Ramadhan: Antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

Kolom83 Dilihat

Opini – Ramadhan selalu menghadirkan pemandangan religius yang menenangkan hati. Masjid dan mushala dipenuhi jamaah sholat tarawih. Lantunan Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sudut kota dan kampung. Banyak orang memperbanyak dzikir, memperpanjang sholat malam, bahkan berangkat umrah untuk meraih pahala yang berlipat ganda. Seolah-olah seluruh umat Islam sedang berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah.

Namun di tengah semarak kesalehan ritual itu, Al-Qur’an justru mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah kesadaran kita: siapakah sebenarnya orang yang mendustakan agama?

Jawaban Al-Qur’an ternyata tidak seperti yang sering kita bayangkan. Dalam Surah Al-Ma’un disebutkan bahwa pendusta agama bukan pertama-tama mereka yang tidak beribadah. Justru yang disebut mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak peduli terhadap orang miskin.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Lebih mengejutkan lagi, setelah menyebut sikap sosial tersebut, Al-Qur’an memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang sholat.

“Maka celakalah orang-orang yang sholat, yaitu mereka yang lalai terhadap sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)

Baca Juga :  Kisah Kompol Andi Sutrisno, Polisi di Kepri yang Dijuluki 'Andi Mayat' karena Kerap Turun ke Liang Lahat

Jika Al-Qur’an menyebut celaka orang yang sholat tetapi lalai terhadap sholatnya, maka pertanyaannya adalah: apa yang dimaksud dengan kelalaian itu?

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa sholat memiliki tujuan moral yang sangat jelas.

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Artinya, sholat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga proses pembentukan karakter. Sholat seharusnya menumbuhkan kesadaran moral yang membuat seseorang menjauhi berbagai bentuk kemungkaran—termasuk ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain.

Dengan demikian, kelalaian dalam sholat tidak hanya berarti meninggalkan sholat atau menunda waktunya. Kelalaian juga dapat terjadi ketika sholat kehilangan daya transformasinya—ketika sholat tidak lagi mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

Beberapa waktu lalu kita pernah mendengar kisah yang sangat menyayat hati. Seorang lelaki miskin yang kelaparan tertangkap mencuri labu di kebun warga. Bukannya ditolong atau dipahami keadaannya, ia justru dihakimi oleh massa hingga kehilangan nyawanya.

Peristiwa seperti ini seharusnya membuat kita bertanya dengan jujur: di manakah nilai-nilai keberagamaan kita ketika berhadapan dengan orang yang paling lemah dalam masyarakat?

Baca Juga :  Daihatsu Santai Penjualan Sirion Kalah Jauh dari Mobil LCGC

Bukankah Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik orang miskin dan menelantarkan mereka yang membutuhkan pertolongan?

Ramadhan hadir setiap tahun untuk mengembalikan ruh tersebut.

Puasa bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah pendidikan spiritual yang sangat dalam. Ketika seseorang merasakan lapar sepanjang hari, ia diharapkan tidak hanya menjadi lebih sabar, tetapi juga lebih peka terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.

Lapar yang kita rasakan saat berpuasa seharusnya menjadi jembatan empati—mengingatkan kita bahwa di luar sana ada banyak orang yang tidak harus menunggu bulan Ramadhan untuk merasakan lapar.

Karena itu Ramadhan tidak pernah dipisahkan dari dimensi sosial ibadah: zakat fitrah, sedekah, memberi makan orang berbuka, serta perhatian kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Dalam ajaran Islam, hubungan manusia dengan Allah (ḥablum minallāh) tidak pernah dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama (ḥablum minannās). Ibadah ritual membangun kesadaran spiritual kepada Tuhan, sementara kepedulian sosial menjadi bukti kejujuran iman dalam kehidupan nyata.

Sebab dalam pandangan Al-Qur’an, iman tidak hanya diuji di atas sajadah, tetapi juga di hadapan anak yatim dan orang miskin.

Baca Juga :  Mari-Sociopreneurship: Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Pancasila di Negeri Maritim

Ramadhan, karena itu, bukan hanya bulan peningkatan ibadah ritual, tetapi juga sekolah empati sosial. Ia melatih manusia untuk menundukkan ego, membuka hati, dan menyadari bahwa keberagamaan tidak pernah selesai pada ibadah personal semata.

Pada akhirnya, kesalehan dalam Islam tidak hanya diukur dari seberapa lama seseorang berdiri dalam sholat malam atau seberapa banyak ayat Al-Qur’an yang ia baca, tetapi dari seberapa luas kepeduliannya terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.

Sebab kesalehan yang sejati tidak hanya terlihat di dalam mesjid, tetapi juga di tangan yang terulur untuk menolong sesama.

 

 

Tentang Penulis

Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satya Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Deean Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Huda Tanjungpinang.

Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *