Indiana Jones gelisah, Ayahnya Prof. Henry Jones Sr. menghilang dengan meninggalkan buku harian yang berisi banyak informasi penting tentang keberadaan Holy Grail (Cawan yang digunakan Yesus Kristus pada Perjamuan Terakhir), sebuah artefak yang sedang diburu oleh Nazi untuk mencapai kejayaan. Tidak ada pilihan lain, ia harus kembali berpetualang untuk menemukan dan menyelamatkan ayahnya. Sebuah petualangan yang menghadapkannya pada empat ujian krusial.
Ujian pertama muncul ketika para penjaga holy grail mencoba menghalangi upayanya dengan segala upaya. Dan Katika Indiana mampu mengatasinya si penjaga Grail mengajukan pertanyaan tentang niatnya:
“Did you seek the Grail for your glory or for His glory?”
Ujian Kedua hadir ketika ia dihadapkan pada jurang yang terlihat tanpa jembatan/titian atau alat bantu lain yang dapat digunakan untuk mencapai gua tempat tersimpannya holy grail. Informasi dari catatan harian ayahnya hanya menyebutkan bahwa ia harus tetap melangkah dengan penuh keyakinan pada kuasa Tuhan. Berbekal informasi sederhana dan keyakinan itu, ia beranikan diri untuk tetap melangkah dengan risiko terjatuh ke dasar jurang. Ajaibnya, jembatan batu itu ternyata ada, hanya saja tak terlihat.
Ujian Ketiga terjadi ketika ia dihadapkan pada banyak pilihan cawan yang tampak meyakinkan sebagai holy grail. Sebagian terbuat dari emas. Sebagian dihiasi permata. Sebagian tampak megah dan berwibawa. Tidak ada petunjuk sama sekali cawan mana yang asli. Kesalahan memilih berarti kematian baginya dan ayahnya. Ketika akhirnya Indiana memilih sebuah cawan yang sederhana dan tidak mencolok, penjaga grail berkata: “You have chosen wisely.”
Ujian Keempat Kembali muncul ketika pada bagian akhir film, Indiana hampir kehilangan nyawanya ketika berusaha meraih holy grail yang jatuh di tepi jurang. Di saat genting tersebut, demi menyelematkan Indiana, ayahnya berkata dengan lembut: “Indiana… let it go.”
Film Indiana Jones and the Last Crusade (1989) arahan Steven Spielberg yang dibintangi aktor kawakan Harrison Ford dan Sean Connery ini, sesungguhnya menggambarkan tantangan dan pembelajaran yang hampir setiap hari dihadapi para pemimpin organisasi publik. Ia menggambarkan empat kualitas yang dibutuhkan pemimpin adaptif ketika menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian: niat yang benar, keberanian untuk bertindak, bijaksana dalam memilih kebijakan/program, dan kerendahan hati untuk belajar.
Pembelajaran Pertama, Sebelum berbicara tentang strategi, anggaran, teknologi, atau inovasi, seorang pemimpin perlu menjawab satu pertanyaan mendasar: Untuk siapa kebijakan/program transformasi ini dilakukan? Apakah untuk menciptakan nilai publik yang lebih besar bagi masyarakat, atau sekadar untuk memperkuat citra, popularitas, dan warisan kepemimpinannya sendiri? Dalam bahasa administrasi publik, pertanyaan tersebut dapat diterjemahkan sebagai orientasi pada nilai publik (public value orientation). Dalam tradisi Islam, pertanyaan tersebut berkaitan dengan niat, dimana niat yang lurus akan mengarahkan pemimpin untuk memfokuskan energi, sumber daya, dan berbagai keputusan yang diambil pada penciptaan nilai publik, ketimbang mengejar pencitraan, popularitas, atau keuntungan jangka pendek.
Pembelajaran Kedua, dalam realita tidak ada pemimpin publik yang memiliki sumberdaya sempurna dalam menjalankan kebijakan/program. Tidak ada kebijakan/program yang bebas risiko. Tidak ada jaminan semua akan berjalan mulus sebagaimana yang direncanakan. Karena itu, yang diperlukan adalah keberanian dan keyakinan untuk bertindak berdasarkan sumberdaya yang tersedia. keberanian semacam ini tidak lahir dari spekulasi, melainkan dari ikhtiar berlandasakan keimanan. Ikhtiar menuntut pemimpin menggunakan informasi terbaik yang tersedia, melibatkan berbagai pihak, dan memperhitungkan risiko yang mungkin muncul, serta yakin dengan bimbingan Tuhan. Banyak pemimpin gagal bukan karena kekurangan sumberdaya, tetapi karena ragu untuk bertindak, dan enggan menanggung risiko. Padahal dalam banyak situasi, hal ini dapat berakibat organisasi kehilangan kesempatan untuk menciptakan perubahan, atau bahkan ‘digilas’ oleh perubahan.
Pembelajaran Ketiga, Dalam praktik kepemimpinan publik, tantangan yang sering kali muncul bukan memilih antara yang benar dan yang salah, melainkan memilih di antara berbagai alternatif yang sama-sama tampak masuk akal. Sering kali pemimpin tergoda memilih program yang besar, spektakuler, dan mudah menarik perhatian publik. Program seperti itu mudah dipublikasikan, mudah diklaim sebagai keberhasilan, dan bukan mustahil menghasilkan keuntungan politik yang cepat, walau tidak menciptakan nilai publik yang besar. Padalah sebagaimana Holy Grail yang tampil tidak mencolok, banyak perubahan justru lahir dari program-program yang sederhana, tidak terlalu menarik perhatian media, namun secara langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Di sinilah hikmah mengambil peranan penting, diperlukan kebijaksanaan (wisdom) untuk memilih kebijakan/program yang paling mampu menciptakan nilai publik berkelanjutan.
Pembelajaran Keempat, dalam kepemimpinan publik, tidak semua kebijakan menghasilkan outcome/impact sesuai harapan, karena munculnya kejadian-kejadian di luar kendali. Pada kondisi ini, pemimpin adaptif harus bertawakal, berani menerima kritik dan menjadikannya sebagai sumber pembelajaran. Pemimpin adaptif tidak boleh memandang kritik sebagai ancaman, melainkan peluang untuk belajar; melakukan penyesuaian strategi, kebijakan dan program. Kepemimpinan adaptif menuntut sesuatu yang berbeda, yaitu melakukan unlearning the past—melepaskan asumsi, pendekatan, dan cara kerja lama yang tidak lagi menghasilkan manfaat. Yang perlu dipertahankan bukanlah program tertentu, melainkan nilai publik yang ingin diwujudkan. Dalam tradisi Islam, proses ini dekat dengan muhasabah, yaitu keberanian mengevaluasi diri secara jujur, dan tajdid, yaitu keberanian memperbarui pendekatan ketika pendekatan lama tidak lagi relevan. Pemimpin adaptif membutuhkan keduanya.
Dalam demokrasi, pembelajaran kepemimpinan adaptif ini tidak hanya penting bagi para pemimpin, tetapi juga bagi masyarakat. Masyarakat perlu cerdas menilai pemimpin melalui tindakan-tindakannya: bagaimana ia merespons kritik, bagaimana ia mengambil keputusan sulit, bagaimana ia belajar dari kesalahan, dan bagaimana ia memilih program yang menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.
James Freeman Clarke pernah mengingatkan, “A politician thinks of the next election; a statesman thinks of the next generation.” Pada akhirnya, pemimpin adaptif bukanlah pemimpin yang mengejar popularitas, melainkan pemimpin dengan niat yang lurus, bijak dalam memilih kebijakan/program terbaik, memiliki kerendahan hati untuk terus belajar dan melakukan perbaikan, serta keberanian untuk tetap melangkah, bahkan ketika ‘jembatan’ di hadapannya sama sekali tak terlihat.
Tentang Penulis :
Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satya Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.










