Sosialisasi KEN di UMRAH, DEN Nilai Kepri Strategis Jadi Lokasi Penyimpanan Cadangan Energi Nasional

Tanjungpinang — Dewan Energi Nasional (DEN) menilai Kepulauan Riau memiliki potensi strategis untuk mendukung penguatan cadangan energi nasional, terutama melalui pengembangan fasilitas penyimpanan atau storage energi.

Hal itu disampaikan Anggota Pemangku Kepentingan DEN, Dr. Mohammad Kholid Syeirazi, saat menjadi narasumber dalam sosialisasi kebijakan energi di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Rabu (30/9/2026).

banner 728x90

Kegiatan mengangkat tema “Penguatan Cadangan Penyangga Energi Nasional dalam Kerangka Pelaksanaan Kebijakan Energi Nasional”.

Sosialisasi tersebut bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi, sekaligus mendorong keterlibatan lembaga penelitian, pemerintah daerah dan komunitas akademik dalam implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Dalam PP 40/2025, pengelolaan cadangan energi nasional mencakup Cadangan Strategis, Cadangan Penyangga Energi (CPE), dan Cadangan Operasional. CPE disediakan pemerintah untuk menjamin keamanan pasokan dan ketahanan energi nasional, termasuk menghadapi kondisi krisis dan darurat energi.

Kholid mengatakan sosialisasi di lingkungan perguruan tinggi penting untuk memperkenalkan arah baru kebijakan energi nasional kepada kalangan akademisi dan mahasiswa.

“Kita diminta mensosilisasikan PP KEN No. 40 tahun 2025 itu, ke akademi (kampus-kampus) mahasiswa, sehingga dipahami apa paradigma baru pengelolaan energi nasional, target-target dan sasarannya kemudian bauran yang dinginkan, sehingga nanti aspek kedaulatan dan ketahanan itu bisa menjadi roadmap untuk pengembangan energi nasional,” katanya.

DEN Soroti Ketergantungan Impor Energi

Kholid juga menyampaikan kondisi ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Menurut dia, Indonesia memiliki sumber daya energi domestik yang relatif besar, terutama batu bara yang selama ini mendukung pasokan listrik nasional.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, Juleha Bintan Edukasi Panitia Kurban Terkait Standar SKKNI dan Daging ASUH

“Dari sisi indeks KEN kita saat ini (IKE) kita ini baru 7,13 jadi relatif kuat saja, Indonesia ini negara kedua tahan goncangan energi ketika situasi geo politik terjadi, karena kita punya sumber daya energi yang melimpah, kita punya batu bara sendiri, sehingga listrik tidak terganggu andaikata terjadi krisis pada kelangkaan pasokan, listrik tetap menyala, karena sumbernya dari domestik,” ujarnya.

Namun, ketergantungan terhadap impor masih menjadi perhatian, khususnya untuk kebutuhan bahan bakar minyak dan LPG.

“Tetapi dari sisi BBM memang ada goncangan, BBM Itu sekitar 35 persen kita impor, kemudian LPG juga 48 persennya juga impor, saya kira agenda pertama ini adalah pemenuhan energi itu jangan tergantung dari impor, swasembada yang kita punya, kita olah untuk kebutuhan kita sendiri,” katanya.

Data yang disampaikan Kholid mengenai kondisi ketahanan energi juga mendapat perhatian dalam sosialisasi tersebut. Sebelumnya, DEN menyebut indeks ketahanan energi Indonesia berada pada skor 7,13 atau kategori tahan.

Kepri Berpotensi Jadi Lokasi Storage Energi

Kholid mengatakan posisi geografis Kepri yang berada di jalur strategis serta memiliki banyak wilayah kepulauan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan fasilitas penyimpanan energi.

“Kita berharap Kepri banyak membangun ruang untuk membangun storage (penyimpanan), jadi cadangan penyangga energi itu kita harus memanfaatkan storage atau membangun storage-storage yang baru,” ujarnya.

Menurutnya, fasilitas penyimpanan tersebut dapat digunakan untuk menampung BBM maupun crude oil yang diperuntukkan sebagai cadangan penyangga di luar kebutuhan operasional harian.

“Jadi storage baru itu bisa menyimpan BBM yang ada atau crude oil di luar cadangan operasional.”

Baca Juga :  Kucurkan Rp1,1 Miliar, Pemkab Bintan Targetkan Bedah Rumah Tak Layak Huni di Tambelan

Ia juga menyinggung fasilitas penyimpanan milik Pertamina di Tanjung Uban yang dinilai dapat menjadi salah satu bagian dari penguatan cadangan energi apabila memenuhi ketentuan dan dapat dimanfaatkan pemerintah.

“Jika Pertamina Tanjung Uban kalau mereka punya storage yang bisa dimanfaatkan untuk cadangan energi, kita akan dorong itu akan disewa oleh pemerintah.”

Kholid menjelaskan, cadangan tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan konsumsi harian. Cadangan penyangga disiapkan untuk digunakan ketika terjadi kondisi krisis atau gangguan pasokan energi.

“Jadi minyak-minyak yang ada itu tidak semuanya untuk konsumsi harian tapi digunakan untuk penyangga yang dirilis atau dilepas saat terjadi krisis. Saya kira potensi Kepri sangat besar karena Kepri banyak pulau-pulau kecil yang bisa digunakan untuk storage. Storage ini penting.” paparnya.

Konsep tersebut sejalan dengan PP 40/2025 yang menempatkan Cadangan Penyangga Energi sebagai cadangan di luar cadangan operasional dan digunakan untuk mengatasi kondisi krisis dan darurat energi.

UMRAH Dorong Pemanfaatan Energi Terbarukan

Sementara itu, Rektor UMRAH Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti mengatakan perguruan tinggi juga memiliki peran dalam mendukung kebijakan energi nasional, termasuk melalui pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Di lingkungan kampus, UMRAH telah mulai memanfaatkan energi surya melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah titik.

Rektor mengatakan pemanfaatan energi terbarukan perlu terus dikembangkan, tidak hanya di perguruan tinggi tetapi juga di lingkungan masyarakat, termasuk perkantoran dan sekolah.

Ia menilai kebutuhan energi akan semakin besar seiring perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“ini sangat penting sekali kita pahami, apalagi di era AI, yang sangat rakus sekali mengkonsumsi energi, bukan hanya energi tetapi juga air untuk mendinginkan mesinnya itu.”

Baca Juga :  Prodi Pendidikan Kimia UMRAH Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Mutu dan Daya Saing Akademik

Rektor juga menyinggung rencana pembangunan pusat data (data center) di Batam yang akan membutuhkan pasokan energi dan air dalam jumlah besar.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya efisiensi sekaligus pengembangan sumber energi baru terbarukan.

Ia mencontohkan negara Prancis yang menurutnya tetap menerapkan penghematan energi meskipun memiliki sumber energi yang besar.

“25 tahun lalu Prancis sudah kreatif, bahkan energi listriknya itu diekspor untuk negara-negara tetangganya, jadi energi yang begitu berlimpah saja mereka tetap melakukan penghematan.”

Karena itu, Rektor mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk membangun kesadaran menggunakan energi secara bijak.

Kata Rektor, UMRAH selanjutnya, juga akan terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan penggunaan teknologi yang tepat untuk mendukung efisiensi energi di lingkungan kampus.

Kegiatan sosialisasi DEN di UMRAH tersebut menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan komunitas akademik untuk membahas arah kebijakan energi nasional sekaligus melihat potensi Kepri dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.

Menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan di bidang energi, yakni Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030 Muhammad Kholid Syeirazi, General Manager Regional 1 SUMBAGUT Pertamina Patra Niaga Fanda Chrismianto, dosen Fakultas Teknik dan Teknologi Kemaritiman (FTTK) UMRAH Basyaruddin Ismail Harahap, serta Kepala Dinas ESDM Provinsi Kepri M. Darwin yang mewakili Pemerintah Provinsi Kepri, dengan acara dipandu Ary Satia Dharma, Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UMRAH, sebagai moderator. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *