Mengorkestrasi Ekosistem Inovasi Kemaritiman Berdampak

Oleh : Ary Satia Dharma

Kolom14 Dilihat

 

Kita sering dengan bangga menyebut Indonesia sebagai negara maritim. Sebutan itu memang beralasan. Laut bukan sekadar ruang yang memisahkan ribuan pulau, tetapi menyimpan pangan, energi, biodiversitas, jalur perdagangan, hingga berbagai peluang ekonomi masa depan.

banner 728x90

Namun ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar seberapa besar kekayaan laut yang kita miliki: seberapa jauh kekayaan tersebut telah kita ubah menjadi pengetahuan, inovasi, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat?

Pertanyaan itu kembali mengusik saya ketika menyimak speech Wakil Ketua Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc pada The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference 2026 tanggal 1 Oktober 2026 kemaren di Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang.

Indonesia disebut memiliki sekitar 320 ribu dosen, 9 ribu peneliti, sekitar satu juta mahasiswa, dan sekitar 6 ribu proyek riset. Namun pada saat yang sama kita berhadapan dengan kebutuhan pembangunan yang sangat besar: sekitar 65 juta UMKM, 29 juta petani, 2,4 juta nelayan, persoalan sampah dan banjir, serta jutaan orang yang membutuhkan pekerjaan. Bahkan sekitar 81 persen potensi bawah laut Indonesia disebut masih belum terpetakan.

Dua sisi ini menarik ditempatkan berdampingan. Di satu sisi, ada begitu banyak orang yang menghasilkan pengetahuan. Di sisi lain, ada begitu banyak persoalan yang membutuhkan pengetahuan untuk diselesaikan. Lalu mengapa keduanya belum juga dapat bertemu?

Ketika Inovasi Berhenti di Tengah Jalan

Prof. Amarulla mengidentifikasi apa yang dikenal sebagai Three Valleys of Death. Ada hasil penelitian yang tidak pernah menjadi prototipe. Ada prototipe yang berhasil dibuat, tetapi tidak menemukan industri atau investor yang membawanya ke pasar. Ada pula produk yang berhasil masuk pasar, tetapi tidak mampu berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Belum Pakai CVT, Apa yang Ditakuti Daihatsu Indonesia?

Beliau menggambarkannya sebagai technological valley, commercialisation valley, dan profitability valley. Yang menarik justru apa yang terjadi di antara lembah-lembah tersebut.

Pada tahap penelitian, pemerintah dan peneliti mungkin memainkan peran utama. Ketika teknologi hendak diproduksi, industri dan investor perlu masuk. Ketika produk hendak diperluas, diperlukan pasar, pembiayaan, regulasi, logistik, dan pengguna.

Masalah dapat muncul ketika satu aktor telah selesai memainkan perannya sementara aktor berikutnya belum masuk. Bayangkan sebuah lomba estafet. Kita dapat memiliki pelari-pelari yang sangat cepat, tetapi keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan setiap pelari. Ada satu momen yang menentukan: ketika tongkat berpindah tangan.

Demikian juga dengan inovasi. Banyak inovasi dapat berhenti bukan karena penelitinya tidak kompeten atau teknologinya buruk, tetapi karena pengetahuan belum tersambung dengan industri, prototipe belum bertemu investor, atau teknologi belum bertemu kebutuhan pengguna. Karena itu, ada satu pernyataan beliau menjadi menarik untuk direnungkan: “What is missing is orchestration.”

Dari Kolaborasi ke Orkestrasi

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan aktor. Kita memiliki pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, industri, investor, perbankan, komunitas, dan masyarakat. Ruang kolaborasi pun semakin berkembang. BRIN menyebut telah memiliki 85 research collaboration centres. Publikasi bersama dengan perguruan tinggi telah mencapai lebih dari 3.000.

Namun banyaknya aktor dan kolaborasi belum otomatis menghasilkan sebuah ekosistem yang bekerja. Di sinilah saya melihat perbedaan penting antara collaboration dan orchestration.

Kolaborasi mempertemukan aktor agar dapat bekerja bersama. Orkestrasi melangkah lebih jauh: bagaimana aktor yang memiliki pengetahuan, sumber daya, kepentingan, dan kemampuan berbeda dapat bergerak menuju nilai yang ingin diciptakan bersama.

Baca Juga :  Tonggak Sejarah Baru: UMRAH Resmikan Kapal Riset Elang Laut 1, Laboratorium Terapung Pertama untuk Perkuat Riset Maritim

Sebuah orkestra tidak menghasilkan harmoni hanya karena berisi musisi-musisi hebat. Setiap pemain dapat sangat ahli memainkan instrumennya. Tetapi mereka tetap membutuhkan keterhubungan, keselarasan, dan pemahaman mengenai kapan masing-masing harus memainkan perannya.

Ekosistem inovasi pun tidak jauh berbeda. Kita dapat memiliki aktor-aktor yang hebat, tetapi belum tentu memiliki ekosistem yang hebat. Di antara keduanya terdapat apa yang dapat kita sebut sebagai orchestration gap: kesenjangan antara kapasitas yang tersebar dengan kemampuan menjadikannya sebagai kekuatan kolektif.

Dalam buku Mengorkestrasi Ekosistem Inovasi Berdampak, saya melihat orkestrasi melalui tiga fungsi sederhana: Connect, Align, dan Mobilize. Connect menghubungkan aktor, pengetahuan, kebutuhan, sumber daya, dan peluang. Align menyelaraskan tujuan, kepentingan, peran, dan ekspektasi. Sedangkan Mobilize menggerakkan kapasitas dan komitmen tersebut menjadi tindakan bersama.

Orkestrasi karena itu bukan berarti menghadirkan satu aktor yang mengendalikan semuanya. Justru tantangannya adalah membuat aktor-aktor yang relatif otonom mampu menciptakan nilai bersama.

Dari Inovasi ke Public Value

Pada akhirnya, inovasi kemaritiman seharusnya tidak dimulai hanya dengan pertanyaan: “Apa yang mampu kita ciptakan?” Pertanyaannya perlu diperluas: “Persoalan apa yang perlu kita selesaikan, untuk siapa, bersama siapa, dan nilai apa yang ingin kita ciptakan?”

Di sinilah peneliti perlu bertemu industri, pemerintah perlu mendengar masyarakat, teknologi perlu bertemu pengguna, dan inovasi perlu menemukan jalan menuju pasar. Namun pasar bukanlah tujuan tunggal. Nilai inovasi juga dapat berupa meningkatnya pendapatan nelayan, berkurangnya kehilangan hasil tangkap, lingkungan pesisir yang lebih sehat, transportasi laut yang lebih aman, atau masyarakat pulau kecil yang memperoleh pelayanan lebih baik.

Baca Juga :  Whiplash : ‘Cambuk’ untuk Generasi Hebat

Dengan demikian, perjalanan inovasi perlu bergerak dari research menuju innovation, dari innovation menuju adoption, dan dari adoption menuju public value. Jika Three Valleys of Death menunjukkan tempat-tempat di mana inovasi sering berhenti, tantangan kita bukan hanya mengisi setiap lembah. Kita perlu membangun jembatan di antara lembah-lembah itu. Jembatan itulah orkestrasi.

Sebab laut yang kaya belum tentu dengan sendirinya membuat masyarakat sejahtera. Riset yang banyak belum tentu menjadi inovasi. Inovasi belum tentu menemukan pengguna. Dan kolaborasi yang ramai belum tentu menghasilkan perubahan. Tantangan kita adalah mengubah kapasitas yang tersebar menjadi kekuatan kolektif yang menciptakan nilai bagi masyarakat.

Barangkali karena itulah kalimat sederhana dari Prof. Amarulla  begitu relevan: “What is missing is orchestration.” Bukan karena kita kekurangan orang-orang hebat, melainkan karena pekerjaan berikutnya adalah membuat kehebatan yang tersebar itu terhubung, selaras, dan bergerak bersama.

 

Tentang Penulis : 

Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satia Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *