Jangan Gurui Kami : Memartabatkan Bumi

Oleh: Raja Hardiansyah, SH

Kolom, Nasional45 Dilihat

Judul di atas bukan lahir dari keangkuhan, melainkan sebuah pengingat historis yang jujur. Hari ini, dunia Barat begitu sibuk mendikte panggung global dengan berbagai seminar internasional tentang lingkungan hidup serta kampanye penyelamatan bumi dari pemanasan global. Mereka seolah-olah mengklaim bahwa konsep menyelamatkan bumi adalah penemuan baru yang lahir murni dari laboratorium sains mereka.

Padahal, bagi masyarakat Melayu, merawat lingkungan hidup bukanlah tren gaya hidup baru. Praktik ini sudah diajarkan, dipraktikkan, dan mengakar sejak ratusan tahun lalu oleh nenek moyang kami.

Kearifan Daratan: Sistem Proteksi Rimba Suku Petalangan

Masyarakat Melayu Riau telah lama menerapkan konsep “Hutan Larangan” dan hukum adat “Tanjung Kepungan Sialang”. Lewat aturan adat Suku Petalangan, pohon raksasa tempat lebah bersarang dilindungi oleh sanksi adat yang sangat berat bagi siapa pun yang merusaknya.

Proses pemanenan madu pun dipimpin oleh seorang Dukun Sialang menggunakan asap dari kulit kayu khusus. Teknologi tradisional ini berfungsi menghalau lebah secara sementara tanpa membunuh mereka ataupun merusak pohon inangnya. Praktik ini menunjukkan tingkat kesadaran mendalam masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan alam, jauh sebelum lahirnya sains modern.

Kearifan Pesisir: Konservasi Bahari ala Orang Laut

Di wilayah pesisir seperti Kepulauan Riau, masyarakat Melayu mengenal ritual Menyemah Laut atau Jamu Laut. Di balik dimensi spiritualnya, ritual ini menerapkan “hari pantangan”—sebuah periode ketika nelayan dilarang keras melaut atau menyentuh wilayah perairan tertentu.

Baca Juga :  Jangan Cuma Jadi Penonton! Iduladha Jadi Momentum Emas Peternak Kepri Berhenti Ketergantungan Sapi Luar

Konsep adat ini merupakan bentuk awal dari marine sanctuary (suaka margasatwa laut) modern. Masyarakat Melayu Pesisir tahu kapan harus mengambil hasil laut dan kapan harus mengistirahatkan samudra, agar terumbu karang serta ikan memiliki ruang untuk memulihkan diri secara alami.

Kearifan pesisir ini berkelindan erat dengan kosmologi Masyarakat Adat Orang Laut. Bagi mereka, alam dan isinya adalah titipan Tuhan yang menuntut prinsip resiprositas (timbal balik) yang sakral: selama manusia memperlakukan laut dengan baik, maka laut pun akan memberikan hasil terbaiknya.

Tanpa kurikulum formal, Orang Laut mampu membaca samudra menggunakan sains tradisional yang melompati zaman. Mereka membaca tanda-tanda alam, menghafal arah angin, memetakan siklus musim, hingga menghitung fase bulan serta pasang surut air. Mereka membuktikan bahwa konservasi laut sejati tidak dimulai dari ruang seminar, melainkan dari rasa tahu diri manusia di hadapan alam.

Akar Filosofi: Alam Sebagai Marwah dan Subjek Kosmologis

Budayawan besar Riau, Datuk Tenas Effendy, merekam kecerdasan ekologis (indigenous intelligence) ini dalam mahakaryanya, Tunjuk Ajar Melayu. Beliau menulis:

“Apabila rusak hutan dan tanah,
rusaklah lembaga rusaklah marwah.
Apabila hutan tanah sudah binasa,
di situlah kaum mendapat nista.”

Bait ini menegaskan bahwa bagi orang Melayu—baik yang menjaga rimba maupun yang mendiami samudra—alam bukanlah sekadar komoditas transaksional (objek) penunjang ekonomi. Alam adalah subjek kosmologis yang menyatu erat dengan harga diri dan martabat manusia.

Baca Juga :  Standar Baru Perlindungan Anak: Meutya Hafid Puji Langkah Cepat X dan Bigo Live Terapkan PP TUNAS

Manifestasi dari marwah ini bahkan hidup dalam tindakan personal yang paling sederhana. Ketika hendak melintasi ceruk di sekitar hutan rimba yang asing atau saat harus buang air kecil di alam terbuka, masyarakat refleks mengucap betabek—sebuah kalimat permisi yang lirih: “Tabek datok, anak cucu numpang lewat.”

Di balik dimensi mistisnya, tradisi betabek merupakan bentuk sensor diri (self-censorship) ekologis yang sangat baik. Tata krama warisan leluhur ini mengajarkan manusia untuk menghormati alam yang diyakini dihuni para jembalang atau makhluk halus. Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah pendatang, bukan penguasa yang berhak melakukan perusakan sewenang-wenang.

Dalam tradisi ini, mematahkan sebatang ranting pun memerlukan izin (betabek datuk), terlebih untuk tindakan destruktif skala besar seperti penebangan hutan atau eksploitasi secara membabi buta. Nilai-nilai tersebut ditanamkan guna menjaga martabat alam dan mencegah kepunahan demi keberlanjutan hidup generasi mendatang.

Tantangan Zaman: Menghidupkan Tradisi di Pusaran Digital

Sayangnya, tradisi ini mulai ditinggalkan oleh sebagian generasi muda Melayu karena dianggap kuno. Padahal, warisan tersebut menyimpan filosofi yang sangat dalam mengenai nilai kehidupan, tata krama, serta kehalusan adab Orang Melayu dalam menjaga alam titipan Tuhan.

Baca Juga :  Economic Maritime Resilience: Masa Depan Ekonomi Indonesia

Hari ini kita berhadapan dengan krisis regenerasi. Generasi muda Melayu tumbuh di pusaran digital, di mana algoritma media sosial terasa lebih atraktif daripada petuah para tetua adat di kampung-kampung. Menghadapi realitas ini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengonversi kearifan lokal Melayu dari masa lalu untuk menaklukkan masa depan. Kita tidak boleh memusuhi digitalisasi, melainkan harus menjadikannya sebagai amplifier agar nilai-nilai Melayu tetap bergema lantang.

Menyelamatkan bumi dengan cara Melayu di era digital bukanlah tentang penolakan terhadap modernisasi atau romantisasi masa lalu secara berlebihan. Ini adalah tentang memegang teguh prinsip keberlanjutan yang sejati. Pihak luar tidak perlu mengajari masyarakat Melayu bagaimana cara merawat bumi, karena nenek moyang kami sudah mewariskan cetak birunya sejak lama.

Kini, kita harus memastikan bahwa filosofi “Tahu makan tahu simpan, tahu menghabiskan tahu mengadakan” tetap menjadi alarm pengingat di kepala kita. Artinya, kita tidak boleh hanya menjadi konsumen yang merusak, tetapi harus berdiri garda depan sebagai perawat lingkungan sekitar.`

 

Tentang Penulis : 

Raja Hardiansyah, SH, adalah Tenaga Kependidikan BAPKK UMRAH & Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Riau. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi Channelkepri.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *