Ketika Sebuah Kesempatan Mengetuk Pintu
Evander Louis Liu (13) masih mengingat betul hari ketika gurunya mengumumkan akan ada seleksi catur di SD Negeri 001 Toapaya, Kabupaten Bintan. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas IV.
Meski belum benar-benar bisa bermain catur, Evander langsung tertarik untuk ikut. Ia mengira seleksi tersebut adalah sebuah perlombaan.
Sepulang sekolah, ia mulai mencari tahu cara memainkan catur. Ia mempelajari langkah setiap bidak dan aturan dasarnya sebelum akhirnya mendaftarkan diri.
Belakangan, Evander baru mengetahui bahwa kegiatan itu bukan turnamen, melainkan seleksi untuk mengikuti program pembinaan catur.
“Saya kira itu perlombaan. Jadi saya belajar dulu langkah-langkah catur. Ternyata itu baru seleksi,” kenangnya.
Saat itu Evander tidak pernah membayangkan keputusannya mengikuti seleksi catur akan membawanya mewakili Kabupaten Bintan hingga tingkat nasional.
Di sekolah, Evander dikenal sebagai siswa yang tekun belajar. Kemampuan matematikanya menonjol dibanding teman-teman sekelasnya. Hampir setiap semester namanya berada di jajaran tiga besar dan ia kerap membantu teman yang mengalami kesulitan memahami pelajaran.

Kemampuan berpikir logis itulah yang membuat guru merekomendasikannya mengikuti seleksi catur.
Tak ada target menjadi juara. Bagi Evander, mengikuti seleksi saat itu hanyalah pengalaman baru yang ingin ia coba.
Di rumah, kedua orang tuanya, Novita Lifen dan Herniyadi, juga tidak pernah membayangkan putra mereka akan menekuni olahraga catur. Mereka tidak pernah secara khusus mengajarkan permainan tersebut sejak kecil.
“Kami tidak menyangka dia bisa sampai Bogor. Awalnya dia hanya ikut seleksi di sekolah,” ujar Novita.
Program JAPFA Chess for Kids memberi kesempatan kepada sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk menjaring siswa yang memiliki potensi dan membinanya secara berkelanjutan. Program ini tidak hanya ditujukan bagi anak yang sudah mahir bermain catur, tetapi juga bagi mereka yang memiliki kemauan belajar dan berkembang.
Kesempatan Itu Membuka Jalan
Setelah dinyatakan lolos, Evander baru menyadari bahwa perjalanan sesungguhnya baru dimulai.
Bersama puluhan siswa dari berbagai daerah, ia mengikuti pembinaan catur secara daring dua kali dalam sepekan. Dari pelatihan itu, ia belajar membaca permainan lawan, menyusun strategi, hingga menentukan langkah terbaik dalam pertandingan.
Di luar jadwal latihan, Evander terus berlatih secara mandiri. Ia menonton pertandingan catur di YouTube, mencoba berbagai simulasi melalui aplikasi, lalu mengulang materi yang diberikan pelatih.
“Kalau di rumah biasanya latihan lagi. Kadang lihat YouTube, kadang main di aplikasi catur,” katanya.
Program pembinaan tersebut merupakan bagian dari JAPFA Chess for Kids, yang selama lebih dari dua dekade membina bibit-bibit pecatur muda dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui program ini, peserta tidak hanya dilatih kemampuan bermain catur, tetapi juga didorong untuk mengembangkan potensi diri melalui pembinaan yang berkelanjutan.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan catur dipilih karena dapat dimainkan siapa saja tanpa memandang latar belakang maupun daerah asal.
Menurutnya, olahraga ini tidak hanya melatih kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk karakter, seperti disiplin, kesabaran, dan kemampuan mengambil keputusan.
“Kami ingin memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak Indonesia untuk berkembang melalui catur. Yang kami bangun bukan hanya prestasi, tetapi juga karakter,” ujar Retno.
Bagi siswa di daerah kepulauan seperti Bintan, program ini membuka akses pembinaan yang sebelumnya sulit dijangkau. Melalui pelatihan daring, peserta dapat belajar langsung dari para pelatih dan mengikuti proses pembinaan bersama siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Prestasi yang Menginspirasi
Perubahan mulai terlihat setelah Evander mengikuti pembinaan catur.
Di sekolah, ia tetap dikenal sebagai siswa yang rajin belajar dan rendah hati. Prestasi di bidang catur tidak membuatnya mengabaikan pelajaran. Ia masih aktif membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan di kelas.
Guru pendamping Evander, Agus Suharman, menilai kemampuan berpikir logis yang dimilikinya semakin berkembang setelah mengikuti pembinaan.
“Prestasi akademiknya tetap baik meski aktif mengikuti pembinaan catur,” ujar guru pendampingnya.
Menurut sang guru, keberhasilan Evander juga membawa dampak bagi lingkungan sekolah. Kini semakin banyak siswa yang tertarik mengikuti kegiatan catur karena melihat adanya kesempatan untuk berkembang hingga tingkat nasional.
“Anak-anak jadi lebih termotivasi. Mereka melihat ada jenjang pembinaan yang jelas dan merasa memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi,” katanya.
Di rumah, dukungan keluarga tidak pernah berubah.
Orang tua Evander memilih mendampingi tanpa memberi tekanan. Mereka hanya ingin putranya menikmati proses belajar sekaligus tetap mengutamakan pendidikan.
“Kami hanya mendukung apa yang dia sukai. Yang penting dia tetap semangat belajar dan tidak meninggalkan sekolah,” ujar Novita.
Bagi keluarga, pencapaian Evander bukan hanya soal meraih prestasi, tetapi juga tentang melihat anak mereka tumbuh lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
Dari Bintan Menuju Tingkat Nasional
Berbulan-bulan mengikuti pembinaan akhirnya membawa Evander ke tingkat nasional.
Ia berangkat ke Bogor untuk mengikuti JAPFA Chess Festival 2025 bersama peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi Evander, pengalaman itu menjadi yang pertama. Ia tidak hanya bertanding, tetapi juga bertemu langsung dengan pecatur muda dari berbagai provinsi dan menyaksikan suasana kompetisi nasional yang selama ini hanya ia lihat melalui media.
“Saya senang sekali bisa bertemu grandmaster secara langsung. Sebelumnya hanya melihat lewat internet,” kenangnya.
Selama pertandingan, Evander berusaha menerapkan strategi yang dipelajarinya selama mengikuti pembinaan.
Usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil meraih Juara III Nasional, sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Bintan.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga, sekolah, dan daerah asalnya. Namun bagi Evander, pencapaian itu bukan akhir perjalanan.
“Saya ingin terus belajar supaya nanti bisa menjadi pecatur yang lebih baik,” katanya.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan tujuan utama JAPFA Chess for Kids bukan semata-mata melahirkan juara. Program ini dirancang untuk membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir, membangun karakter, dan memiliki kepercayaan diri melalui olahraga catur.
“Melalui pembinaan yang berkelanjutan, JAPFA ingin membuka akses bagi anak-anak dari berbagai daerah agar memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi mereka,” katanya.
Kisah Evander menjadi salah satu contoh bahwa pembinaan yang konsisten, dukungan keluarga, sekolah, dan kesempatan yang tepat dapat membantu anak mengembangkan bakatnya.
Hari ini, papan catur masih menjadi bagian dari keseharian Evander.
Ia masih terus berlatih dan belajar meningkatkan kemampuannya.
Sementara di SD Negeri 001 Toapaya, kisahnya menjadi inspirasi bagi teman-teman yang kini mulai mengenal olahraga catur dan berani mencoba kesempatan yang sama.






