Tugu Bahasa Penyengat Segera Terealisasi, Kantor Bahasa Kepri: Jangan Sekadar Megah, Harus Punya Roh Filosofis!

Tanjungpinang – Rencana besar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk membangun Tugu Bahasa dan Museum Bahasa di Pulau Penyengat kini mulai memasuki tahap realisasi. Menanggapi hal tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau memberikan apresiasi tinggi sekaligus mengingatkan pentingnya makna filosofis di balik pembangunan fisik tersebut.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepri, Dr. Titik Wijanarti, menegaskan bahwa Pulau Penyengat bukan sekadar situs sejarah biasa, melainkan simpul peradaban tempat akar Bahasa Indonesia berasal.

“Kami sangat menyambut baik dan mengapresiasi rencana Pemprov Kepri. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kepri sebagai wilayah yang kaya dengan peradaban kebahasaan. Namun, kami berharap pembangunan ini tidak hanya bermakna fisik sebagai pemancing wisatawan, tetapi ada makna ideologis, filosofis, dan historis di dalamnya,” ujar Dr. Titik saat ditemui di kawasan Jalan Ahmad Yani, Tanjungpinang, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga :  Prabowo Resmikan 1.072 SPPG Polri Sekaligus! 18 Gudang Pangan Berdiri, 107 Titik Baru Siap Dibangun

Tantangan Geografis dan Arus Bahasa Asing

Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Dr. Titik mengakui bahwa Kepulauan Riau memiliki tantangan unik dalam menjaga kemurnian bahasa negara. Kedekatan geografis membuat bahasa asing lebih mudah masuk dan memengaruhi pola komunikasi masyarakat.

Meski demikian, ia menilai kondisi kebahasaan di Kepri saat ini masih dalam kategori aman dan kondusif. Penggunaan Bahasa Indonesia di ruang publik pun terpantau cukup baik.

“Kita tidak boleh terlena. Kewaspadaan harus tetap dijaga melalui pendampingan agar masyarakat memiliki sikap positif terhadap Bahasa Indonesia. Kami terus mendorong slogan Trigatra Bangun Bahasa: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing,” jelasnya.

Baca Juga :  Resmikan Masjid Lanud Hang Nadim Bareng Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur Ansar: Masjid Adalah Benteng Akhlak

Lebih lanjut Dr. Titik menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu memiliki ruang penggunaan yang berbeda namun saling menguatkan. Menurutnya, Bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi formal kenegaraan, sementara Bahasa Melayu tetap dipelihara sebagai identitas keluarga dan komunitas.

“Program kami mencakup pelestarian bahasa Melayu, pembinaan Bahasa Indonesia, hingga internasionalisasi melalui program penerjemahan agar bahasa kita dikenal di ranah global,” tambahnya.

Harapan untuk Tugu Bahasa

Mengakhiri keterangannya, Dr. Titik berharap agar konsep sejarah kebahasaan menjadi pondasi utama dalam pembangunan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat. Ia ingin pengunjung yang datang tidak hanya terpukau oleh kemegahan gedung, tetapi juga pulang membawa pemahaman mendalam tentang sejarah lahirnya bahasa pemersatu bangsa.

Baca Juga :  Terbaik di Indonesia! BPR Bintan Raih Bintang 4 dalam Ajang TOP BUMD Awards 2026

“Jangan hanya berfokus pada kemegahan bangunan. Konsep dan filosofi sejarah kebahasaan harus benar-benar diwujudkan melalui gedung yang akan dibangun tersebut,” pungkasnya. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *