Tanjungpinang – Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) memperkuat identitasnya sebagai perguruan tinggi berbasis kemaritiman. Kawasan perairan di sekitar Kampus UMRAH Dompak kini telah memperoleh Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL).
Perolehan KKPRL tersebut menjadi pijakan bagi UMRAH untuk mengembangkan kawasan perairan kampus secara lebih terencana, tidak hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, penelitian, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor UMRAH, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA, mengatakan keberadaan kawasan perairan di lingkungan kampus merupakan keunggulan yang perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan dan penelitian kemaritiman.
“Perolehan KKPRL ini bukan sekadar pencapaian administratif, tetapi merupakan langkah strategis UMRAH untuk semakin menegaskan identitasnya sebagai perguruan tinggi maritim. Laut yang berada di sekitar kampus harus dapat kita hadirkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Agung, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, posisi UMRAH di Kepulauan Riau memberikan keunggulan tersendiri karena wilayah ini memiliki keterkaitan kuat dengan laut secara geografis, historis dan ekonomi.
Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mempelajari kemaritiman melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui aktivitas pembelajaran dan penelitian di lingkungan laut.
Perairan Kampus Disiapkan Jadi Laboratorium Hidup
Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH sekaligus Penanggung Jawab Tim PKKPRL, Dr. Dony Apdillah, S.Pi., M.Si., mengatakan perolehan KKPRL menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola ruang laut yang lebih terencana.
Menurut Dony, KKPRL memberikan kepastian sekaligus tanggung jawab kepada UMRAH dalam mengelola kawasan perairan secara tertib, terukur dan berkelanjutan.
“KKPRL ini memberikan kepastian bagi UMRAH dalam mengembangkan kawasan perairan kampus sesuai dengan ketentuan pemanfaatan ruang laut. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kepastian tersebut kita terjemahkan menjadi tata kelola kawasan yang bertanggung jawab,” jelas Dony.
Ia menegaskan pengelolaan kawasan tidak diarahkan semata-mata untuk pembangunan fasilitas fisik. Kawasan perairan kampus juga diproyeksikan memiliki nilai akademik dan ekologis.
“Ini merupakan kesempatan bagi UMRAH untuk menunjukkan bahwa kampus maritim tidak hanya berbicara tentang pembangunan di laut, tetapi juga tentang bagaimana ruang laut dikelola dengan pengetahuan, teknologi, tata kelola, dan tanggung jawab lingkungan,” ujarnya.
Pengembangan kawasan akan memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari kondisi ekologis, sosial dan ekonomi, keselamatan hingga kepentingan akademik.
Dermaga Biru Disiapkan untuk Riset dan Pendidikan Bahari
UMRAH selanjutnya menyiapkan konsep Dermaga Biru – Zona Riset dan Pendidikan Bahari sebagai bagian dari pengembangan kawasan perairan kampus.
Konsep tersebut mencakup dermaga penelitian, fasilitas pendidikan dan penelitian bahari serta berbagai aktivitas akademik di bidang oseanografi, perikanan, ekologi pesisir, budidaya laut, navigasi, batimetri, konservasi dan bidang kemaritiman lainnya.
Rencana pengembangan juga mencakup dermaga beton sepanjang 100 meter, fasilitas tambat kapal penelitian dan kapal latih, area pendidikan dan penelitian, serta ruang pelayaran dan aktivitas praktik kemaritiman.
Kawasan tersebut diharapkan dapat mempertemukan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan inovasi dalam satu ekosistem maritim yang terintegrasi.
Ketua Tim KKPRL UMRAH, Henky Irawan, S.Pi., MP., M.Sc., mengatakan proses memperoleh KKPRL melibatkan kajian terhadap berbagai aspek, termasuk keseimbangan ruang, kondisi ekosistem, hidro-oseanografi, batimetri serta pemanfaatan ruang oleh masyarakat.
“KKPRL memberikan kepastian bahwa pemanfaatan ruang laut kawasan UMRAH telah melalui proses keseimbangan ruang. Namun, bagi kami, ini bukan titik akhir. Justru setelah KKPRL diperoleh, tanggung jawab pengelolaan kawasan menjadi semakin penting,” kata Henky.
Ekosistem Mangrove Jadi Bagian dari Kajian
Dalam kajian teknis, UMRAH juga mengidentifikasi sejumlah aktivitas dan ekosistem yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kawasan perairan.
Di antaranya penangkapan ikan tradisional, jalur pelayaran lokal, keramba jaring apung, wisata bahari skala lokal serta ekosistem mangrove.
Di sekitar kawasan perairan UMRAH teridentifikasi tujuh jenis mangrove dengan luas sekitar 4,15 hektare. Sekitar 94 persen kawasan mangrove tersebut berada dalam kategori lebat.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi pengembangan laboratorium alam pesisir untuk mendukung berbagai kegiatan akademik.
Mulai dari penelitian ekologi mangrove, keanekaragaman hayati, perikanan, kualitas lingkungan hingga kajian perubahan kawasan pesisir.
Perkuat Identitas UMRAH sebagai Kampus Maritim
Dengan diperolehnya KKPRL, UMRAH memiliki pijakan untuk menempatkan ruang laut sebagai bagian dari infrastruktur akademik universitas.
Laut tidak hanya menjadi objek kajian, tetapi juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran dan penelitian yang mempertemukan kampus, laboratorium, masyarakat, pemerintah, industri dan inovasi.
Rektor UMRAH menegaskan pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk memperkuat kontribusi universitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi kemaritiman.
“Kita ingin UMRAH tidak hanya dikenal karena lokasinya yang berada di wilayah kepulauan, tetapi karena kemampuan akademiknya dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi kemaritiman. KKPRL kawasan perairan ini menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” tegas Agung.
Ke depan, kawasan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan Marine Living Laboratory UMRAH serta Dermaga Biru – Zona Riset dan Pendidikan Bahari.
Fasilitas itu diharapkan dapat memperkuat pembelajaran berbasis lapangan, ekspedisi maritim, pengamatan lingkungan, penelitian pesisir, pengembangan teknologi kelautan serta inovasi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan.
Dengan demikian, kawasan perairan di sekitar Kampus UMRAH Dompak tidak hanya menjadi bentangan laut yang mengelilingi lingkungan akademik. Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang belajar, penelitian, inovasi dan pengabdian yang memperkuat peran UMRAH dalam pengembangan kemaritiman Indonesia. (Red)







