Bintan – Terik matahari di objek wisata Gurun Pasir dan Telaga Biru, Desa Busung, Minggu (31/5/2026) kemarin, terasa berbeda. Ada aroma gurih kuah kari dan wangi serundeng ikan yang pekat menembus angin pesisir Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan.
Hari itu, ribuan pasang mata saksi kemeriahan “Pesta Ketupat” perdana yang ditaja oleh Pemerintah Desa Busung.
Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 3.500 ketupat disiapkan gratis untuk memanjakan lidah para pengunjung. Baik wisatawan lokal, maupun mancanegara, cukup menukarkan kupon yang mereka dapatkan di pintu masuk untuk menikmati hidangan khas melayu ini.
Ketupat-ketupat jalinan jemari ibu-ibu PKK Desa Busung itu disajikan hangat. Di atas piring, ketupat disiram kuah kari kental, ditaburi serundeng ikan, lalu disandingkan dengan opor ikan tongkol serta rendang kerang kupang yang menggugah selera. Sungguh perpaduan rasa yang mewah di tengah lanskap gurun yang magis.
Uniknya, pengunjung tidak hanya disuguhkan ketupat berbentuk jajaran genjang biasa. Diatas meja di depan panggung utama, mata wisatawan dimanjakan dengan pameran kreasi bentuk ketupat yang tak biasa; mulai dari ketupat berbentuk masjid, kepiting, segitiga, kambing, hingga bentuk burung.

Berpacu dengan Waktu Dua Menit
Keriuhan memuncak usai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Bintan, Firman Setyawan, resmi membuka acara. Tepuk tangan riuh pecah ketika lomba menganyam ketupat dimulai.
Tantangannya tidak main-main. Sebanyak 11 peserta di babak pertama dituntut merajut tiga buah ketupat kokoh hanya dalam durasi waktu dua menit. Jari-jemari mereka menari lincah, berpacu dengan waktu, bertaruh pada ketelitian dan kerapian helai daun kelapa muda atau janur. Tidak hanya warga lokal, beberapa pengunjung wisata pun ditantang dadakan untuk ikut larut dalam keseruan ini.
Tak ketinggalan, Kepala Dinas PMD Bintan Firman Setyawan dan Ketua LAM Bintan Dato’ Syahri Bobo dan Kepala Kecamatan Seri Kuala Lobam, Nona Yani Manupasa juga didaulat panitia untuk ikut lomba mengayam ketupat.
Selain lomba menganyam ketupat, anak-anak sekolah dasar hingga tingkat SMA se-Kecamatan Seri Kuala Lobam, juga dilibatkan dalam perlombaan membaca Gurindam 12 karya sastra legendaris Raja Ali Haji.
“Melalui Gurindam 12, kita mencoba membangkitkan kembali jiwa kepahlawanan anak-anak kita. Kita ingin syair-syair sarat makna ini melekat di pemikiran mereka dan menjadi suri teladan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Kepala Desa Busung, Rusli, dengan mata berbinar.
Lahir dari Obrolan Kedai Kopi
Siapa sangka, acara besar yang mampu menyedot perhatian ribuan wisatawan ini lahir dari tempat yang sederhana. Kades Busung, Rusli, membeberkan bahwa ide Pesta Ketupat ini berawal dari obrolan santai di kedai kopi.
“Kami berpikir, Desa Busung harus terus melahirkan inovasi baru. Setelah sukses menggelar Pesta Gonggong menyambut tahun baru 2026 lalu, kini kami gagas Pesta Ketupat. Alhamdulillah, didorong oleh tokoh masyarakat dan agama, acara ini sukses terlaksana,” ungkap Rusli.
Bagi Rusli, Pesta Ketupat bukan sekadar bagi-bagi makanan gratis. Ini adalah bentuk rasa syukur atas rezeki yang Allah SWT limpahkan melalui alam Desa Busung, sekaligus strategi memutar roda ekonomi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) setempat.
“Kata orang tua, apa yang kita bagi akan mendatangkan manfaat di akhirat. Kami pastikan, kegiatan ini resmi kami tetapkan menjadi agenda tahunan Desa Busung,” tegasnya mengakhiri sambutan.
Dukungan penuh pun mengalir dari pihak kabupaten. Kepala Dinas PMD Bintan, Firman Setyawan, menjelaskan bahwa 100 persen anggaran kegiatan ini disokong oleh APBDes Busung. Namun ke depan, pihaknya akan mendorong Dinas Pariwisata untuk ikut menggandeng agenda ini.
“Harapan kami, jika awal tahun kemarin turis dari kawasan Lagoi bisa kita bawa ke Festival Gonggong, maka di pertengahan tahun, para turis asing itu juga harus dibawa ke Pesta Ketupat Desa Busung ini,” harap Firman.
Firman juga menambahkan filosofi mendalam di balik anyaman ketupat. Menurutnya, jalinan janur mengartikan persatuan yang kokoh untuk merajut kebersamaan di Kabupaten Bintan. Sementara isinya yang berupa beras putih bersih melambangkan hati yang kembali suci.
“Ibarat seputih beras, kita semua harus bergandengan tangan, buang rasa iri, dengki, dan dendam masa lalu untuk kemajuan daerah,” tambahnya.

Pujian dari Wisatawan
Kesan mendalam dirasakan oleh Jenny,Kelly dan Sherin, rombongan wisatawan asal Kota Batam. Sembari memegang kotak berisi ketupat gratis mereka, ketiganya tak henti mengagumi keindahan panorama Gurun Pasir Telaga Biru.
“Suasananya luar biasa meriah. Panas teriknya sama, seakan-akan kami sedang berada di gurun pasir yang sebenarnya, selain itu, banyak sekali spot foto bagus di sini ditambah ada makan ketupat gratis pula,” ujar Kelly mewakili teman-temannya penuh tawa.
Pesta Ketupat perdana ini sukses memberi warna baru bagi pariwisata Bintan. Sebuah bukti, bahwa dengan balutan tradisi, seutas daun kelapa dan sepiring kuah kari mampu menyatukan ribuan kepala di atas hamparan pasir putih yang memukau. (Tim)











