Waduk Sei Jago Mengering, Warga Tanjunguban Keluhkan Tagihan PDAM Tetap Membengkak

Bintan, Kepri, Peristiwa423 Dilihat

Bintan – Dampak kekeringan ekstrem di Kabupaten Bintan mulai memukul warga Jalan Hang Tuah, Kelurahan Tanjung Uban Kota, Kecamatan Bintan Utara. Pasokan air bersih dari PDAM Tirta Kepri dilaporkan macet total akibat mengeringnya Waduk Sei Jago yang berada di Desa Lancang Kuning yang menjadi sumber utama distribusi di wilayah Tanjung Uban.

Kondisi ini memaksa warga merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air tangki demi memenuhi kebutuhan harian. Muhammad Rajali Lubis, salah seorang warga Jalan Hang Tuah, mengungkapkan bahwa harga air tangki ukuran satu ton kini mencapai Rp80 ribu hingga Rp100 ribu.

banner 728x90

“Sudah dari sebelum Lebaran kering. Kami terpaksa beli air tangki dan itu pun harus mengantre sampai dua atau tiga hari baru datang. Sementara airnya hanya cukup untuk kebutuhan dua hari saja,” ujar Rajali kepada media, Rabu (25/3/2026).

Baca Juga :  Kepri Perkuat Keterbukaan Informasi, 151 Badan Publik Masuk Evaluasi E-Monev 2026

Warga meminta PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjung Uban menyediakan air bersih dengan memfungsikan mobil tangki untuk mendistribusikan air kepada warga,

“Kami beli pun tidak apa-apa, tetapi di bawah harga jual swasta, tolong ditanggapi jangan di biar-biarkan saja,” Lanjut Rajali.

Selain sulitnya akses air, warga juga mempersoalkan tagihan PDAM yang dinilai tidak masuk akal. Rajali mengaku tagihannya mencapai Rp750 ribu per bulan meski air tidak mengalir lancar. Warga pun mendesak adanya kompensasi berupa penghapusan biaya abodemen selama masa krisis.

Baca Juga :  Disorot Soal Obat RS, Ansar Tegas: Bukan Kekurangan, Tapi Manajemen Harus Dibongkar!

“Air tidak mengalir tapi beban abodemen tetap jalan. Kami minta PDAM punya inisiatif atau solusi nyata,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Cabang PDAM Tirta Kepri Tanjunguban, Sugito, menjelaskan bahwa kondisi Waduk Sei Jago saat ini sudah berada di posisi minus setengah meter. Pihaknya kini tengah berupaya membuat “tali air” untuk mengumpulkan sisa-sisa genangan menuju sumur intake.

“Kami kumpulkan dulu genangan air yang ada, setelah terkumpul baru kami sedot dan alirkan ke warga. Prosesnya memakan waktu, terkadang kami kumpulkan dua hari di tangki besar, baru dibuka selama 4 jam saja sudah habis lagi,” jelas Sugito.

Baca Juga :  Penyampaian LKPJ 2025 Tepat Waktu, Ketua DPRD Bintan Fiven Sumanti Apresiasi Kinerja Roby-Deby

Terkait permintaan warga untuk suplai air melalui mobil tangki, Sugito mengaku terkendala sumber air baku yang memang sudah menipis. Dari total 2.981 pelanggan, saat ini hanya sekitar 2.000 pelanggan yang bisa dialiri air secara bergilir setiap dua hari sekali.

Sementara mengenai tuntutan keringanan biaya abodemen, Sugito menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan Direksi di pusat. “Kami di cabang akan mengikuti jika ada kebijakan kompensasi dari pusat karena sifatnya pasti merata,” tutupnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *