Piala Dunia, Moneyball & Birokrasi Kita

Oleh : Ary Satia Dharma

Kolom431 Dilihat

Piala Dunia FIFA 2026 kembali melahirkan kejutan. Brazil harus pulang di babak 16 Besar, menyusul ‘raksasa’ Jerman dan Belanda. Hal ini ‘menampar’ kita pada satu kenyataan yang kerap terlupakan dalam dunia olahraga: nama besar tidak pernah menjadi jaminan kemenangan. Sejumlah kekuatan tradisional sepak bola harus mengakhiri perjalanan lebih cepat dari yang diperkirakan, meskipun dihuni pemain-pemain bertalenta, didukung kompetisi domestik yang kuat, serta memiliki sejarah panjang sebagai langganan juara. Pertanyaannya, mengapa tim yang tampak memiliki hampir semua prasyarat untuk meraih sukses justru dapat gagal ketika menghadapi tantangan baru?

Efek ‘Moneyball’ dan Pentingnya Tata Kelola Berbasis Data

banner 728x90

Di lain kisah, lebih dari dua dekade lalu, dunia olahraga Amerika pernah digegerkan pada sebuah success story yang unik, yang kemudian didokumentasikan menjadi  sebuah film berjudul Moneyball. Billy Beane (diperankan Brad Pitt), General Manager Oakland Athletics (OA), sebuah klub baseball dengan prestasi terpuruk dan keuangan terbatas, melihat OA tidak mungkin mampu bersaing dengan cara konvensional.

Ketika klub-klub lain memburu pemain berdasarkan nama besar, intuisi pencari bakat, atau kejayaan masa lalu, Beane memilih jalan yang berbeda. Ia membangun tim berdasarkan bukti empiris, memanfaatkan analisis statistik untuk mengidentifikasi pemain yang sering diabaikan pasar, tetapi memiliki kontribusi nyata terhadap peluang kemenangan. Pendekatan ini dianggap menyimpang dari tradisi, bahkan sempat ditertawakan oleh banyak kalangan. Perlawanan juga datang dari para pencari bakat senior OA yang telah puluhan tahun memercayai cara-cara konvensional dalam menilai pemain. Bagi mereka, pengalaman, intuisi, dan tradisi jauh lebih dapat dipercaya daripada temuan-temuan baru yang ditunjukkan oleh data.

Baca Juga :  Turun dari Menara Gading

Namun, justru dari keberanian mempertanyakan cara lama itulah lahir sebuah perubahan besar dalam dunia baseball. Dengan budget hanya sepertiga dari para pesaingnya,  OA berubah menjadi kekuatan hebat, meraih 103 kemenangan (20 kemenangan beruntun), dan menjadi juara American League West pada tahun 2002, mengalahkan, klub-klub kaya yang selama bertahun-tahun mendominasi kompetisi.

Sejarah kemudian mencatat bahwa Billy Beane bukan sekadar membangun tim yang kompetitif secara efisien. Ia mengubah cara dunia baseball memandang kemenangan. Apa yang semula dianggap sebagai pendekatan yang menyimpang perlahan menjadi praktik yang lazim. Kini, hampir seluruh klub profesional memanfaatkan analisis data sebagai bagian penting dalam proses rekrutmen pemain dan penyusunan strategi.

Cermin untuk Birokrasi dan Pelayanan Publik

Kedua kisah dunia olahraga tersebut hakikatnya merupakan cermin untuk memahami tantangan yang dihadapi birokrasi pemerintahan kita saat ini. Organisasi yang ingin berubah selalu berhadapan dengan kecenderungan yang sama: mempertahankan cara lama karena cara itulah yang pernah membawa keberhasilan pada masa lalu.

Ketika organisasi lebih percaya pada kebiasaan daripada bukti, lebih menghargai reputasi daripada kinerja aktual, dan lebih nyaman mempertahankan cara lama daripada mengevaluasinya secara kritis, maka kemampuan organisasi untuk beradaptasi perlahan mulai melemah. Padahal, di tengah perubahan yang semakin cepat, keunggulan organisasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kualitas tata kelola dalam mengambil keputusan.

Pelajaran tersebut dapat ditemukan dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintah daerah di Indonesia. Selama ini, kita sering berasumsi bahwa kualitas pelayanan publik akan meningkat seiring dengan besarnya APBD. Logikanya tampak sederhana: semakin besar sumber daya keuangan yang dimiliki suatu daerah, semakin baik pula pelayanan yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Baca Juga :  Video Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh Moneyball, asumsi ini tidak selalu sejalan dengan fakta. Data justru memperlihatkan bahwa hubungan antara besarnya anggaran dan kualitas pelayanan publik tidak selalu bersifat linier. Kota Padang Panjang di Sumatera Barat merupakan salah satu contoh yang menarik. Kota ini bukanlah daerah dengan APBD besar, namun, dalam beberapa tahun terakhir, secara konsisten memperoleh penilaian yang sangat baik dalam kualitas pelayanan publik berdasarkan evaluasi Ombudsman Republik Indonesia.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa keunggulan pelayanan publik tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya sumber daya fiskal, tetapi oleh kemampuan organisasi mengelola sumber daya tersebut melalui tata kelola yang efektif, budaya belajar yang kuat, dan keberanian melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

Selama beberapa dekade, konsep learning organization yang dipopulerkan oleh Peter Senge menekankan bahwa organisasi yang mampu terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa belajar saja sering kali tidak cukup. Sejumlah ilmuwan organisasi, seperti Chris Argyris, mengingatkan bahwa perubahan yang sesungguhnya baru terjadi ketika organisasi berani mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang selama ini dianggap benar.  Dengan kata lain, tantangan terbesar organisasi bukan sekadar mempelajari hal-hal baru (learning), tetapi juga melepaskan keyakinan, kebiasaan, dan praktik lama yang tidak lagi relevan (unlearning). Dalam banyak kasus, kemampuan untuk unlearn the past justru jauh lebih sulit daripada kemampuan untuk belajar sesuatu yang baru.

Pesan besar dari tiga cerita di atas sesungguhnya sama, organisasi tidak pernah kekurangan data, pengalaman, ataupun sumber daya. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk mempertanyakan asumsi yang selama ini dianggap benar. Ketika keberhasilan masa lalu berubah menjadi dogma, organisasi kehilangan kemampuan untuk melihat realitas yang sedang berubah. Sebaliknya, ketika bukti empiris diberi ruang untuk mengoreksi keyakinan lama, organisasi mulai menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dalam mencapai tujuannya. Di sinilah organizational unlearning menjadi prasyarat bagi lahirnya evidence-based governance, dan pada akhirnya melahirkan adaptive governance.

Inilah pelajaran yang paling relevan bagi birokrasi Indonesia. Reformasi birokrasi tidak selalu dimulai dari tambahan anggaran, pembentukan organisasi baru, ataupun lahirnya regulasi baru. Reformasi sering kali dimulai dari keberanian mempertanyakan cara-cara lama yang selama ini dianggap benar, lalu membiarkan bukti empiris membimbing setiap keputusan. Sebab di era yang penuh ketidakpastian, organisasi tidak lagi memenangkan persaingan karena memiliki sumber daya yang lebih besar, melainkan karena lebih cepat belajar, lebih berani meninggalkan tradisi yang tidak lagi relevan, dan lebih konsisten menjadikan bukti sebagai dasar tata Kelola dan pengambilan keputusan.

Baca Juga :  Jangan Cuma Jadi Penonton! Iduladha Jadi Momentum Emas Peternak Kepri Berhenti Ketergantungan Sapi Luar

Barangkali, kemenangan terbesar sebuah tim/organisasi bukanlah ketika ia berhasil meraih kejayaannya, melainkan ketika ia berani meninggalkan cara lama yang membuatnya pernah berjaya.

 

Tentang Penulis : 

Artikel ini merupakan opini yang ditulis oleh Ary Satya Darma, S.Sos, M.Si. Kepala Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) di UMRAH. Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *