Indonesia memiliki hampir semua prasyarat untuk menjadi kekuatan ekonomi besar: sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang luas, populasi produktif, dan posisi geografis strategis. Namun, kekayaan sumber daya dan besarnya pasar tidak otomatis menghasilkan keunggulan kompetitif. Negara yang ingin menjadi kekuatan ekonomi pada 2045 harus mampu mengubah pengetahuan menjadi penguasaan teknologi, peningkatan produktivitas, dan daya saing industri.
Dalam konteks itulah Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) yang berlangsung pada tanggal 26-28 Oktober 2026 menjadi momentum penting. Forum ini membuka ruang pertemuan antara penelitian, teknologi, investasi, dan kebutuhan industri. Tantangannya bukan sekadar menghasilkan kesepakatan kerja sama, melainkan menjadikan momentum tersebut sebagai awal perubahan arah sistem inovasi nasional. Forum ini bertujuan untuk menghubungkan seluruh kapasitas riset dengan kebutuhan pembangunan ekonomi, atau dengan kata lain membangun sistem yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kekuatan industri.
Tantangan menuju ekonomi berbasis inovasi
Data BRIN mengenai belanja penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa pengeluaran R&D nasional pada 2024 berada di kisaran Rp50,2 triliun, atau sekitar 0,23 persen produk domestik bruto (PDB). Porsi pengeluaran R&D oleh sektor bisnis juga masih terbatas, sekitar 14,96 persen.
Angka tersebut memperlihatkan dua tantangan sekaligus. Pertama, investasi nasional dalam pengembangan pengetahuan dan teknologi masih perlu diperbesar. Kedua, keterlibatan dunia usaha sebagai pelaku sekaligus pengguna inovasi belum cukup kuat.
Karena itu, Indonesia memerlukan sasaran jangka panjang yang lebih ambisius. Salah satu target yang layak dipertimbangkan adalah meningkatkan belanja R&D secara bertahap hingga mencapai 2 persen PDB pada 2045. Angka ini merupakan usulan arah kebijakan, bukan target resmi pemerintah. Pencapaiannya tentu membutuhkan tahapan realistis, peningkatan kapasitas peneliti, insentif fiskal, dan keterlibatan sektor swasta.
Di samping itu penambahan anggaran riset perlu diikuti dengan perbaikan tata kelola yang mendorong investasi riset menuju peningkatan kapasitas teknologi, produktivitas, serta kemampuan perusahaan untuk bersaing di pasar domestik dan global.
Dalam dunia akademik, publikasi ilmiah merupakan bagian penting dari pengembangan pengetahuan. Penelitian dasar juga tetap diperlukan karena menjadi fondasi penemuan masa depan. Persoalannya muncul ketika keberhasilan sistem riset lebih mudah dikenali dari jumlah publikasi daripada kemampuan memperkuat teknologi, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ukuran kinerja riset perlu diperluas. Selain mutu publikasi, kita harus menghargai penguasaan teknologi, penggunaan hasil penelitian oleh industri, peningkatan produktivitas, serta penyelesaian masalah masyarakat.
Belajar dari perspektif Peter Howitt
Mengawali event DTIIF 2026, ekonom peraih Nobel Ekonomi 2025, Peter Howitt, memberikan perspektif penting mengenai inovasi dan tantangan keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
Pelajaran mendasarnya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak dapat terus-menerus mengandalkan akumulasi modal dan pemanfaatan sumber daya. Peningkatan produktivitas memerlukan pembelajaran teknologi, dinamika perusahaan, persaingan, dan inovasi.
Bagi negara yang sedang mengejar ketertinggalan, inovasi tidak harus selalu dimulai dengan penemuan teknologi yang sepenuhnya baru. Kemampuan mengadopsi, meniru secara legal, menyesuaikan, dan meningkatkan teknologi yang telah berkembang di negara lain merupakan bagian penting dari proses membangun kemampuan inovasi. Untuk itu industri memerlukan tenaga terampil, kapasitas penelitian, akses pembiayaan, dan lingkungan persaingan yang mendorong peningkatan produktivitas.
Di sinilah hubungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri menjadi strategis. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan pengetahuan. Industri juga perlu menjadi mitra aktif yang menyampaikan kebutuhan teknologi, terlibat dalam penelitian, dan bersedia menguji hasil inovasi.
Indonesia harus bergerak dari posisi pengguna teknologi menuju pengembang, pengadaptasi, dan pada akhirnya pencipta teknologi yang memiliki daya saing global.
Danantara dan arah baru permintaan teknologi
Kehadiran Danantara membuka peluang untuk memperkuat hubungan antara investasi strategis dan pengembangan teknologi nasional. Prioritas investasi pada industri-industri tertentu dapat menjadi sinyal mengenai teknologi, kompetensi, dan kapasitas produksi yang perlu dibangun Indonesia.
Sinyal tersebut penting karena penelitian yang berpotensi diterapkan membutuhkan gambaran tentang siapa penggunanya, persoalan apa yang hendak diselesaikan, dan bagaimana teknologi akan masuk ke dalam kegiatan produksi. Untuk itu diperlukan penyelarasan. BRIN, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perguruan tinggi, serta dunia industri (BUMN) perlu membangun agenda bersama pada bidang-bidang strategis. Sementara Danantara dapat berperan sebagai penghubung antara kebutuhan investasi dan permintaan teknologi industri Strategis.
Dari forum menuju orkestrasi nasional
Nilai terbesar DTIIF seharusnya tidak diukur dari banyaknya peserta, presentasi, atau nota kesepahaman yang ditandatangani. Ukurannya adalah apakah forum tersebut menghasilkan perubahan nyata dalam cara Indonesia mengelola inovasi. Karena itu, DTIIF perlu dikembangkan menjadi mekanisme orkestrasi yang bekerja sepanjang tahun, bukan hanya sebuah pertemuan tahunan.
Bappenas dapat memastikan keselarasan dengan prioritas pembangunan nasional. BRIN memperkuat kapasitas penelitian dan pengembangan teknologi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menghubungkan perguruan tinggi serta pengembangan talenta. Kementerian Keuangan menyiapkan dukungan kebijakan fiskal. Danantara, BUMN, dan perusahaan swasta membantu mempertemukan teknologi dengan kebutuhan investasi serta produksi.
Pembagian peran tersebut harus diterjemahkan menjadi agenda bersama yang dapat diukur, tanpa menambah tumpang tindih kewenangan.
Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadikan DTIIF sebagai simbol pergeseran paradigma: dari penelitian yang berjalan sendiri-sendiri menuju inovasi yang terhubung dengan transformasi ekonomi.
Menjadi Emerging Giant pada 2045 bukan hanya soal besarnya PDB, banyaknya proyek investasi, atau tingginya produksi komoditas. Ukurannya juga terletak pada kemampuan bangsa menguasai teknologi, menciptakan nilai tambah, dan membangun BUMN yang mampu bersaing secara global. Untuk itu Indonesia perlu bergerak dari paper menuju power: dari pengetahuan yang dihasilkan menuju kemampuan teknologi yang menggerakkan kemajuan bangsa.
Tentang Penulis :
Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satia Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.










