Bappenas Kunjungi Ekang Anculai, Inovasi Batik dan Kompos Dorong Ekonomi Sirkular Desa

Bintan, Kepri, Peristiwa71 Dilihat

Bintan – Sekretariat Nasional Sustainable Development Goals (Seknas SDGs) Bappenas RI mengunjungi Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Jumat, (25/06/2026) untuk melihat langsung implementasi program Capstone Project SDGs Academy melalui konsep Ekang Green Creative Village.

Program yang digagas peserta SDGs Academy Indonesia melalui program SDG Certified Leadership tersebut dikembangkan Tri Jatmiko dari Rumah Batik Bintan dengan memadukan potensi batik, budaya, pertanian, kuliner dan pariwisata berbasis masyarakat.

banner 728x90

Konsep tersebut mengusung ekonomi sirkular, di mana limbah dari aktivitas produksi tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan masyarakat.

Salah satunya diterapkan di Rumah Batik Bintan. Batik yang diproduksi menggunakan pewarna alami menghasilkan limbah yang kemudian diolah menjadi kompos untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian masyarakat.

Owner Rumah Batik Bintan, Tri Jatmiko mengatakan konsep Ekang Green Creative Village dibuat dengan menggabungkan berbagai potensi yang sudah dimiliki Desa Ekang Anculai.

“Kami mempresentasikan project kami yang berjudul Ekang Green Creative Village, yaitu memadukan semua potensi yang ada di Desa Ekang Anculai ini, mulai dari batik, budaya, pertanian dan kulinernya kita satukan supaya nanti bisa bermanfaat untuk masyarakat,” kata Tri.

Menurutnya, konsep ekonomi sirkular tersebut diarahkan untuk menciptakan perputaran manfaat ekonomi di tingkat masyarakat.

“Dari Ekang Green Creative Village ini mengonsep sebuah sirkular ekonomi, dimana sirkular ekonomi adalah perputaran ekonomi di masyarakat, dimulai dari petani, batiknya dan limbah. Limbah batiknya kita olah menjadi pupuk yang dimanfaatkan oleh petani,” ujarnya.

Baca Juga :  Terbaik di Indonesia! BPR Bintan Raih Bintang 4 dalam Ajang TOP BUMD Awards 2026

Tri mengatakan penerapan konsep tersebut diharapkan dapat menciptakan pola pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan.

“Konsepnya dari alam kembali ke alam lebih terjaga sampai ke anak cucu kita,” katanya.

Bukan Sekadar Produksi Batik

Rumah Batik Bintan menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam pengembangan Ekang Green Creative Village.

Selain memproduksi batik dengan memanfaatkan bahan pewarna alami, pengelola juga mengolah limbah produksi menjadi kompos yang kemudian digunakan untuk mendukung pertanian masyarakat.

Namun, Tri mengakui pengembangan konsep tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan.

Menurutnya, pengembangan Ekang Green Creative Village membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, sekolah, hotel hingga pelaku usaha dan sektor pertanian.

“Kita bermitra dengan semua pihak termasuk dengan dinas-dinas, hotel-hotel, kampus, sekolah-sekolah dan DKUP, pertanian, dan pemerintah desa kita rangkul semua supaya kita menghadapi tantangan tersebut di lapangan,” ujarnya.

Tri berharap program tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Ekang Anculai dan nantinya dapat diterapkan di wilayah lain.

“Kami berharap project ini bisa berjalan dan bermanfaat untuk masyarakat Desa Ekang Anculai dan akan kita perjuangkan dengan baik, dengan harapan bisa direplikasi oleh desa lain di Bintan maupun di Kepri,” katanya.

Baca Juga :  50 Pembatik Bintan Bersertifikat BNSP Didorong Naik Kelas, FGD Bahas Akses Modal dan Indikasi Geografis

Bappenas Apresiasi Inovasi Desa

Tim Leader Sekretariat Nasional SDGs Bappenas RI, Arifin Rudyanto, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan SDGs Academy, sebuah program pelatihan bagi leader atau inovator lokal untuk menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan atau SDGs di tingkat daerah.

Menurut Arifin, Ekang Green Creative Village menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip SDGs diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui pemanfaatan potensi lokal.

“Jatmiko sebagai leader telah memanfaatkan potensi budaya, potensi lokal dalam pertanian, kemudian mengolah ekonomi sirkular, pemanfaatan limbah. Itu semua adalah contoh seorang inovator atau penggerak pemimpin lokal,” ujar Arifin.

Ia mengatakan inovasi di tingkat masyarakat perlu mendapat dukungan agar dapat berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas.

Arifin menjelaskan Bappenas memiliki peran menghubungkan inovator lokal dengan berbagai lembaga yang dapat memberikan dukungan sesuai kebutuhan.

Dukungan tersebut dapat berkaitan dengan akses air bersih, energi, infrastruktur, peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan hingga pemasaran.

“Bappenas berperan untuk menghubungkannya dengan lembaga-lembaga terkait. Kalau dia perlu dukungan akses, misalnya air bersih, energi, akses jalan masuk, dukungan peningkatan SDM melalui pelatihan, kalau perlu dukungan pemasaran, itu tugas kami untuk menghubungkan dengan instansi lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Bintan Raih Penghargaan Internasional di IMT-GT Green City Award

Salah Satu dari 50 Proyek Terpilih

Arifin menyebut program SDGs Academy tahun ini mendapat respons dari berbagai daerah. Dari sekitar 980 inovasi yang mendaftar, hanya 50 proyek yang dipilih untuk dikembangkan sebagai Capstone Project.

Menurutnya, terdapat tujuh proyek yang menjadi bagian dari kunjungan lapangan, termasuk Ekang Green Creative Village di Bintan yang mewakili wilayah Sumatra.

Arifin berharap Rumah Batik Bintan dan Ekang Green Creative Village dapat berkembang menjadi bagian dari destinasi wisata berbasis komunitas di Bintan.

“Harapan kami ke depan Rumah Batik Bintan ini menjawab salah satu tujuan destinasi wisata di Bintan yang berbasis komunitas. Potensi di Bintan sangat banyak, meskipun baru tumbuh,” katanya.

Ia menilai pengalaman yang dikembangkan di Rumah Batik Bintan dapat menjadi pembelajaran bagi desa lain, khususnya mengenai bagaimana memulai, mengelola dan menyusun rencana pengembangan potensi desa secara berkelanjutan.

Kunjungan Seknas SDGs Bappenas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertemukan agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional dengan inovasi yang tumbuh dari masyarakat desa.

Melalui Ekang Green Creative Village, Desa Ekang Anculai mencoba menghubungkan budaya, pertanian, batik, pengelolaan limbah dan pariwisata dalam satu ekosistem yang diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan. (tim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *