‎Di Meja Buka Puasa, Polres Lingga dan Insan Pers Menautkan Silaturahmi

Kepri, Lingga, Peristiwa187 Dilihat

Lingga – ‎Langit Singkep perlahan berubah jingga ketika senja Ramadhan tiba, Sabtu (14/3/2026). Di halaman Rumah Kebun, Jalan Batu Kacang, suasana hangat mulai terasa. Kursi-kursi ditata sederhana, hidangan berbuka tersaji, sementara percakapan pelan mengalir di antara para tamu yang hadir.

‎Di tempat itulah jajaran Kepolisian Resor Lingga menggelar buka puasa bersama tokoh agama dan insan pers Kabupaten Lingga. Tidak ada jarak yang terasa di ruangan itu. Seragam polisi, pakaian tokoh agama, dan para jurnalis dengan kamera yang menggantung di leher tampak berbaur dalam suasana yang akrab.

‎Bagi sebagian orang, pertemuan itu mungkin terlihat sebagai agenda seremonial. Namun bagi mereka yang hadir, momen tersebut terasa lebih dari sekadar jamuan berbuka. Ia menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan yang selama ini terjalin antara kepolisian dan media.

‎Kapolres Lingga Pahala Martua Nababan yang hadir bersama jajaran pejabat utama Polres Lingga menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan selalu menjadi waktu yang tepat untuk merawat silaturahmi.

‎Menurutnya, insan pers memiliki peran penting sebagai mitra kepolisian dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Melalui pemberitaan yang jernih dan berimbang, media menjadi jembatan yang menghubungkan institusi kepolisian dengan publik.

‎Di beberapa sudut , para wartawan terlihat berbincang santai dengan para perwira kepolisian. Ada yang bertukar cerita tentang dinamika daerah, ada pula yang sekadar berbagi pengalaman liputan. Percakapan yang biasanya terjadi di ruang konferensi pers kini terasa lebih cair dalam suasana Ramadhan.

‎Kebersamaan itu semakin khidmat ketika tausiyah singkat disampaikan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Lingga, Ustadz H. Ilhamuddin. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan adalah perjalanan spiritual yang sarat makna.

‎Ia menjelaskan bahwa sepuluh hari pertama Ramadhan dipenuhi rahmat, sepuluh hari kedua menjadi waktu memohon ampunan, sementara sepuluh hari terakhir merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk memperoleh pembebasan dari siksa api neraka.

‎Selain itu, ia juga menyinggung tradisi tujuh likur yang hidup dalam budaya masyarakat Melayu—ketika lampu-lampu dan gapura dihias sebagai simbol harapan akan ampunan di penghujung Ramadhan.

‎Menjelang waktu berbuka, suasana menjadi lebih hening. Doa dipanjatkan bersama. Ketika azan magrib berkumandang, hadirin pun memulai berbuka dengan kurma dan minuman hangat.

‎Di meja yang sama, polisi dan jurnalis kembali berbincang, kali ini ditemani hidangan berbuka dan tawa yang sesekali pecah. Momen sederhana itu seakan menegaskan bahwa hubungan antara kepolisian dan insan pers bukan sekadar relasi kerja.

‎Ia tumbuh dari komunikasi, kepercayaan, dan silaturahmi yang terus dijaga.

‎Dan di senja Ramadhan itu, di meja buka puasa yang sederhana, kebersamaan itu kembali menemukan maknanya. Polisi dan insan pers tidak hanya berbagi hidangan, tetapi juga menautkan kembali ikatan yang sama: menjaga ketertiban, menyampaikan kebenaran, dan merawat harmoni di tengah masyarakat Kabupaten Lingga. ‎(Adhe Bakong)

Baca Juga :  Dermaga Apung Modern Jagoh Diresmikan! Gubernur Ansar: Konektivitas Laut Adalah Urat Nadi Kepri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *