Duka Kedua Feri Kusumawati: Dua Bulan Setelah Kehilangan Bayi, Makam Anaknya Dibongkar dan Jasadnya Hilang

Bintan — Sore menjelang petang, suasana di rumah Feri Kusumawati di RT 01/RW 03, Kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur, tampak lengang.

Perempuan 43 tahun itu terlihat linglung. Matanya sembab dan wajahnya tampak pucat, seolah kurang tidur dan istirahat.

banner 728x90

Didampingi anak laki-laki pertamanya, Feri menerima kedatangan tim liputan Channelkepri.com di rumahnya, Minggu (20/9).

Sesekali pandangannya tertuju pada layar telepon genggam. Di sana tersimpan foto anak bungsunya, Almarhum Rafisky Ibrahim.

Duka kehilangan anak yang baru dua bulan dimakamkan itu masih begitu terasa. Terlebih, makam Rafisky kini telah dibongkar dan jasad bayinya tidak lagi ditemukan.

Rafisky merupakan anak laki-laki keempat Feri. Saat meninggal dunia, usianya baru 28 hari.

Bayi itu meninggal setelah menjalani perawatan akibat kelainan jantung. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Rafisky sempat dirawat di RSUD Kijang selama sekitar 15 hari, kemudian menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Batam.

Setelah meninggal, Rafisky dimakamkan di TPU Kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur, tepatnya di kawasan RT 02/RW 03.

Lokasi makam itu tidak jauh dari tempat tinggal Feri, di sekitar Simpang Wacopek. Setiap minggu, Feri menyempatkan diri datang berziarah ke makam anaknya.

Namun, pada Sabtu sore (19/09/2026), kabar mengejutkan datang.

Feri mendapat informasi bahwa makam Rafisky yang baru sekitar dua bulan dimakamkan diduga telah dibongkar.

“Hari Jumat sore saya pergi ziarah ke sana masih rapi, masih biasa. Lalu hari Sabtu sore ada orang yang memberi tahu saya. Dia bertanya, apakah kuburan anak saya yang baru dikubur dua bulan lalu itu. Dia menyuruh saya mengecek ke sana kalau makam anak saya dibongkar,” tutur Feri.

Baca Juga :  BP Bintan Rampungkan Lebih dari 100 Titik Lampu Jalan Tenaga Surya, Anggaran Rp12,5 Miliar

Feri menyuruh keponakannya mengecek ke makam, saat keponakannya kembali ke rumah dan meminta Feri datang ke lokasi.

Saat itu, sejumlah polisi sudah berada di sekitar makam.

Feri pun melihat sendiri kondisi makam anaknya.

Tanah makam tampak telah diacak-acak dan kembali ditimbun.

Namun, setelah salat Isya, makam kembali dibuka untuk memastikan apakah jasad Rafisky masih berada di dalamnya.

Hasil pemeriksaan itu membuat Feri kembali terpukul.

Jasad anaknya tidak ditemukan.

Menurut Feri, papan penopang jenazah yang sebelumnya berjumlah tiga juga tinggal dua. Di sekitar makam ditemukan kapas yang tercecer, yang diduga merupakan bagian dari penutup wajah jenazah.

Bagi Feri, kejadian itu seperti membuka kembali luka yang belum sembuh.

“Saya tidak ikhlas. Jahitan bekas sesar belum sembuh, ditinggal anak, jasad anak saya diambil. Buat apa? Kalau hanya sekadar kain saja yang diambil mungkin saya bisa terima, tapi ini jasadnya juga diambil,” ucap Feri dengan suara bergetar.

Suaminya, kata Feri, bahkan belum mengetahui kejadian tersebut karena masih berada di laut untuk bekerja sebagai nelayan.

Bagi Feri, kehilangan Rafisky bukanlah sesuatu yang mudah.

Proses kelahiran anak bungsunya itu berlangsung penuh perjuangan.

Rafisky lahir dalam kondisi sungsang. Saat itu, air ketuban disebut sudah habis sehingga Feri harus menjalani operasi caesar.

Setelah lahir, Rafisky masih harus menjalani perawatan.

Selama sekitar 15 hari ia dirawat di RSUD Kijang. Setelah itu, perawatan dilanjutkan di rumah sakit di Batam.

Namun, perjuangan tersebut hanya berlangsung selama 28 hari.

Rafisky akhirnya meninggal dunia akibat kelainan pada jantungnya.

Karena itu, ketika ada orang yang mengatakan dirinya masih memiliki anak lain, Feri memahami maksud tersebut.

Baca Juga :  Bupati Bintan Tinjau Jalan Sei Jati, Pastikan Infrastruktur Berkualitas untuk Warga

Namun, bagi Feri, setiap anak memiliki tempatnya sendiri.

“Kata orang enggak usah sedih, masih ada anak lain. Iya memang betul, tapi anak ini lain. Prosesnya susah. Dia lahir sungsang, saat itu air ketuban sudah habis, makanya dioperasi. Dirawat di RSUD Kijang 15 hari, dirawat di rumah sakit Batam juga, karena jantungnya bocor,” ujar Feri.

Kini, selain harus menerima kehilangan anaknya, Feri menghadapi kenyataan bahwa makam tempat Rafisky dimakamkan telah dibongkar dan jasadnya tidak ditemukan.

Makam Rafisky Ibrahim di TPU Kelurahan Gunung Lengkuas, Bintan Timur, yang ditemukan telah dibongkar dan jasadnya tidak lagi berada di dalam makam. F : Channelkepri.com

Makam Sudah Diratakan Kembali

Minggu siang (20/09/2026), tim Channelkepri.com mendatangi TPU Kelurahan Gunung Lengkuas, lokasi makam Rafisky.

Saat didatangi, makam bayi tersebut telah kembali diratakan.

Kelvin, seorang penjual minuman di sekitar lokasi juga membenarkan adanya makam yang sebelumnya dibongkar.

“Semalam ada polisi juga mengecek disini,” ujarnya sembari menunjuk ke dalam makam.

Ketua RT 02/RW 03 Kelurahan Gunung Lengkuas, Budi Purnomo, mengatakan informasi awal mengenai kondisi makam diperoleh dari seorang warga yang bekerja di SPBU KM 20, yang lokasinya berhadapan dengan TPU tersebut.

‘Kami diinfokan dari warga yang bekerja di SPBU KM 20. Dia dapat info awalnya dari seseorang yang mengisi minyak di sana. Dia melihat bekas makam yang dibongkar, jadi saya ditelepon oleh warga dan saya cek ke sana. Ternyata memang dibongkar karena tidak rata di atasnya,” kata Budi.

Setelah memastikan kondisi makam, Budi menghubungi penggali kubur dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Gunung Lengkuas.

Ia kemudian mencari keluarga Rafisky untuk menyampaikan informasi tersebut.

Sekitar pukul 18.00 WIB, kondisi makam kembali diperiksa. Karena permukaannya tidak rata dan terlihat seperti bekas digali, makam kemudian dibuka kembali setelah salat Isya.

Baca Juga :  Jelang HUT RI ke-81, Pemkab Bintan Pastikan Kesiapan Lokasi Upacara di Kijang

Saat diperiksa, jasad bayi tersebut sudah tidak ditemukan.

Budi mengatakan keluarga kemudian diberitahu mengenai kondisi tersebut.

“Orang tua bayi waktu saya bawa langsung pingsan, tidak sadarkan diri. Peristiwa ini juga sudah dilaporkan ke Polsek Bintan Timur,” ujar Budi.

Menurut Budi, kejadian tersebut merupakan yang pertama kali ia ketahui selama sekitar 25 tahun tinggal di lingkungan tersebut.

“Selama 25 tahun terakhir ini baru kejadian pertama kuburan orang digali dan jasadnya hilang,” katanya.

Polisi Lakukan Penyelidikan

Peristiwa pembongkaran makam dan hilangnya jasad bayi tersebut telah dilaporkan ke Polsek Bintan Timur.

Kapolsek Bintan Timur AKP Aang Setiawan melalui Kanit Reskrim Polsek Bintan Timur IPTU Yofi Akbar membenarkan adanya laporan tersebut.

Polisi saat ini melakukan penyelidikan untuk mengungkap pihak yang membongkar makam dan mengetahui keberadaan jasad bayi tersebut.

“kita masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa yang membongkar makam dan membawa jasad bayi tersebut,” katanya.

Sementara bagi Feri, penyelidikan polisi bukan sekadar tentang siapa yang membongkar makam anaknya.

Ia ingin tahu ke mana jasad anaknya pergi.

Dua bulan setelah mengantarkan Rafisky ke tempat peristirahatan terakhir, Feri kini kembali menunggu.

Bukan lagi menunggu anaknya tumbuh besar seperti yang pernah ia bayangkan.

Ia hanya berharap jasad anaknya ditemukan dan dapat kembali dimakamkan dengan layak.

Bagi Feri, kehilangan Rafisky ternyata belum benar-benar selesai.

Ketika ia mulai belajar menerima kepergian anaknya, makam itu justru dibongkar.

Dan kini, ia kembali menghadapi kehilangan untuk kedua kalinya. (tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *