Jadi Ikon Wisata Regeneratif, Pulau Penyengat Tarik 6.200 Wisatawan di Awal 2026

Tanjungpinang – Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang terus memperkokoh posisinya sebagai destinasi strategis berbasis sejarah, budaya, dan religi. Di bawah kepemimpinan Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, pusat peradaban Melayu-Islam ini kini diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui konsep pariwisata regeneratif.

Sejalan dengan RPJMN 2024–2029 dan instruksi Presiden RI Prabowo Subianto mengenai Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah), Pemprov Kepri telah melakukan revitalisasi besar-besaran. Mulai dari penataan jalan, perbaikan drainase, hingga pengelolaan sampah modern guna menciptakan kenyamanan bagi pengunjung.

Baca Juga :  Disorot Soal Obat RS, Ansar Tegas: Bukan Kekurangan, Tapi Manajemen Harus Dibongkar!

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menegaskan bahwa pengembangan Pulau Penyengat kini tidak hanya fokus pada kunjungan, tetapi juga dampak positif bagi lingkungan dan sosial masyarakat.

“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah tinggi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi nyata melalui pengembangan UMKM, homestay, dan atraksi budaya lokal,” ujar Hasan.

Kunjungan Wisatawan Meningkat Tajam

Upaya revitalisasi ini mulai membuahkan hasil signifikan. Data Dinas Pariwisata mencatat, sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat menembus angka 6.200 orang.

Baca Juga :  Apel Perdana Pasca Lebaran 1447 H: Gubernur Ansar Ajak ASN Kepri Hemat Energi Hadapi Tantangan Global

Wisatawan mancanegara asal Malaysia, Singapura, hingga Eropa, serta wisatawan nusantara mendominasi kunjungan, terutama pada momentum libur nasional dan Hari Raya Idulfitri 1447 H.

“Meningkatnya kunjungan ini adalah peluang emas bagi warga setempat. Kami terus melakukan pembinaan agar UMKM dan pengelola homestay mampu memberikan layanan berkualitas dunia,” tambah Hasan.

Monumen Bahasa: Ikon Baru Ekonomi Kreatif

Ke depan, Gubernur Ansar Ahmad berkomitmen melanjutkan pembangunan monumental di pulau ini. Salah satu proyek mercusuar yang disiapkan adalah pembangunan Monumen Bahasa Indonesia.

Baca Juga :  Maling Spesialis Rumah Kosong di Bintan Timur Babak Belur Dihajar Massa, Pelaku Ternyata Pemain Lama

Monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sejarah lahirnya tata bahasa Melayu karya Raja Ali Haji, tetapi juga diprediksi akan memberikan multiplier effect bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Tanjungpinang.

“Pembangunan monumen bahasa dan museum akan menjadi ikon baru yang memperkuat identitas sejarah sekaligus menjadi daya tarik wisata edukasi bagi generasi mendatang,” tutup Hasan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *