Manisnya Kenduri Paloboh, Cara Warga Kampung Bintan Enau Mengucapkan Selamat Tinggal pada Musim Durian

Bintan, Kepri, Kolom435 Dilihat

Bintan – Suasana khidmat menyelimuti Kampung Bintan Enau, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan pada Jumat siang (26/6/2026). Selepas menunaikan ibadah salat Jumat, para pria di kampung yang terletak persis di bawah kaki Gunung Bintan ini berkumpul di salah satu rumah warga.

Mereka khusyuk melantunkan doa dan selawat kepada Allah SWT. Lantunan doa tersebut mengalirkan rasa damai di tengah tenangnya suasana pegunungan.

banner 728x90

Hari itu,  warga sedang melaksanakan Kenduri Paloboh, sebuah ritual adat penuh ketulusan yang telah dijaga selama ratusan tahun. Tradisi ini digelar bukan untuk merayakan panen raya, melainkan sebagai tanda perpisahan yang manis ketika musim buah durian di kampung mereka sudah di ambang batas akhir.

Usai doa bersama, kehangatan kian terasa saat hidangan mulai disajikan. Jamuan sederhana berupa olahan kuah bubur durian kental berbahan santan, gula merah, dan gula putih berpadu dengan gurihnya ketan putih (beras pulut). Ditemani segelas teh manis hangat dan kopi, warga melepas musim durian tahun ini dengan senyuman. Apalagi, panen buah durian tahun ini terbilang melimpah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Filosofi Pulut Lengket dan Doa untuk Musim Depan

Di balik manisnya hidangan kenduri, ada untaian harapan tersembunyi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mukhtar, seorang tokoh masyarakat setempat, mengisahkan bahwa sajian beras pulut yang dimasak memiliki makna filosofis yang sangat kuat sebagai wujud doa kepada Sang Pencipta.

Baca Juga :  Polres Bintan Gerak Cepat Padamkan Mobil Pikap Terbakar, Laporan Call Center 110 Direspons dalam Hitungan Menit

“Kenapa kami mengadakan acara Kenduri Paloboh ini? Ada makna dan filosofi kuat di dalamnya. Beras pulut yang dimasak itu kan sifatnya lengket. Maknanya, jika ke depan kami diberi rezeki oleh Allah SWT lagi saat pohon durian mulai berbunga, maka pulut itu disimbolkan sebagai perekat agar bunga-bunga tersebut melekat kuat pada dahannya, tidak banyak jatuh, dan berhasil menjelma menjadi buah durian,” tutur Mukhtar penuh harap.

Bagi warga setempat, membaca doa Paloboh juga menjadi isyarat alam bahwa petualangan menjaga kebun durian selama 5 hingga 6 bulan terakhir telah selesai dengan selamat. Proses panjang mulai dari membersihkan lahan, membangun pondok jaga, hingga terjaga malam hari menanti buah pertama jatuh, kini ditutup dengan rasa syukur.

Mengenang Leluhur Lewat Durian “Telor” Alami

Hubungan batin warga Kampung Bintan Enau dengan alam dan leluhur mereka memang begitu pekat. Pohon-pohon durian di sini bukanlah komoditas perkebunan modern yang dipaksa berbuah dengan pupuk kimia, melainkan pohon-pohon raksasa purba yang telah berusia ratusan tahun.

“Bukan kami yang menanamnya, bukan pula atok-nenek kami, tapi pohon-pohon ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dari para leluhur. Makanya, begitu buah pertama jatuh di awal musim, kami adakan kenduri pembuka dulu sebelum durian itu dijual atau dimakan sendiri. Bahkan, kalau ada pengunjung atau warga kampung sebelah datang, silakan makan sepuasnya gratis. Ini cara kami mengenang leluhur,” kata Mukhtar.

Baca Juga :  Safari Ramadan di Tanjung Uban, Imigrasi Kepri Berbagi dengan Anak Panti dan Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Keistimewaan inilah yang membuat durian kaki Gunung Bintan berbeda. Meski buahnya cenderung kecil karena tumbuh alami tanpa pupuk, cita rasanya sangat lezat dan legit. Kampung ini bahkan memiliki varian legendaris bernama Durian Telor.

Dalam satu biji Durian Telor, tersimpan empat perpaduan rasa sekaligus: manis, gurih (lemak), pahit, dan lembut bak mentega. Keunikan ini membuat Durian Telor dihargai per biji mulai dari Rp30 ribu hingga mencapai ratusan ribu rupiah untuk ukuran besar.

Keajaiban alam pun terlihat dari daya hidup pohonnya. Berbeda dengan daerah lain yang pohon duriannya kerap mati setelah 15 tahun, pohon-pohon durian di Bintan Enau tetap berdiri kokoh melintasi zaman demi menghidupi anak cucu.

Warga berburu durian di pinggir jalan, Jum’at (26/06/2026). F : Channelkepri.com9

Kenduri Duit Pokok: Sedekah 10 Persen Hasil Penjualan

Ketulusan warga tidak berhenti di Kenduri Paloboh saja. Sebagai penutup total dari berkah musim ini, mereka nantinya akan menggelar Kenduri Duit Pokok Durian. Pada ritual ini, selain memanjatkan doa dan selawat kepada Allah SWT, warga memasak nasi lengkap dengan lauk-pauk dan mengundang para tetangga sekitar rumah.

Uniknya, seluruh biaya memasak diambil murni sebesar 10% dari total hasil penjualan durian yang mereka dapatkan sepanjang musim tanpa terkecuali.

“Ini murni bentuk sedekah kami dari hasil bumi. Kalau hasil penjualan dapat Rp3 juta, berarti Rp300 ribu digunakan untuk memasak kenduri ini. Kalau tembus Rp30 juta, ya Rp3 juta kita pakai untuk sedekah makanan ke tetangga,” jelas Mukhtar.

Baca Juga :  Masjid Agung Batam Dipadati Ribuan Warga, 1.200 Anak Yatim Terima Santunan dari Wali Kota

Meskipun tradisi bernilai budaya dan humanis yang sangat kental ini bertahan ratusan tahun secara swadaya tanpa pernah tersentuh perhatian pemerintah, warga tidak berkecil hati. Namun, Mukhtar menyimpan harapan besar agar ke depan, pihak pemerintah serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersedia melirik tradisi kenduri ini agar bisa dikemas menjadi agenda wisata budaya yang lebih meriah.

“Harapan kami, tradisi dari zaman ke zaman ini terus berjalan demi mengharap rida Allah SWT, rida para leluhur, dan terus diwariskan ke anak cucu kami kelak,” harap Mukhtar.

Sepanjang siklus musim durian yang berlangsung selama lima hingga enam bulan di Kampung Bintan Enau, masyarakat setempat konsisten menggelar empat rangkaian kenduri adat secara berurutan. Tradisi ini diawali dengan kenduri membersihkan pokok durian, yang kemudian dilanjutkan dengan kenduri buah saat buah pertama jatuh dari pohon—di mana pada fase ini durian sama sekali belum boleh diperjualbelikan. Memasuki akhir musim, warga melaksanakan kenduri paloboh sebagai tanda perpisahan, sebelum akhirnya seluruh rangkaian berkah alam tersebut resmi ditutup dengan kenduri duit pokok sebagai bentuk sedekah dari hasil penjualan. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *