Ribuan Warga Pulau Dendun Hanya Andalkan Satu Sumur untuk Air Minum, Musim Kemarau Makin Sulit

Bintan – Keterbatasan sumber air tawar masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat Desa Dendun, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan.

Di pulau yang dihuni sekitar 1.200 jiwa atau 362 kepala keluarga tersebut, warga harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan minum sehari-hari. Dari sekitar 25 sumur yang tersedia, hanya satu sumur yang airnya masih layak dikonsumsi.

banner 728x90

Kepala Desa Dendun, Eva Riana, mengatakan sebagian besar sumur warga telah mengalami perubahan kualitas air. Ada yang terasa asin, berkarat, hingga berminyak.

“Di desa ini terdapat 25 buah sumur, namun hanya ada satu buah sumur saja yang airnya bisa dikonsumsi oleh warga, karena air 24 sumur lainnya ada yang asin dan berkarat,” ujar Eva, Rabu (19/08/2026).

Kondisi tersebut semakin berat ketika musim kemarau. Debit air dari satu-satunya sumur yang dapat digunakan untuk konsumsi warga semakin sedikit.

“Di saat musim kemarau ini lebih dahsyat lagi, karena air yang dihasilkan hanya setengah gelas saja,” katanya.

Akibat keterbatasan tersebut, warga terpaksa menghemat penggunaan air untuk kebutuhan minum. Sebagian masyarakat bahkan harus membeli air galon dari Tanjungpinang.

Air Sumur Bor Tak Bisa untuk Minum

Upaya memenuhi kebutuhan air warga sebenarnya telah dilakukan dengan adanya sumur bor yang dibantu Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV Batam.

Namun, keberadaan sumur bor tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Desa Dendun. Ketersediaan airnya diperkirakan hanya mampu memenuhi sekitar seperempat dari jumlah warga.

Selain terbatas, air dari sumur bor juga tidak dapat digunakan sebagai air minum karena masih terasa asin.

Baca Juga :  Bayar PBB Bintan 2026 Kini Lebih Mudah, Pemkab Bintan Siapkan Aplikasi LAPAK BUNGA

“Sumur dari BWS ini juga tidak bisa untuk minum, hanya digunakan mandi dan cuci. Karena airnya asin,” jelas Eva.

Keterbatasan tersebut membuat warga harus mengantre untuk mendapatkan air dari sumur bor. Bahkan, antrean dapat berlangsung hingga 24 jam.

Warga juga dibatasi mendapatkan air sebanyak tiga galon atau jerigen berkapasitas 25 liter setiap harinya.

“Masyarakat harus mengantri untuk mendapatkan air dari sumur bor ini. Mengantri 24 jam, itu pun masyarakat dibatasi hanya bisa mendapatkan tiga galon atau jerigen isi 25 liter setiap harinya,” ungkapnya.

Menurut Eva, dari sekitar 25 sumur yang ada di Desa Dendun, sekitar 15 sumur diketahui menghasilkan air asin. Sebagian lainnya memiliki persoalan kualitas air seperti berkarat.

“Jadi sumur di sini itu kebanyakan asin. Ada 25 sumur, sekitar 15 sumur airnya asin. Ada yang berkarat juga. Jadi dari 25 itu hanya ada satu yang tidak asin, yang layak untuk minum,” katanya.

Untuk air yang masih dapat dimanfaatkan, warga melakukan penyaringan secara tradisional. Namun, air yang sudah asin tidak dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu.

Air Laut Masuk ke Sumber Air Tanah

Eva mengatakan kondisi air asin tersebut dipengaruhi posisi Desa Dendun yang berada di wilayah kepulauan.

“Karena dekat dengan laut dan sumber air tawar itu sudah habis. Jadi air laut itu masuk, apalagi kalau malam air laut pasang,” jelasnya.

Baca Juga :  Lautan Obor Getarkan Malam Takbir di Toapaya, Bupati Roby: Sederhana Namun Penuh Kekhusyukan

Persoalan tersebut bukan baru dirasakan masyarakat. Kondisi air tawar di Desa Dendun disebut telah mengalami perubahan sejak puluhan tahun lalu.

Eva mengatakan, sekitar dua dekade lalu masih terdapat lima sumur yang airnya tidak asin dan dapat digunakan masyarakat untuk minum maupun mandi.

“Sebetulnya puluhan tahun lalu, di bagian bawah ada lima sumur yang tidak asin. Masyarakat bisa mengonsumsinya untuk minum maupun untuk mandi,” tuturnya.

Namun, dalam sekitar 20 tahun terakhir, air dari sumur-sumur tersebut perlahan berubah menjadi asin.

“Belakangan sejak 20 tahun ini, airnya berubah menjadi asin. Mau tidak mau air itulah yang diambil warga untuk mencuci dan mandi, nanti dibilas lagi dengan air yang tawar ini,” katanya.

Memasuki musim kemarau, kondisi tersebut semakin parah karena ketersediaan air tawar semakin terbatas.

Warga Usulkan Pipanisasi Bawah Laut

Pemerintah Desa Dendun mengaku telah berulang kali menyampaikan persoalan air bersih tersebut melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembangunan jaringan pipanisasi bawah laut dari Desa Mantang Baru menuju Desa Dendun.

Menurut Eva, di wilayah Mantang Baru terdapat kolam bekas galian bauksit yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber air untuk dialirkan ke Dendun.

“Kami sudah sering mengusulkan ke pemerintah saat Musrenbang untuk membuat saluran air di bawah laut atau pipanisasi dari Desa Mantang Baru ke Desa Dendun. Di sana ada kolam bekas galian bauksit, jadi airnya bisa dialirkan ke sini, tapi sampai saat ini belum terealisasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Sapa Pemimpin Negara Sahabat, Presiden Prabowo Subianto Sampaikan Ucapan Idulfitri Melalui Sambungan Telepon

Eva memahami bahwa pembangunan jaringan air tersebut membutuhkan proses dan perencanaan.

“Mungkin butuh waktu dan butuh proses, jadi kami harus menunggu,” ucapnya.

Kehidupan Nelayan di Pulau Dendun

Desa Dendun merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan. Pulau ini dihuni masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan.

Untuk mencapai Pulau Dendun, masyarakat maupun pengunjung harus menggunakan transportasi laut. Salah satu akses yang biasa digunakan adalah dari pelabuhan rakyat di Tanjung Moco, Dompak, Tanjungpinang, dengan perjalanan menggunakan pompong atau kapal kecil sekitar 10 hingga 20 menit.

Setibanya di pelantar Pulau Dendun, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki anak tangga kayu menuju permukiman warga. Kapal-kapal nelayan terlihat tertambat di kiri dan kanan pelantar.

Tulisan “Selamat Datang di Desa Dendun” menyambut siapa pun yang tiba di pulau tersebut.

Di dalam permukiman, kehidupan masyarakat pesisir terlihat begitu dekat dengan laut. Rumah-rumah warga berdiri berjejer, sementara hasil tangkapan nelayan seperti ikan dan bilis dijemur di sejumlah sudut permukiman.

Bagi masyarakat Desa Dendun, persoalan air tawar bukan sekadar masalah musim kemarau. Perubahan kualitas sumber air yang berlangsung selama bertahun-tahun membuat warga harus beradaptasi dengan keterbatasan yang ada.

Kini, harapan mereka tertuju pada hadirnya sumber air yang lebih layak dan berkelanjutan, agar kebutuhan paling dasar tersebut tidak lagi harus dipenuhi dengan mengantre, berhemat, atau mendatangkan air dari luar pulau. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *