Kekurangan Bahan Baku, PT Bionesia Minta Regulasi Ekspor Kelapa Bulat demi Lindungi Pekerja Lokal

Bintan, Kepri, Peristiwa196 Dilihat

Bintan – Di balik produktivitasnya yang tinggi menembus pasar global, pengolahan kelapa di Bintan, PT Bionesia Organic Foods, menyimpan kekhawatiran besar. Pihak manajemen secara terbuka meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI segera menerbitkan regulasi yang mengatur atau membatasi ekspor kelapa mentah (kelapa bulat) ke luar negeri.

Permintaan ini disampaikan langsung oleh General Manager PT Bionesia Organic Foods, Setiawan Heru, kepada Wakil Menteri Perdagangan (Wamen-dag) RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, saat meninjau fasilitas produksi di Kawasan BIIE Lobam, Senin (9/3/2026).

Setiawan Heru mengungkapkan, saat ini industri pengolahan kelapa di Bintan harus “kejar-kejaran” pasokan bahan baku kelapa dengan eksportir kelapa mentah yang mengirimkan produknya langsung ke Malaysia dan Thailand.

Baca Juga :  Rombak Kabinet: Presiden Prabowo Lantik Dudung Abdurachman, M. Qodari, dan Abdul Kadir Karding

“Saya sempat meminta kebijakan Kemendag lewat Ibu Wamen-dag supaya dibuatkan regulasi tentang ekspor kelapa, karena kami masih kekurangan bahan baku. Kelapa yang datang dan yang kami produksi masih kejar-kejaran. Ada yang mengirim langsung (kelapa bulat) ke Malaysia dan Thailand,” ungkap Heru.

Kelangkaan pasokan ini, lanjut Heru, berdampak serius pada stabilitas harga. “Kita pernah mengalami harga sampai lebih dari Rp7.000 per butir kelapa, kita sangat kekurangan waktu itu. Padahal, warga Bintan banyak yang bekerja di Bionesia ini,” tambahnya.

Saat ini, PT Bionesia memproduksi 250 ribu butir kelapa per hari yang menghasilkan 14 kontainer produk ekspor per minggu ke China, mulai dari air kelapa, kelapa beku (frozen), hingga konsentrat kelapa. Demi menutupi kekurangan pasokan, perusahaan terpaksa mencari bahan baku hingga ke Riau, Jambi, hingga penjajakan ke Natuna.

Baca Juga :  Jaga Harga Pangan Jelang Lebaran, Kapolda Kepri Tegaskan Kamtibmas Jadi Fondasi Ekonomi

Sebelumnya Wamen-dag Dyah Roro Esti Widya Putri memberikan apresiasi tinggi terhadap model bisnis PT Bionesia yang telah menjalankan konsep hilirisasi dari hulu ke hilir (end-to-end).

“Di PT Bionesia kita melihat produksi kelapa dengan produk turunannya diproduksi dengan sangat produktif. Kami melihat bagaimana mereka memberdayakan tenaga kerja lokal di wilayah Bintan itu sendiri,” ujar Dyah Roro Esti.

Wamen-dag menilai kesuksesan PT Bionesia mengekspor produk ke Shanghai, China, adalah kontribusi nyata bagi surplus perdagangan Indonesia yang saat ini mencapai 41 miliar dolar AS.

Baca Juga :  Diplomasi Maritim Berhasil, Tiga Personel ILO TNI AL Dianugerahi Medali Militer Filipina

“Harapannya, segala produktivitas di kawasan BIIE ini turut mendongkrak persentase ekspor Indonesia. Mudah-mudahan kita melihat multiplier effect yang terus terjaga dengan baik bagi masyarakat,” tutur Wamen-dag.

Meskipun Wamen-dag menyambut baik produktivitas perusahaan, pihak manajemen PT Bionesia tetap berharap pemerintah pusat hadir melalui regulasi yang memastikan bahan baku kelapa tetap tersedia bagi industri dalam negeri, demi menjaga kelangsungan hidup ribuan pekerja lokal di Bintan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *