50 Pembatik Bintan Bersertifikat BNSP Didorong Naik Kelas, FGD Bahas Akses Modal dan Indikasi Geografis

Bintan, Kepri, Peristiwa45 Dilihat

Bintan — Upaya mendorong keberlanjutan usaha para pembatik di Kabupaten Bintan terus dilakukan. Rumah Batik Bintan bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 21 Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar Focus Group Discussion (FGD), Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang digelar di Rumah Batik Bintan tersebut menjadi tindak lanjut dari pelatihan membatik dan sertifikasi kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang sebelumnya digelar Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Bintan pada Desember 2025.

banner 728x90

Sebanyak 50 pembatik dari berbagai wilayah di Kabupaten Bintan sebelumnya mengikuti pelatihan tersebut. Sertifikasi kompetensi diharapkan tidak hanya menjadi bukti keterampilan, tetapi juga menjadi modal bagi para pembatik untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional.

FGD kali ini diarahkan untuk membahas bagaimana keterampilan yang telah diperoleh para peserta dapat terus dipraktikkan dan dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

Kabid UMKM DKUPP Kabupaten Bintan, Riawani Elyta, menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah pelatihan selesai.

“Jangan sampai kegiatan berhenti sampai pelatihan saja. Ilmunya harus terus dikembangkan agar tidak hilang,” ujarnya.

Baca Juga :  Siap Saing di Pasar Digital! Bupati Bintan Dorong Sentra Fashion Seri Kuala Lobam Tembus Kancah Nasional

Menurutnya, keterampilan membatik yang telah dimiliki para peserta perlu diikuti dengan ruang untuk praktik, pengembangan produk serta akses terhadap berbagai dukungan yang dapat menunjang keberlangsungan usaha.

Batik Manes Bintan Menuju Indikasi Geografis

Selain membahas keberlanjutan para pembatik, FGD juga menyoroti pengembangan Batik Manes Bintan, termasuk proses pengajuan Indikasi Geografis.

Perwakilan Kanwil Kemenkum Kepri, Bobby Briando, menyampaikan bahwa proses pengajuan Indikasi Geografis Batik Manes Bintan masih berproses di tingkat Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Upaya tersebut sebelumnya juga telah mendapat pendampingan dari Kanwil Kemenkum Kepri. Pada Desember 2025, Kanwil Kemenkum Kepri melakukan pendampingan terhadap Rumah Batik Bintan untuk memastikan kelengkapan administrasi dan teknis sebagai bagian dari persiapan pendaftaran Indikasi Geografis Batik Manes Bintan.

Dalam proses tersebut, sejumlah dokumen dan aspek teknis turut dipersiapkan, termasuk peta wilayah serta penguatan identitas Batik Manes Bintan.

Indikasi Geografis diharapkan dapat memperkuat identitas Batik Manes sebagai produk khas Bintan sekaligus memberikan perlindungan terhadap karakteristik dan reputasi produk yang berasal dari wilayah tersebut.

Baca Juga :  Turnamen Voli Desa Gunung Kijang Cup III Resmi Dibuka, Sekda Bintan: Dongkrak Ekonomi UMKM Lokal

Pembatik Masih Terkendala Alat dan Bahan

Di sisi lain, salah satu persoalan yang mengemuka dalam FGD adalah keterbatasan alat dan bahan membatik.

Kondisi tersebut membuat sebagian alumni pelatihan belum dapat mempraktikkan keterampilan yang telah mereka peroleh secara maksimal.

Karena itu, forum yang melibatkan Rumah Batik Bintan, mahasiswa KKN UMRAH, pemerintah, perbankan dan pemangku kepentingan lainnya tersebut diharapkan mampu membuka jalan bagi pemenuhan kebutuhan para pembatik.

Kepala Desa Ekang Anculai, Zaili Adi, turut menyampaikan dukungan terhadap pengembangan Rumah Batik Bintan. Menurutnya, keberadaan rumah batik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif sekaligus daya tarik wisata berbasis budaya di desa.

Dukungan serupa disampaikan Pelaksana Tugas Camat Teluk Sebong yang mendorong pengembangan ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat melalui sektor batik.

Sementara itu, dari sektor perbankan, BPR Bintan membuka peluang dukungan pembiayaan bagi pelaku UMKM.

Baca Juga :  Jelang Ramadan dan Cap Go Meh, Roby Kurniawan Perkuat Sinergi Forkopimda Jaga Stabilitas Bintan

Fasilitas pinjaman tanpa bunga yang dimiliki BPR Bintan dapat menjadi salah satu alternatif permodalan bagi pelaku usaha, ditambah peluang dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Dari Sertifikasi Menuju Kemandirian Usaha

Kolaborasi Rumah Batik Bintan dan KKN Kelompok 21 UMRAH ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan diskusi, tetapi juga mencari solusi konkret bagi keberlanjutan para pembatik.

Dengan adanya sertifikasi kompetensi, akses permodalan, dukungan pemerintah serta pendampingan pengembangan produk dan perlindungan kekayaan intelektual, para pembatik diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usahanya.

Rumah Batik Bintan juga diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan pembatik dengan berbagai pihak yang memiliki sumber daya dan program pemberdayaan.

Dengan demikian, pelatihan yang telah diberikan kepada 50 pembatik tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

Keterampilan yang diperoleh diharapkan berkembang menjadi produk bernilai ekonomi, membuka peluang usaha dan pada akhirnya mendorong kemandirian para pembatik sekaligus memperkuat identitas batik khas Bintan. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *