Museum Bahasa di Pulau Penyengat Ditargetkan Rampung 2027, Jadi Penguat Sejarah Melayu

Bintan, Kepri, Peristiwa42 Dilihat

Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mendorong pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga ruang edukasi bagi generasi muda.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan pembangunan museum dan monumen tersebut merupakan salah satu upaya memperkuat kembali posisi sejarah Melayu dalam perkembangan bahasa nasional.

banner 728x90

Hal itu disampaikan Ansar dalam Dialog Kepri Menyapa yang digelar TVRI Kepulauan Riau, Rabu (23/9/2026).

Menurut Ansar, keberadaan bangunan fisik harus diikuti dengan pengembangan konten sejarah dan budaya yang mampu menarik minat generasi muda.

“Simbol-simbolnya sudah kita bangun. Konten-konten monumental itu yang harus kita perkaya, terutama agar generasi muda benar-benar mencintai budayanya sejalan dengan perkembangan teknologi,” ujar Ansar.

Baca Juga :  3.188 Warga Binaan di Kepri Terima Remisi Kemerdekaan, 34 Orang Langsung Bebas

Ia mengatakan penguatan konten tersebut penting agar generasi muda tetap mengenal dan memahami identitas budaya Melayu di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman.

Pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat dijadwalkan mulai melalui peletakan batu pertama bertepatan dengan Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepulauan Riau pada Kamis (24/9/2026).

Ansar menyebut pembangunan tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2027. Jika sesuai jadwal, penyelesaian proyek itu akan berdekatan dengan momentum 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028.

LAM Kepri Dorong Pelestarian Bahasa Melayu

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri Dato’ Seri Setia Utama Raja Al-Hafiz Raja Ismail turut menekankan pentingnya pelestarian bahasa Melayu melalui pendidikan.

Baca Juga :  Dari Gunting Menuju Kesuksesan: Belasan Pemuda Bintan Dilatih Jadi Barberpreneur

Menurutnya, bahasa Melayu memiliki posisi penting dalam sejarah terbentuknya bahasa Indonesia.

“Cikal bakal bahasa nasional kita berasal daripada bahasa Melayu. Karena itu, melalui pendidikan dan muatan lokal, kita melakukan upaya-upaya untuk melestarikan bahasa Melayu,” ujarnya.

Ia mengatakan pelestarian bahasa Melayu perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Pembangunan museum dan monumen bahasa di Pulau Penyengat juga dinilai dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah perkembangan bahasa kepada masyarakat.

Pulau Penyengat sendiri memiliki keterkaitan erat dengan sejarah bahasa dan sastra Melayu, termasuk melalui tokoh Raja Ali Haji dan karya-karyanya.

Baca Juga :  Atasi Macet Bengkong, Pemko Batam Prioritaskan Pelebaran Jembatan Golden Prawn di 2027

Pada 24 September 2026, pembangunan Monumen dan Museum Tugu Bahasa Nasional tersebut resmi dimulai. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura menandai dimulainya pembangunan dengan penekanan sirene.

Dalam kesempatan tersebut, Tito mengatakan museum dan monumen tersebut nantinya dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda mengenai sejarah dan asal-usul bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu.

Keberadaan museum diharapkan tidak hanya memperkuat nilai sejarah Pulau Penyengat, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal perjalanan bahasa Melayu hingga menjadi bagian penting dalam sejarah bahasa Indonesia. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *