Bintan – Selasa pagi (28/4/2026) itu, aroma kafein yang tajam dan menggoda menyelinap di antara tumpukan berkas dan kesibukan administrasi Kantor Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Bintan. Pelataran kantor yang biasanya formal, mendadak berubah menjadi panggung penuh aksi bagi para “barista dadakan.”
Gelaran bertajuk Dinas Perkim Coffee War 2026 bukan sekadar perlombaan biasa. Ini adalah ajang pembuktian bahwa di balik seragam dinas, tersimpan tangan-tangan kreatif yang mahir meracik filosofi dalam secangkir kopi.
Tiga peserta internal—Ahyar Yulinur, Mona Astuti, dan Yohanes—tampil penuh percaya diri. Masing-masing membawa identitas budaya kopi yang berbeda, seolah ingin membawa para penonton keliling dunia melalui indra perasa.
Sajian Pasir Gurun yang Memikat
Sorotan utama jatuh pada Ahyar Yulinur. Dengan gerak tangan yang presisi, ia mengeluarkan cezve, alat masak tembaga khas Timur Tengah. Ahyar membawa tema “Otentisitas Tradisional” dengan menyajikan kopi Turki. Teknik penyeduhannya yang detail dan aroma rempah kopi yang khas berhasil menghipnotis dewan juri. Tak heran, podium juara pertama berhasil ia amankan.
Di posisi kedua, Yohanes membawa memori lokal dengan signature kopi hitam ala Kopi Tiam. Sebuah sajian yang akrab dengan lidah masyarakat Kepulauan Riau, namun dieksekusi dengan teknik yang luar biasa. Sementara itu, Mona Astuti melengkapi deretan pemenang di posisi ketiga dengan racikan unik “Kopi Hawaii Kijang” yang memberikan nuansa segar di tengah panasnya kompetisi.
Lebih dari Sekadar Pemenang
Suasana kantor seketika cair. Para pegawai dan tamu yang hadir tidak hanya menonton dari jauh, tetapi ikut larut dalam edukasi budaya kopi. Mereka berkesempatan mencicipi setiap tetes hasil racikan ketiga peserta, mengubah area kantor menjadi kedai kopi interaktif yang hangat.
Kepala Dinas Perkim Kabupaten Bintan, Mohammad Irzan, yang tampak antusias menyaksikan acara ini, menyebutkan bahwa kopi hanyalah media. Inti dari kegiatan ini adalah mempererat simpul persaudaraan di lingkungan kerja.
“Acara ini bukan hanya soal siapa yang paling jago menyeduh, tapi tentang bagaimana kita membangun kebersamaan dan sportivitas melalui media kopi,” ujar Mohammad Irzan dengan senyum lebar.
Dinas Perkim Coffee War 2026 membuktikan bahwa kreativitas tidak boleh mati di balik meja kerja. Acara ini diharapkan menjadi agenda rutin yang mampu menyegarkan semangat para staf, sekaligus mengingatkan bahwa dalam setiap tegukan kopi, selalu ada cerita dan kerja sama yang kuat. (Tim)













