UMRAH Libatkan Mahasiswa Tanam Mangrove, Kenalkan Peluang Bisnis Ramah Lingkungan

Tanjungpinang — Sebanyak 129 mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEBM), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), menanam 300 bibit mangrove di Senggarang Besar, Kota Tanjungpinang, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi pelestarian lingkungan pesisir, tetapi juga sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari konsep carbon offset atau kompensasi karbon serta peluang pengembangan bisnis berbasis ekonomi biru.

banner 728x90

Penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari pembelajaran lapangan mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim. Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Aksi Iklim Internasional atau International Day of Climate Action.

Program tersebut melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Senggarang dan Mangrove Information Training Centre (MITC) UMRAH. Adapun bibit mangrove yang ditanam berasal dari pembibitan warga melalui Pokdarwis Senggarang.

Mahasiswa Belajar Menghitung Jejak Karbon

Selain menanam mangrove, mahasiswa diperkenalkan pada cara menghitung jejak karbon melalui aplikasi Mangrove Carbon Offset Calculator. Penggunaan kalkulator karbon ini menjadi bagian dari pembelajaran untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia, emisi karbon, dan peran ekosistem mangrove dalam penyerapan karbon.

Baca Juga :  Dua Mahasiswa UMRAH Sabet Tiga Prestasi di NEIRA Competition 3

Dosen pengampu mata kuliah, Henky Irawan, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut membantu mahasiswa mengenali konsep kompensasi karbon sekaligus memahami pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dalam menghadapi perubahan iklim.

Melalui pembelajaran lapangan ini, mahasiswa diajak menghubungkan materi perkuliahan dengan persoalan lingkungan yang nyata. Mereka juga diperkenalkan pada potensi pengembangan kegiatan pelestarian mangrove sebagai bagian dari peluang ekonomi berkelanjutan.

Mangrove dan Peluang Ekonomi Biru

Koordinator Program Studi Bisnis Digital UMRAH, Mirza Ayunda Pratiwi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung dari lingkungan dan masyarakat, bukan hanya melalui perkuliahan di kelas maupun laboratorium komputer.

Baca Juga :  Rayakan HUT ke-78, Polwan Polres Bintan Teguhkan Komitmen Melayani Masyarakat

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong mahasiswa Bisnis Digital untuk belajar tidak hanya dari laboratorium komputer, tetapi juga dari lingkungan dan masyarakat secara langsung. Mahasiswa dapat memahami persoalan lingkungan, merasakan pengalaman berkontribusi bagi kelestarian alam, serta melihat bagaimana aktivitas pelestarian dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Mirza.

Menurutnya, ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis sekaligus potensi untuk mendukung kegiatan edukasi, ekowisata, dan usaha berbasis ekonomi biru.

Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu melihat peluang usaha dari potensi lokal dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis. Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh inspirasi untuk membangun usaha yang inovatif, memiliki nilai ekonomi, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.

Libatkan Masyarakat dalam Pelestarian Pesisir

Baca Juga :  Targetkan 41 Jembatan, Program Jembatan Garuda TNI AD Sasar Wilayah Bintan

Lurah Senggarang, Edy Susanto, turut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi keterlibatan UMRAH dalam mendukung pelestarian lingkungan di Senggarang, yang merupakan wilayah Kampung Program Kampung Iklim (ProKlim).

Kolaborasi antara kampus, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan dapat berlanjut melalui kegiatan pelestarian mangrove dan pengabdian kepada masyarakat.

Keterlibatan Pokdarwis Senggarang dalam penyediaan bibit hasil pembibitan warga juga memperlihatkan peran masyarakat dalam mendukung kegiatan konservasi pesisir.

Bagi UMRAH, kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis potensi maritim Kepulauan Riau. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan kompetensi bisnis digital, tetapi juga memahami tantangan lingkungan dan peluang kewirausahaan yang berorientasi pada keberlanjutan.

Penanaman 300 bibit mangrove di Senggarang Besar pun menjadi salah satu upaya menghubungkan pendidikan, kepedulian lingkungan, dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *