Tanjungpinang – Bagi Athaya Maheswari Jumhur, mengikuti ajang Miss Indonesia 2026 bukan sekadar kesempatan untuk berdiri di panggung kecantikan nasional. Ia melihatnya sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan tentang pendidikan, literasi, pemberdayaan perempuan, hingga kekayaan sejarah dan budaya Kepulauan Riau.
Perempuan kelahiran Tanjungpinang, 8 Desember 2003, anak dari pasangan AKBP Arbaridi Jumhur dan Dina Ratna ini menjadi finalis yang mewakili Provinsi Kepulauan Riau dalam ajang Miss Indonesia 2026. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman baru bagi Athaya, yang selama ini lebih banyak menekuni dunia pendidikan dan sejarah.
Athaya merupakan mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair). Ketertarikannya pada sejarah dan literasi membentuk cara pandangnya terhadap identitas, kebudayaan, serta peran generasi muda dalam membangun masa depan.
Ia juga pernah mengikuti program short course di Universitas Utrecht, Harvard University, dan University of Pennsylvania. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademiknya untuk memperluas wawasan dan mengembangkan diri.
Keikutsertaannya dalam Miss Indonesia 2026 berawal dari keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pada Desember, dengan dukungan orang tua dan orang-orang terdekat, Athaya memutuskan untuk mencoba mengikuti ajang tersebut.
Ia kemudian menjalani audisi pada Mei. Setelah itu, persiapan dilakukan melalui kelas catwalk dan public speaking bersama mentornya, Badik Choirudin dan Erinda Wulansari.
Perjalanan itu mengantarkannya hingga malam final pada 16 Oktober 2026, ketika ia tampil sebagai finalis yang membawa nama Kepulauan Riau.
“Saya mengikuti ajang Miss Indonesia karena ingin menunjukkan jika wanita dari latar belakang berbeda-beda bisa bersinar dengan caranya masing-masing,” ujar Athaya, saat dikonfirmasi via What App, Senin (19/10/2026).
Membawa Identitas Kepulauan Riau ke Panggung Nasional
Hubungan Athaya dengan Kepulauan Riau bukan hanya karena ia lahir di Tanjungpinang. Daerah ini juga merupakan tanah asal ibunya, sementara sang ayah pernah berdinas di Kepri selama 10 tahun.
Latar belakang tersebut membuat Kepulauan Riau memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Bagi Athaya, daerah ini menyimpan kekayaan sejarah yang layak dikenal lebih luas, terutama perannya sebagai kawasan maritim dan ruang pertemuan beragam ras, budaya, serta bahasa.
Ia ingin masyarakat melihat Kepulauan Riau tidak hanya melalui keindahan alam dan destinasi wisatanya, tetapi juga melalui perjalanan sejarah yang membentuk identitas masyarakatnya.
Sebagai mahasiswi Ilmu Sejarah, Athaya memandang sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Sejarah juga dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memahami identitas daerah dan menentukan bagaimana warisan budaya diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Ketertarikan itu turut terlihat ketika ia berbicara mengenai Engku Putri Raja Hamidah, salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Kesultanan Riau-Lingga.
Athaya mengenal Engku Putri sebagai putri Raja Haji Fisabilillah sekaligus permaisuri Sultan Mahmud Syah III. Sosok tersebut dikenal melalui perannya dalam menjaga marwah, adat istiadat, dan kedaulatan Kesultanan Melayu, termasuk mempertahankan regalia atau alat-alat kebesaran kerajaan di tengah tekanan politik kolonial.
“Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, saya melihat sosok beliau bukan hanya sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga sebagai bukti bahwa perempuan telah memiliki peran penting dalam menentukan arah sejarah,” katanya.
Menurut Athaya, terdapat tiga nilai penting yang dapat dipelajari generasi muda dari sosok Engku Putri, yakni keteguhan memegang prinsip, keberanian perempuan mengambil peran, serta kecintaan terhadap budaya dan identitas daerah.
Ia menilai, menjadi generasi muda yang modern tidak berarti harus meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk mempelajari, melestarikan, dan memperkenalkan warisan budaya dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Saya percaya, kita tidak harus hidup pada zaman yang sama dengan Engku Putri untuk meneruskan semangat beliau. Jika dahulu beliau menjaga marwah dan kedaulatan melalui adat dan keteguhannya, maka generasi muda hari ini dapat meneruskannya melalui pendidikan, literasi sejarah, pelestarian budaya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Memaknai Kecantikan Lewat Karakter dan Pengetahuan
Di tengah popularitas media sosial yang kerap menghadirkan standar kecantikan tertentu, Athaya memiliki pandangan bahwa nilai seorang perempuan tidak seharusnya ditentukan oleh penampilan fisik maupun pengakuan orang lain.
Baginya, kecantikan merupakan perpaduan antara cara seseorang membawa diri, menggunakan ilmu yang dimiliki, dan memberikan dampak bagi orang di sekitarnya.
“Kecantikan fisik mungkin menjadi hal pertama yang dilihat, tetapi karakter, wawasan, dan kepedulianlah yang membuat seseorang benar-benar berarti,” tutur Athaya, perempuan bertubuh semampai dengan tinggi 168 sentimeter dan berat badan 48 kilogram tersebut.
Pandangan itu berangkat dari keyakinannya bahwa setiap perempuan memiliki latar belakang, pengalaman, dan potensi yang berbeda. Karena itu, perempuan muda tidak perlu menjadikan perempuan lain sebagai pesaing untuk membuktikan nilai dirinya.
Sebagai mahasiswa sejarah, Athaya terbiasa mempelajari bagaimana perjalanan hidup dan latar belakang membentuk seseorang. Ia melihat prinsip yang sama berlaku bagi perempuan, yang tidak harus memiliki wajah, bentuk tubuh, maupun perjalanan hidup serupa untuk menjadi berharga.
Menurutnya, kepercayaan diri tumbuh ketika seseorang mengenal dirinya sendiri, terus mengembangkan potensi, dan memahami bahwa nilai dirinya tidak bergantung pada validasi orang lain.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan yang ingin ia sampaikan melalui kesempatan mengikuti Miss Indonesia. Baginya, panggung kecantikan dapat digunakan untuk memperluas percakapan mengenai karakter, pengetahuan, dan kontribusi perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Melalui #AYouth, Mendorong Pendidikan dan Literasi
Selain membawa identitas Kepulauan Riau, Athaya memiliki perhatian terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda, khususnya perempuan di wilayah kepulauan.
Ia menilai pemerataan akses terhadap pendidikan, pengembangan keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Tantangan itu semakin terasa bagi anak-anak dan perempuan muda yang tinggal jauh dari pusat pertumbuhan.
Padahal, Kepulauan Riau memiliki potensi besar di sektor maritim, pariwisata, dan kebudayaan Melayu. Menurut Athaya, potensi tersebut perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Atas dasar itu, ia mengembangkan advokasi bertajuk #AYouth, yang berfokus pada pendidikan, keterampilan, dan literasi.
Melalui advokasi tersebut, Athaya ingin berkontribusi lewat pendampingan belajar, kelas pengembangan keterampilan, serta kegiatan literasi yang membantu anak-anak dan perempuan muda mengenali kemampuan mereka.
Ia berharap upaya tersebut tidak berhenti pada dorongan agar generasi muda berani bermimpi, tetapi juga membantu membuka akses dan memberikan bekal agar mereka dapat mewujudkan cita-citanya.
“Saya ingin mereka tidak hanya memiliki cita-cita, tetapi juga akses dan keberanian untuk mewujudkannya,” katanya.
Bagi Athaya, kecintaan terhadap daerah tidak cukup diwujudkan melalui kebanggaan atas budaya dan identitas lokal. Kecintaan itu juga perlu ditunjukkan melalui keterlibatan dalam membangun masa depan masyarakatnya.
Ia ingin perempuan muda Kepulauan Riau memahami bahwa tempat kelahiran tidak seharusnya membatasi cita-cita maupun kesempatan untuk berkembang.
Pendidikan dan Pengabdian sebagai Langkah Berikutnya
Setelah mengikuti Miss Indonesia 2026, Athaya ingin melanjutkan perjalanan akademik sekaligus memperluas kontribusinya kepada masyarakat.
Ia berencana menyelesaikan studi Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga dan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Belanda.
Di saat yang sama, ia ingin mengembangkan #AYouth menjadi gerakan berkelanjutan agar semakin banyak anak dan perempuan muda memperoleh akses terhadap pendidikan, literasi, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Athaya juga ingin membangun karier yang memungkinkannya terus mengangkat sejarah, budaya, serta identitas maritim Kepulauan Riau kepada masyarakat yang lebih luas.
Baginya, pencapaian pribadi bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia ingin kesempatan yang diperolehnya dapat membuka peluang bagi orang lain untuk berkembang.
“Warisan yang ingin saya tinggalkan bukan sekadar sebuah gelar atau pencapaian pribadi, melainkan kesempatan yang pernah saya bantu buka bagi orang lain,” ujarnya.
Ia berharap suatu hari nanti dirinya tidak hanya diingat sebagai perempuan yang pernah mengikuti ajang kecantikan, tetapi juga sebagai seseorang yang menggunakan kesempatan tersebut untuk mendorong perempuan lain agar lebih berani bermimpi, percaya diri, dan berdaya.
Bagi Athaya, keberhasilan seorang perempuan tidak berhenti ketika ia berhasil berdiri di panggung besar. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari kemampuannya memanfaatkan kesempatan untuk membuka jalan bagi orang lain. (dh)







