Bintan – Upaya penurunan angka stunting dan malnutrisi di Kabupaten Bintan terus diperkuat melalui kolaborasi sektor swasta. PT JAPFA COMFEED melalui program JAPFA for Kids secara resmi memperluas jangkauan intervensi gizinya ke-14 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Teluk Bintan untuk tahun 2026.
Keberlanjutan program ini didasari atas kesuksesan signifikan pada tahun 2025 lalu. VP Head of Social Investment PT JAPFA COMFEED, Artsanti, mengungkapkan bahwa pola pemberian satu telur setiap hari (One Day One Egg) terbukti ampuh memperbaiki status gizi anak.
“Sepanjang Januari hingga Juni 2025, kami memberikan telur setiap hari kepada 2.300 siswa. Hasilnya luar biasa, angka malnutrisi turun hingga 60 persen dalam waktu enam bulan. Tidak hanya telur, kami juga memberikan edukasi gizi seimbang dan PHBS kepada siswa serta orang tua,” ujar Artsanti kepada media didampingi oleh Anwar Tandino, Head of Operation Sumatera PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk di One of Kind Resort Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Minggu malam (22/02).
Target 16 Ribu Siswa di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, JAPFA mematok target yang lebih besar dengan menyasar total 16.000 siswa secara nasional. Khusus di Kabupaten Bintan, fokus perluasan dilakukan di Kecamatan Teluk Bintan setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Kecamatan Toapaya dan Gunung Kijang.
Program ini tidak hanya berhenti pada pemberian makanan tambahan. JAPFA juga akan menggelar JAPFA for Kids Award sebagai ajang evaluasi untuk memastikan sekolah benar-benar memahami dan menerapkan pola hidup sehat yang telah diajarkan.
“Kami ingin melihat apakah sekolah-sekolah ini ‘mudeng’ atau paham dengan edukasi yang diberikan. Maka kami adakan lomba-lomba sebagai bentuk apresiasi dan pemantauan,” tambah Artsanti.
Intervensi Intensif Selama 6 Bulan
Pelaksanaan program di Teluk Bintan akan berlangsung selama enam bulan dengan pendampingan intensif dari dua fasilitator khusus di setiap sekolah.
Terdapat lima komponen utama dalam program ini, mulai dari pemeriksaan status gizi (BB/TB) di awal dan akhir program, pemberian telur setiap hari bagi siswa bergizi kurang, hingga edukasi khusus bagi orang tua mengenai pentingnya bekal sehat dari rumah.
“Data kami menunjukkan perbaikan gizi mulai terlihat signifikan setelah bulan ketiga intervensi. Ini membuktikan bahwa konsistensi dan kolaborasi antara sekolah, puskesmas, dan orang tua adalah kunci utama,” tutup Artsanti.
Selain siswa sekolah dasar, program ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi ibu hamil di sekitar wilayah operasional untuk mencegah risiko stunting sejak dini. (Red)





