Bintan — Unggahan video mengenai kondisi pasangan lansia Paulus (60) dan Muttamimah (70), warga RT 002/RW 003 Kelurahan Sungai Enam, Kecamatan Bintan Timur, mendadak viral di media sosial. Video yang diunggah oleh kreator konten Firda Sari alias Firda Bintan di Tik Tok pada Jumat (24/07/2026) lalu itu menarasikan bahwa keduanya terpaksa mengonsumsi rebusan biji cempedak untuk mengganjal lapar serta tidak memiliki dokumen kependudukan.
Video tersebut sempat memancing simpati netizen hingga gelombang bantuan berdatangan. Namun, narasi yang menyebutkan mereka bertahan hidup hanya dengan biji cempedak dan ditelantarkan langsung dibantah oleh Paulus dan Muttamimah sendiri, serta disanggah oleh warga dan perangkat daerah setempat.
Paulus dan Muttamimah Meluruskan: “Kami Ada Beras”
Saat ditemui di kediamannya, Paulus tampak sesekali melayani sang istri yang tengah terbaring tak berdaya di sampingnya. Ibu Muttamimah diketahui memang sudah lama menderita sakit dan sebenarnya telah mendapatkan perhatian dari pemerintah serta kader kesehatan setempat.
Paulus meluruskan bahwa narasi yang menyebut mereka setiap hari hanya makan biji cempedak tidaklah benar.
“Kami sehari-hari tidak makan buah cempedak. Saya makan nasi, hanya sesekali saja saya makan buah itu,” kata Paulus dengan nada lirih.
Pernyataan Paulus tersebut didukung penuh oleh sang istri. Meski dalam kondisi sakit dan lemah, Muttamimah ikut meluruskan kesalahpahaman yang terlanjur beredar di publik.
“Kami di rumah ada beras. Selain diberi tetangga, kami juga mendapatkan bantuan dari luar. Kami juga beli beras, hanya saja tak banyak,” ungkap Muttamimah.
Warga dan RW Sanggah Narasi “Makan Biji Cempedak Setiap Hari”
Senada dengan pernyataan pasangan lansia tersebut, Ketua RW 003 Kampung Sei Enam Darat, Saidi, menegaskan bahwa warga sekitar kaget dan merasa tidak enak dengan narasi video yang viral.
Menurut penjelasan Saidi, saat pengambilan video berlangsung, Ibu Muttamimah memang sedang mengidam atau ingin mengonsumsi biji cempedak rebus, bukan karena tidak ada beras untuk dimakan.
“Warga tidak terima kalau dikatakan mereka makan biji cempedak setiap hari. Keterangan dari anaknya, orang tuanya memang lagi kepingin makan biji cempedak lalu direbus. Pas kebetulan pembuat konten datang,” terang Saidi, Minggu (26/7/2026) sore.
Saidi menambahkan, Pak Paulus yang kini sudah tidak bekerja dan mulai pikun cenderung mengiyakan saja pertanyaan pembuat konten saat diwawancarai. Ia juga membantah tuduhan bahwa warga menelantarkan mereka.
“Secara swadaya warga sering membantu bawa nasi, lauk, dan sembako. Tapi kita tidak biasa foto atau videokan. Bahkan Ibu Muttamimah pernah dirawat di rumah saya selama seminggu, tapi beliau minta pulang lagi ke rumahnya,” tambah Saidi.
Kendala Administrasi Kependudukan dan RTLH
Terkait status dokumen kependudukan, Saidi menjelaskan bahwa pengurusan KTP bagi Paulus dan Muttamimah sudah diupayakan sejak lama. Muttamimah yang berasal dari Pasuruan, Jawa Timur, terkendala Surat Keterangan Pindah sejak kurun 2011–2014. Sementara Paulus merupakan warga Desa Lancang Kuning/Sei Jagoh, Bintan Utara, yang menikah siri dengan Muttamimah.
Pihak RT/RW dan Kelurahan bahkan sudah mengupayakan pembuatan identitas warga non-dokumen karena data lama Paulus masih terdaftar di kampung asalnya.
Selain kependudukan, status rumah yang ditempati berdiri di atas lahan milik PT Antam. Hal ini membuat pasangan tersebut tidak bisa menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau program bedah rumah, yang menyaratkan kepemilikan tanah pribadi.
Kelurahan dan Posyandu juga pernah berupaya memindahkan Paulus dan Muttamimah ke Panti Sosial Rumah Bahagia Lansia. Namun, rencana itu dibatalkan karena Muttamimah dan anaknya yang bekerja sebagai nelayan menolak tinggal di panti.
Pembuat Konten Minta Maaf dan Hapus Video
Pada Minggu sore, berbagai bantuan pangan seperti beras, telur, minyak goreng, dan mie instan tampak berdatangan ke kediaman Paulus. Di lokasi yang sama, Firda Sari selaku pembuat konten menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di hadapan Camat, Lurah, RT/RW dan warga sekitar. Dirinya pun langsung menghapus konten yang sempat viral.
“Saya meminta maaf kepada Bapak Camat, Bapak Lurah, perangkat RT/RW, warga, dan Pemerintah Kabupaten Bintan. Saya tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun. Harapan saya hanya ingin identitas Pak Paulus terselesaikan dan bantuan bisa masuk. Saya mohon maaf atas kegaduhan ini dan video sudah saya take down,” ujar Firda.
Pemerintah Lakukan Langkah Cepat
Plt Camat Bintan Timur, Indra Gunawan, menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan dan kelurahan bergerak cepat menyikapi peristiwa ini secara persuasif.
“Kami menyikapinya dengan prinsip wa tawasaubil haqqi wa tawasaubissabr, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran,” kata Indra mengutip Qur’an Surah (QS) Al-Ashr Ayat 3.
Indra mengungkapkan bahwa usai kejadian ini viral, pihak RW dan Lurah berhasil menemukan fotokopi KTP dan KK milik Paulus. Pihak kelurahan langsung berkoordinasi dengan Disdukcapil untuk pengurusan kepindahan kependudukan, serta KUA terkait penyesuaian status keagamaan Paulus yang telah mualaf.
Meski demikian, pemerintah memastikan pendampingan terhadap pasangan lansia tersebut akan terus dilakukan sembari menyelesaikan berbagai persoalan administrasi yang selama ini menjadi kendala.
“Kedepannya secara berjenjang, kita akan lakukan pemeriksaan kesehatan gratis dan menyalurkan bantuan-bantuan lain yang layak mereka terima,” pungkas Indra. (Tim)







