Bintan – Musim limbah minyak hitam (sludge oil) kembali melanda kawasan pesisir Trikora, Kabupaten Bintan, di awal tahun 2026. Namun bagi para nelayan setempat, fenomena tahunan ini terasa jauh lebih buruk dan mengancam mata pencaharian mereka.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya berbentuk cairan, kali ini limbah minyak hitam ditemukan dalam bentuk ratusan karung yang terdampar di sepanjang pantai hingga mengapung di tengah laut. Kondisi ini membawa petaka bagi alat tangkap nelayan.
Imin, seorang tekong kapal ikan di Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, menceritakan pengalamannya saat melaut empat hari lalu. Ia mengaku masih banyak menemukan karung-karung berisi limbah minyak hitam di jalur tangkapannya.
“Karung-karung itu ada yang pecah karena tertabrak kapal dan kena ke jaring ikan kami. Kalau sudah kena jaring, habis sudah. Jaring jadi licin dan baunya menyengat minta ampun, seperti besi hangus,” ujar Imin dengan nada getir, Rabu (11/02/2026) saat ditemui di rumahnya.
Dampak kerusakan alat tangkap ini bukan perkara sepele. Satu piece jaring ikan dibanderol dengan harga sekitar Rp700.000. Sementara dalam sekali melaut, jaring yang rusak bisa mencapai puluhan hingga ratusan piece.
“Kalau jaring sudah kena minyak, biasanya harus diganti baru. Biayanya bisa sampai puluhan juta rupiah. Jaring yang kena minyak juga tidak bisa dipakai lagi karena ikan tidak mau mendekat kalau baunya menyengat begitu,seperti bau besi hangus,” tambahnya.
Kondisi laut yang tercemar ini berdampak langsung pada jumlah tangkapan. Imin mengaku, biasanya ia mampu membawa pulang sekitar 100 kilogram ikan dalam sekali melaut. Namun sejak limbah ini datang, hasilnya merosot tajam menjadi hanya 20 hingga 30 kilogram saja.
Selain masalah ekonomi, nelayan juga harus berhadapan dengan aroma busuk limbah yang menusuk hidung, yang membuat aktivitas di atas kapal menjadi tidak nyaman.
Mewakili para nelayan di kawasan Trikora, Imin sangat berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait tidak tinggal diam. Mereka meminta tindakan tegas dan solusi konkret agar laut Bintan kembali bersih dari kiriman limbah yang terus berulang setiap tahunnya.






