Gebyar Melayu Pesisir 2026 Dorong UMKM Kepri Naik Kelas Berbasis Budaya

Batam, Kepri, Peristiwa429 Dilihat

Batam — Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 kembali digelar di Kepulauan Riau. Kegiatan yang berlangsung di K Square, Batam, Kamis (17/9/2026), menjadi ruang kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dunia usaha, pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat.

Mengusung tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”, GMP 2026 mendorong pengembangan potensi budaya Melayu sekaligus penguatan daya saing ekonomi daerah.

banner 728x90

Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Misni, mengatakan karakter geografis Kepri sebagai provinsi kepulauan memberikan keunggulan sekaligus tantangan dalam pembangunan ekonomi.

“Kepri memiliki luas wilayah 425.214,72 kilometer persegi yang terdiri dari 2.028 pulau. Sebanyak 98 persen wilayah Kepri merupakan lautan dan 2 persen berupa daratan. Posisi strategis di Selat Malaka memberikan Kepri keunggulan sebagai gerbang investasi, industri, perdagangan, serta destinasi pariwisata internasional,” ujarnya.

Menurut Misni, kondisi geografis tersebut perlu diikuti transformasi ekonomi yang mampu menjawab tantangan keterhubungan antarwilayah, persaingan global, perubahan pola konsumsi, hingga perkembangan ekonomi digital.

Ia juga mengapresiasi Bank Indonesia yang dinilai konsisten membangun sinergi bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan melalui penyelenggaraan Gebyar Melayu Pesisir setiap tahun.

Baca Juga :  Kurang dari 24 Jam, Polisi Ungkap Curas Driver Ojol di Sekupang Batam

“Kami atas nama Pemerintah Provinsi dan masyarakat Kepulauan Riau memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Bank Indonesia atas konsistensinya dalam membangun sinergi bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong penguatan ekonomi daerah,” katanya.

UMKM dan Warisan Budaya

Misni menyebut UMKM sebagai salah satu fondasi penting dalam struktur perekonomian daerah. Karena itu, pengembangan UMKM tidak cukup hanya berorientasi pada penambahan jumlah pelaku usaha, tetapi juga perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas, kualitas, inovasi, kapasitas manajerial, serta akses pasar.

Digitalisasi, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam proses tersebut agar UMKM Kepri dapat beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan persaingan pasar yang semakin terbuka.

Kepri juga memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM berbasis budaya. Kekayaan warisan Melayu seperti wastra, tenun, tudung manto, kuliner, kerajinan, seni, dan berbagai produk kreatif dinilai tidak hanya menjadi bagian dari ekspresi kebudayaan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi.

Baca Juga :  Gandeng Senator DPD RI, Pemprov Kepri Latih 400 Pelaku UMKM Batam Kuasai Teknologi AI

“Pelestarian budaya harus ditempatkan bukan hanya sebagai upaya menjaga identitas, tetapi juga sebagai proses menciptakan nilai tambah ekonomi berbasis kekayaan intelektual dan kreativitas masyarakat,” tegasnya.

Menurut Misni, GMP 2026 menjadi ruang kolaborasi yang tidak hanya menghadirkan promosi produk UMKM, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha dan perluasan jejaring bisnis.

Hal itu terlihat dari rangkaian Road to GMP yang mencakup kurasi UMKM, onboarding digital, Export Coaching Program, business matching ekspor dan pembiayaan, showcasing UMKM, hingga pelatihan tenun.

“Artinya, kegiatan ini tidak berhenti pada promosi produk, tetapi menyentuh aspek peningkatan kapasitas dan perluasan jejaring usaha,” ujarnya.

Dorong Transaksi Digital

Dalam kegiatan tersebut, Misni juga menekankan pentingnya perluasan digitalisasi sistem pembayaran, termasuk pemanfaatan QRIS.

Menurutnya, sistem pembayaran yang mudah, cepat, aman, dan inklusif dapat membantu pelaku usaha memperluas jangkauan konsumen sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam bertransaksi.

Baca Juga :  Roby Kurniawan Tinjau Peningkatan Jalan di Toapaya: Akses Kampung Kini Lebih Nyaman

Ia mengajak masyarakat Kepri memanfaatkan momentum GMP 2026 dengan mendukung UMKM unggulan daerah, membeli produk dan kuliner khas Kepri, serta mengikuti berbagai kegiatan dan talkshow yang disediakan.

“Mari pula memanfaatkan kanal pembayaran digital, termasuk QRIS Antarnegara atau cross-border, sebagai bagian dari kesiapan masyarakat Kepri memasuki ekosistem ekonomi regional dan global,” ajaknya.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Kepri berharap sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dunia usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat.

Melalui kolaborasi tersebut, UMKM Kepri diharapkan semakin berkembang dan mampu memperluas pasar, termasuk pasar domestik maupun internasional. Di sisi lain, budaya Melayu diharapkan terus berkembang sebagai sumber inovasi, kreativitas, identitas, dan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Kepulauan Riau.

GMP 2026 turut dihadiri Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti melalui video tapping, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Rony Widijarto Purubaskoro, serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan pemangku kepentingan lainnya. (Red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *