Ketika Universitas Berhenti Belajar; Refleksi tentang Learning Trap dalam Tata Kelola Perguruan Tinggi

Kepri, Kolom173 Dilihat

Opini – Film Something the Lord Made, menggambarkan kisah nyata pada awal dekade 1940-an. Seorang teknisi laboratorium bernama Vivien Thomas berdiri di ruang operasi di Johns Hopkins Hospital. Ia bukan dokter. Ia bahkan tidak memiliki gelar sarjana. Namun teknik yang ia kembangkan di laboratorium membantu membuka jalan bagi operasi jantung bayi yang sebelumnya dianggap mustahil.
Ironisnya, selama bertahun-tahun namanya hampir tidak disebut dalam dunia medis. Pengetahuan yang ia hasilkan diakui jauh lebih lambat daripada manfaat yang telah diberikannya bagi dunia kedokteran.

Kisah serupa tergambar dalam tokoh Hunter ‘Patch’ Adams dalam film Patch Adams yang juga diangkat dari kisah nyata. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia meyakini bahwa empati, humor, dan hubungan manusiawi dengan pasien merupakan bagian penting dari proses penyembuhan. Namun pendekatan tersebut justru sering dipandang menyimpang oleh institusi pendidikan yang lebih menekankan disiplin formal dan prosedur klinis yang kaku.

Dua kisah ini berasal dari masa yang berbeda, tetapi keduanya memunculkan pertanyaan yang tetap relevan hingga hari ini: mengapa institusi yang didedikasikan untuk menghasilkan pengetahuan justru kadang kesulitan mengenali pengetahuan baru ketika ia lahir di luar kerangka formalnya? Pertanyaan ini tidak sepenuhnya asing bagi dunia perguruan tinggi.

Kampus sering memposisikan diri sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan. Di ruang-ruang seminar, istilah seperti inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran terus diulang. Namun dalam praktik kelembagaan, sistem pengakuan pengetahuan sering kali masih bertumpu pada legitimasi formal: gelar akademik, hierarki jabatan, dan batas disiplin ilmu yang relatif kaku.

Baca Juga :  Rakor Bareng Tito Karnavian, Roby Kurniawan Gas Pol Amankan Harga Bahan Pokok di Bintan

Akibatnya, pengetahuan yang lahir dari pengalaman praktis, eksperimen lapangan, atau refleksi komunitas sering berada di pinggiran sistem akademik. Padahal dalam tradisi filsafat pengetahuan, sejak lama para pemikir seperti Michael Polanyi mengingatkan bahwa sebagian besar pengetahuan manusia bersifat tacit—tertanam dalam praktik, pengalaman, dan keterampilan yang tidak selalu mudah diformalkan menjadi teori. Banyak inovasi justru lahir dari proses mencoba, gagal, dan mencoba kembali dalam praktik nyata.

Ketika sistem akademik terlalu menekankan legitimasi formal, ada risiko bahwa jenis pengetahuan semacam ini tidak mendapatkan ruang yang memadai. Dalam literatur organisasi, situasi semacam ini sering disebut sebagai learning trap: keadaan ketika sebuah institusi sibuk mengajarkan pembelajaran kepada orang lain, tetapi gagal belajar sebagai organisasi.

Perguruan tinggi sesungguhnya tidak kekurangan orang cerdas. Para akademisi dilatih untuk berpikir kritis, menganalisis masalah, dan mengembangkan gagasan baru. Namun kemampuan individual tersebut tidak selalu otomatis menjelma menjadi kemampuan belajar institusional.
Masalahnya bukan semata pada individu akademisi, melainkan pada cara sistem tata kelola universitas mendefinisikan legitimasi pengetahuan.

Baca Juga :  Bukan Ngabuburit Biasa! Gubernur Ansar 'Nyemplung' Bersihkan Sampah Laut di Depan Balai Adat Penyengat

Jika hanya pengetahuan yang lahir dari jalur formal yang dianggap sah, organisasi secara tidak sadar sedang mempersempit sumber pembelajaran yang tersedia bagi dirinya sendiri.
Sejarah pengetahuan justru sering menunjukkan bahwa gagasan baru tidak selalu lahir dari pusat institusi. Ia kerap muncul dari apa yang oleh sebagian orang dianggap sebagai “pinggiran”: dari teknisi laboratorium yang bereksperimen di balik layar, dari praktisi yang mencoba pendekatan baru di lapangan, atau dari komunitas yang menemukan cara-cara kreatif untuk memecahkan persoalan sehari-hari.

Ketika universitas mampu belajar dari sumber-sumber pengetahuan semacam ini, ia memperkaya dirinya sendiri. Tetapi ketika institusi terlalu sibuk mempertahankan batas formal tentang siapa yang berhak menghasilkan pengetahuan, ia berisiko kehilangan salah satu kekuatan terbesarnya: kemampuan untuk terus belajar dari dunia yang terus berubah.

Di sinilah gagasan kampus sebagai organisasi pembelajar menjadi penting. Universitas tidak hanya bertugas mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga harus terus belajar dari perubahan sosial, teknologi, dan praktik di masyarakat.

Dalam perspektif tata kelola modern, kemampuan institusi untuk terus belajar inilah yang sering disebut sebagai kapasitas adaptif. Universitas yang adaptif tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga memiliki keberanian untuk menafsirkan ulang pengetahuan yang ada ketika berhadapan dengan realitas baru. Sebaliknya, universitas yang terlalu nyaman dengan struktur lama berisiko berubah menjadi institusi yang rajin mengajar, tetapi enggan belajar.

Baca Juga :  Kunjungi KURMA 2026: Bisa Urus Paspor, Sertifikasi Halal, Hingga Borong Sembako Murah dalam Satu Lokasi

Pada akhirnya, universitas dapat dibayangkan sebagai sebuah rumah pengetahuan. Rumah itu dibangun dengan fondasi tradisi ilmiah yang kuat, tetapi pintunya seharusnya tidak pernah tertutup rapat. Pengetahuan baru sering datang dari arah yang tidak terduga—dari pengalaman praktis, dari eksperimen di lapangan, bahkan dari mereka yang berada di luar struktur akademik formal.
Selama rumah itu tetap terbuka untuk belajar dari berbagai sumber pengetahuan, universitas akan terus hidup dan berkembang.

Namun ketika pintu itu perlahan tertutup oleh keyakinan bahwa pengetahuan hanya sah jika lahir dari dalam temboknya sendiri, universitas berisiko kehilangan salah satu kekuatan terbesarnya: kemampuan untuk terus belajar dari dunia yang berubah.
Kampus yang tidak mau belajar pada akhirnya hanya akan mengajarkan pengetahuan lama kepada dunia yang sudah berubah.

 

Tentang Penulis

Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satya Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *