika para lansia menunjukkan berbagai kegiatan yang selama ini mereka pelajari. Mereka menampilkan senam satu jari hingga drama pendek di hadapan Bupati Bintan Roby Kurniawan dan para tamu undangan.

Namun, suasana kemudian berubah haru ketika salah seorang peserta menyampaikan kesan selama mengikuti Sekolah Lansia Rumah Bahagia.

Ia mengaku tetap bersemangat datang mengikuti pembelajaran meski harus menghadapi panas maupun hujan. Baginya, sekolah lansia bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk membangun kebersamaan dan saling menghargai.

“Belajar di Sekolah Lansia, memberikan motivasi buat kami sebagai mahasiswa dan mahasiswi. Meski hujan dan panas, kami tetap datang ke sini. Itu kami syukuri. Di sini hanya dua orang yang Nasrani, saya dan suami saya. Kami syukuri begitu besar kasih Tuhan,” ujarnya.

Ia mengatakan suasana kebersamaan di lingkungan Rumah Bahagia membuat para lansia tetap bersemangat menjalani berbagai kegiatan.

“Kita saling menghargai, di situlah kita ada kekompakan. Kami tetap bahagia, bernyanyi, belajar apa saja kami lakukan di tempat ini dengan suka cita,” katanya.

Baca Juga :  Bukan Demo, Mapolsek Bintan Timur Mendadak 'Dikepung' Karangan Bunga Karena Alasan Ini!

Menariknya, peserta tersebut mengaku usianya baru 58 tahun. Ia mengikuti Sekolah Lansia karena ingin mendampingi suaminya yang telah berusia 69 tahun.

“Meski di sini lansia-lansia ini lebih sepantaran dengan ibu saya, memang umur saya belum 60, saya 58 tahun, tetapi karena saya mendukung suami saya yang umur 69 tahun, akhirnya kami putuskan untuk ikut bergabung juga di Sekolah Lansia Rumah Bahagia. Pokonya kami berbahagia,” tuturnya.

Momen haru semakin terasa ketika anak dan cucunya datang menyaksikan dirinya diwisuda.

Ia kemudian menceritakan pertanyaan polos dari anak cucunya yang membuat suasana seketika riuh.

“Mereka bertanya, ‘Opung kenapa diwisuda, kapan kuliahnya?’” ujarnya.

Cerita tersebut langsung disambut tepuk tangan para tamu dan peserta wisuda.

“Inilah yang kami rasakan saat belajar di Sekolah Lansia Rumah Bahagia,” katanya.

Bupati Roby: Berkarya Tidak Mengenal Usia

Bupati Bintan Roby Kurniawan mengapresiasi semangat para lansia yang mengikuti program tersebut hingga menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran.

Menurut Roby, wisuda selama ini identik dengan anak muda. Namun, Sekolah Lansia menunjukkan bahwa proses belajar dan berkarya dapat dilakukan pada berbagai tahapan usia.

“Kita tentu turut berbahagia. Kalau biasanya wisuda itu identik dengan anak muda, sekarang yang diwisuda adalah orang tua dan lansia kita,” kata Roby.

Ia mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Lansia Rumah Bahagia Bintan angkatan pertama dan berharap para peserta tetap aktif berkegiatan.

“Berkarya tidak memandang usia. Terus semangat,” ujarnya.

Roby mengatakan, ketika program Sekolah Lansia pertama kali diperkenalkan, masih ada masyarakat yang ragu untuk mengikutinya.

Namun, program tersebut terus berkembang. Hingga kini, lebih dari 300 lansia di Kabupaten Bintan disebut telah mengikuti program Sekolah Lansia dan menjalani prosesi wisuda.

“Kita melihat awalnya ada program sekolah lansia, banyak yang ragu, banyak yang tidak mau ikut. Tapi sampai saat ini sudah ada 300 orang lebih lansia Kabupaten Bintan yang ikut program Sekolah Lansia dan diwisuda, termasuk lansia Sekolah Lansia Rumah Bahagia,” katanya.

Baca Juga :  Masuk 10 Besar Partai Final, Pencak Silat Bintan Optimis Rajai POPDA Kepri X di Karimun

Roby berharap program tersebut dapat memberikan manfaat bagi para lansia sekaligus menjadi ruang untuk menjaga semangat, kesehatan dan kebersamaan.

“Semangat kakek dan nenek semua pasti diapresiasi. Kami mengucapkan selamat, mudah-mudahan bermanfaat,” ujarnya.

Para Lansia fot bersama dengan Bupati Bintan, Ketua Yayasan Rumah Bahagia Bintan dan tamu undangan. F : Channelkepri.com

Tidak Hanya Belajar, Lansia Dilatih Tetap Aktif

Ketua Yayasan Rumah Bahagia Bintan, Fiven Sumanti, mengatakan sebanyak 35 peserta mengikuti wisuda Sekolah Lansia Rumah Bahagia angkatan pertama.

Jumlah tersebut masih di bawah target awal sebanyak 40 peserta. Beberapa lansia tidak dapat melanjutkan pembelajaran karena kondisi kesehatan.

“Alhamdulillah, 35 orang yang diwisuda. Kemarin targetnya 40 orang, tetapi karena ada lansia kita yang sakit sehingga tidak bisa melanjutkan,” kata Fiven.

Ia menjelaskan, Sekolah Lansia Rumah Bahagia terbuka bagi penghuni Rumah Bahagia maupun lansia yang tinggal di lingkungan sekitar.

Materi pembelajaran mengacu pada kurikulum yang disusun Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana (DP2KB) Bintan dan BKKBN, kemudian disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan para peserta.

Pembelajaran tidak hanya berupa kegiatan akademis, tetapi juga mencakup pembinaan kerohanian, olahraga, senam satu jari, membaca Pancasila hingga drama dan lain sebagainya.

Untuk peserta non muslim, pembinaan kerohanian disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing.

“Tujuannya adalah bagaimana motorik lansia itu dapat bergerak dan daya tangkapnya kita asah terus,” jelas Fiven.

Menurutnya, kemampuan para peserta mempraktikkan berbagai kegiatan dalam prosesi wisuda menjadi salah satu gambaran hasil pembelajaran selama mengikuti sekolah lansia.

“Tadi kita sudah saksikan mereka tampil. Akhirnya mereka bisa mengimplementasikan apa yang mereka dapatkan pada saat sekolah,” ujarnya.

Fiven mengatakan, pihaknya kini juga tengah menjajaki program pesantren lansia. Program tersebut diharapkan dapat menjaga semangat para peserta untuk terus belajar dan berkegiatan setelah menyelesaikan Sekolah Lansia.

Ia mencontohkan kegiatan rutin setiap Jumat yang diisi dengan zikir bersama, selawat, ceramah dan doa bersama. Kegiatan tersebut dinilai mendapat antusiasme cukup tinggi dari para lansia.

Baca Juga :  Progres Rehab RTLH di Bintan Capai 70 Persen, Tak Ada Kendala Mendasar

“Kita akan jajaki untuk pesantren. Formulanya supaya pembelajarannya secara terus-menerus dan ringan,” kata Fiven mengakhiri.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi kelanjutan dari semangat para lansia yang selama beberapa bulan terakhir telah aktif mengikuti berbagai kegiatan di Rumah Bahagia Bintan.

Sekilas Tentang Program Sekolah Lansia Bintan  

Program Sekolah Lansia di Kabupaten Bintan merupakan pendidikan nonformal sepanjang hayat yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bintan bersama BKKBN (Kemendukbangga). Program ini dirancang untuk mendorong terwujudnya lansia SMART, yakni Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat, di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Berdasarkan data BKKBN (Kemendukbangga), Kabupaten Bintan saat ini memiliki tujuh kelompok Sekolah Lansia dengan total 336 peserta didik yang tersebar di sejumlah lokasi, termasuk Rumah Bahagia Bintan. Program tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi lansia berusia 60 tahun ke atas, tetapi juga terbuka bagi pra-lansia berusia 45 hingga 59 tahun.

Pembelajaran di Sekolah Lansia tidak menggunakan pendekatan pendidikan formal. Para peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan rekreatif yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia, mulai dari aktivitas fisik dan pemeriksaan kesehatan, pembinaan keagamaan, pengembangan keterampilan dan hobi, hingga kegiatan yang mendorong interaksi sosial dan pengenalan berbagai program pemerintah.

Pola pembelajaran tersebut dirancang agar para lansia tetap aktif, memiliki ruang untuk bersosialisasi serta menjaga kebugaran dan daya ingat. Setelah menyelesaikan rangkaian pembelajaran, mereka kemudian mengikuti prosesi wisuda lengkap dengan toga sebagai bentuk apresiasi atas semangat belajar di usia senja.

Dengan demikian, wisuda 35 peserta Sekolah Lansia Rumah Bahagia Bintan bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga agar para lansia tetap memiliki ruang untuk belajar, berkegiatan, bersosialisasi dan berkarya tanpa dibatasi usia. (dh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *