Turun dari Menara Gading

Kolom205 Dilihat

Dalam film animasi Asterix: The Secret of the Magic Potion, terdapat sebuah adegan menarik ketika para druid (ilmuwan) berkumpul untuk menunjukkan kemampuan dan hasil ciptaannya masing-masing. Salah satu tokoh antagonis dalam film tersebut, Demonix, tampil dengan kemampuan yang memukau dan pertunjukan yang spektakuler. Namun pada akhirnya, Panoramix tetap dipandang lebih unggul bukan karena pertunjukannya paling megah, melainkan karena ilmunya lebih  bermanfaat bagi komunitasnya.

Kisah sederhana ini terasa akrab ketika kita melihat orientasi ilmuwan Indonesia saat ini. Mereka  didorong melakukan riset untuk menghasilkan publikasi ilmiah internasional, meningkatkan sitasi, dan mengejar pengakuan global melalui berbagai indikator bibliometrik. Dosen berlomba-lomba menulis artikel untuk jurnal bereputasi internasional karena hal tersebut menjadi salah satu penentu utama karier akademik, termasuk untuk mencapai jabatan guru besar.

banner 728x90

Hakikatnya tidak ada yang keliru dengan hal ini. Publikasi ilmiah tentu penting. Paper ilmiah merupakan bagian penting dalam menjaga rigor akademik, akuntabilitas pengetahuan, dan perkembangan ilmu pengetahuan global. Persoalannya muncul ketika publikasi bukan lagi menjadi alat pengembangan ilmu, melainkan berubah menjadi tujuan utama sistem akademik.

Akibatnya, banyak energi intelektual perguruan tinggi terserap untuk mengejar indikator administratif akademik ketimbang menyelesaikan persoalan nyata masyarakat. Tidak sedikit riset yang kuat secara metodologis, namun lemah dalam dampak sosial. Banyak akademisi akhirnya lebih terdorong memilih tema yang mudah dipublikasikan secara internasional daripada menggali masalah-masalah lokal yang kompleks dan sangat dibutuhkan masyarakat.

Baca Juga :  Ramadhan: Antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

Fenomena ini sesungguhnya tidak dapat sepenuhnya disalahkan kepada para dosen atau peneliti. Mereka hanya merespons sistem insentif yang dibangun negara dan perguruan tinggi. Ketika kenaikan jabatan, hibah penelitian, reputasi akademik, dan akreditasi kampus lebih banyak ditentukan oleh publikasi internasional, maka sangat rasional apabila para akademisi mengoptimalkan perilakunya untuk memenuhi indikator tersebut.

Dalam sebuah Seminar Nasional yang diselenggarakan Dewan Guru Besar PTN Baru pada awal bulan Mei lalu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi periode sebelumnya, Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, menyampaikan gagasan yang menarik. Menurutnya, jalur menuju guru besar seharusnya tidak hanya bertumpu pada kekuatan publikasi riset, tetapi juga dapat melalui kontribusi pengabdian masyarakat yang transformatif atau penciptaan sistem yang berdampak luas bagi masyarakat.

Gagasan tersebut penting karena membuka perspektif bahwa keunggulan akademik tidak selalu hadir dalam bentuk paper internasional. Ada akademisi yang kontribusi terbesarnya justru terletak pada kemampuannya membangun sistem tata kelola, memberdayakan masyarakat, membangun sociopreneurship, mengembangkan model pembangunan daerah, menciptakan inovasi sosial, atau membuat program inovatif yang mampu meningkatkan skor indeks pembangunan manusia. Kebijakan ini juga akan membuka multiple pathway bagi dosen dalam meniti karier.

Baca Juga :  Mengorkestrasi Masa Depan Ketahanan Pangan Maritim

Itu sebabnya ketika menjabat sebagai Mendikti,   Prof. Satryo  lebih memilih  tagline Dikti Berdampak ketimbang  World Class University.  Menurutnya. Tagline World Class University mungkin realistis bagi sejumlah perguruan tinggi besar dengan sumber daya kuat seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, atau universitas besar lainnya. Namun Indonesia memiliki ribuan perguruan tinggi dengan konteks, kapasitas, sumberdaya dan tantangan yang sangat beragam, sehingga akan sangat sulit untuk masuk sebagai world class university.

Ketika seluruh perguruan tinggi didorong mengejar model keunggulan yang sama, maka muncul kecenderungan homogenisasi institusi. Para ilmuwan  akhirnya dipaksa meniru model universitas riset global ketimbang  menjadi problem solver untuk masalah lokal dan menjadi  penggerak pembangunan wilayah dan nasional.

Perguruan tinggi maritim, misalnya, dapat memberikan kontribusi besar bukan semata melalui jumlah publikasi internasionalnya, tetapi melalui kemampuannya memperkuat tata kelola kelautan, membangun ketahanan energi dan pangan maritim, mengembangkan ekonomi pesisir berkelanjutan,  atau menciptakan model pembangunan pulau kecil yang berkelanjutan.

Persoalan ini menunjukkan bahwa tata kelola pendidikan tinggi Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif. Dalam perspektif adaptive governance, sistem yang baik bukanlah sistem yang memaksakan satu model keberhasilan bagi seluruh institusi, melainkan sistem yang mampu menyesuaikan diri dengan keragaman konteks dan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Whiplash : ‘Cambuk’ untuk Generasi Hebat

Karena itu, perguruan tinggi Indonesia tidak perlu meninggalkan rigor akademik, tetapi perlu memperluas orientasi kontribusinya. Kampus tidak cukup hanya menjadi produsen pengetahuan, melainkan juga harus menjadi penerjemah pengetahuan dan pemecah masalah sosial.

Sudah saatnya perguruan tinggi Indonesia turun dari menara gading, bukan untuk meninggalkan ilmu pengetahuan, melainkan untuk menghadirkan ilmu pengetahuan di tengah kehidupan masyarakat. Kampus dapat menjadi lokomotif yang mengorkestrasi ekosistem inovasi berdampak dengan mempertemukan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas lokal, dan teknologi dalam satu jejaring kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

Pada akhirnya, seperti Panoramix yang dihormati bukan karena pertunjukan paling spektakuler, perguruan tinggi juga semestinya tidak hanya diukur dari seberapa megah reputasi akademiknya, tetapi dari seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkannya bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Inilah hakikat dari tagline Kampus Berdampak.

 

Tentang Penulis

Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satya Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *