Pak Kamis, Potret Perjuangan Pemotong Getah di Perbatasan Karimun

Oleh : Raja Hardiansyah

Kolom102 Dilihat

Hari ini, panggung akademik kita begitu riuh membicarakan kehebatan konsep yang lahir dari mimbar perguruan tinggi berkelas dunia. Di ruang-ruang seminar mewah yang sejuk oleh AC, para intelektual dan pakar berjas rapi mempresentasikan formula ideal mengenai teori pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan global.

Sementara itu, pemandangan serupa terlihat di atas podium kekuasaan. Para pemimpin daerah sibuk mematangkan strategi jitu dan presentasi demi memikat hati investor, serta memberikan sambutan hangat kepada para penanam modal berkelas, baik domestik maupun asing. Berbagai kesepakatan kemudian dituangkan ke dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) sebagai wujud komitmen investasi. Narasinya selalu dirangkai dengan diksi yang indah: meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) guna mendorong pembangunan ekonomi dan menyejahterakan kehidupan rakyat kecil.

banner 728x90

Namun, klaim kesejahteraan itu hanyalah karangan manis di atas kertas. Realitasnya justru kontras saat kita melihat langsung potret kehidupan masyarakat pesisir di perbatasan. Tengoklah Kabupaten Karimun hari ini. Meski berada di jalur perdagangan internasional dan menjadi garda terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta Singapura, kesejahteraan itu belum terlihat secara signifikan. Ada jurang ekonomi yang menganga sangat lebar jika dibandingkan dengan kedua negara tetangga tersebut. Kesenjangan ini terasa kian mencekik, terutama saat nilai dolar Singapura dan ringgit Malaysia terus melonjak tinggi meninggalkan rupiah. Kontras yang tersaji sungguh ironis: garis depan kita justru melangkah lambat di bawah bayang-bayang kemakmuran yang berkibar di seberang lautan.

Saat mengobrol dengan teman atau kenalan baru dari luar Kepulauan Riau, kita selalu menceritakan kampung halaman ini dengan hangat dan penuh kebanggaan. Wilayah strategis ini hanya berjarak hitungan menit pelayaran feri menuju dua negara tetangga. Bahkan, saat langit cerah, kemegahan gedung pencakar langit Singapura terpampang nyata—berkilau dan putih—berdiri tegak tepat di seberang bibir pantai Karimun. Begitu pula saat malam tiba; gemerlap lampu metropolitan Singapura serta wilayah Johor, Malaysia, memantul jelas di permukaan laut, menghiasi cakrawala pesisir kita.

Namun, di balik kedekatan visual tersebut, tersimpan sebuah ironi yang membekas dalam ingatan. Pada era 1980-an hingga 1990-an, frekuensi siaran radio dari Malaysia dan Singapura justru terdengar jauh lebih jernih di telinga masyarakat Karimun ketimbang suara dari tanah air sendiri.

Penulis tidak ingin berfokus pada persoalan makro tersebut karena sudah ada para petinggi negeri ini yang mengurusnya. Terlebih, potret ekonomi di Pulau Karimun Besar sebenarnya terbilang jauh lebih maju dibandingkan dengan pulau-pulau di sekitarnya yang terpisah dari pulau utama.

Baca Juga :  Kemitraan Setara: Menuju Adaptive Inclusive Value Chain Economy
Pak Kamis, pemotong getah asal Desa Selat Mendaun, Kabupaten Karimun, menjalani keseharian dengan bekerja keras demi menghidupi keluarga di wilayah perbatasan negara jiran. Pak Kamis bersama Konten kreator Indra, F : Dok. Facebook/Indra 79

Di tengah jurang pemisah antara narasi elite kota dan realitas akar rumput di pulau-pulau inilah, penulis sangat terkesan dengan dedikasi akun Facebook Indra 79. Kreator digital asal Karimun ini juga berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebagai Camat Selat Gelam, Kabupaten Karimun, konsistensinya dalam mempromosikan kearifan lokal dan denyut nadi ekonomi masyarakat di tapal batas negara jiran patut diacungi dua jempol. Lewat kontennya, ia mengangkat kisah hidup seorang warganya dari Desa Selat Mendaun yang sangat menginspirasi kita semua: Pak Kamis.

Pak Kamis adalah personifikasi modern dari etos kerja masyarakat Melayu yang sesungguhnya sebagai pekerja pemotong getah (penoreh getah). Masyarakat Melayu Karimun lazim menyebut aktivitas ini dengan istilah “memotong getah”. Sementara itu, di wilayah lain seperti Sumatra dan Kalimantan, istilah “menoreh” jauh lebih umum digunakan. Meski hanya bersekolah hingga kelas 2 Sekolah Dasar (SD) dan memiliki keterbatasan fisik di usia yang tidak muda lagi, ia menolak menyerah pada keadaan demi menjadi tulang punggung utama bagi keluarganya.

Menjalani keseharian sebagai pemotong getah bukanlah perkara mudah bagi kebanyakan orang. Namun, Pak Kamis membuktikan ketangguhannya dengan memotong getah di empat lokasi perkebunan warga yang berbeda dalam sehari. Berjuang sejak subuh hingga sore, ia memeras keringat dari gelapnya fajar hingga matahari condong ke barat. Tiada hal lain yang menggerakkan tubuh mungilnya, kecuali satu tekad: bertahan hidup.

Begitu mata pisau mengoyak kulit pohon getah, bunyi “srek… sreek…” terdengar memecah sunyi, menjelma melodi tanpa nada. Diiringi desisan basah yang halus, cairan getah putih murni perlahan meleleh menyusuri jalur sayatan, lalu jatuh menetes ke dalam mangkuk.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hal yang biasa. Namun, bagi Pak Kamis, itulah bunyi harapan. Dalam setiap sentuhan pisau pada kulit pohon, terselip tangisan dalam dan untaian doa yang mengalir—sebuah ikhtiar mengetuk pintu langit demi memohon dukungan spiritual. Di setiap jengkal langkahnya menyusuri kebun, rasa syukur yang tak putus menjelma doa kepada Tuhan, memohon kesehatan dan keberkahan dalam menjemput rezeki yang halal.

Sebagai pemotong getah, pekerjaan ini tentu tidak semulus yang dibayangkan dan jauh dari kata mewah. Penghasilan mereka sepenuhnya bergantung pada alam. Saat hujan turun, aktivitas memotong otomatis terhenti, memaksa mereka menganggur selama berhari-hari hingga cuaca reda. Namun, Pak Kamis menolak menyerah pada keadaan. Di sela-sela waktu senggangnya, ia menyambung hidup dengan menjual durian, rambutan, dan apa pun yang bisa laku terjual, asalkan halal, milik tetangga demi mencari penghasilan tambahan.

Baca Juga :  Kepemimpinan Adaptif Ala Indiana Jones

Belum sempat keringat mengering di badan, perjuangannya tidak berhenti di situ. Usai berjualan, Pak Kamis langsung mengayuh sepeda kuning kesayangannya menuju laut. Perjalanan ini bukanlah perkara gampang, kawan, sebab beliau harus menaklukkan tiga perbukitan dengan medan yang sangat menantang.

Target selanjutnya adalah “bersiput”. Masyarakat Melayu Karimun menggunakan istilah ini untuk aktivitas mencari siput hisap atau siput sedot. Hewan ini hidup di ekosistem mangrove dan kerap menempel secara tersamar pada akar bakau, kayu, serta bebatuan pantai karena warnanya yang hitam kecokelatan. Pekerjaan ini sangat bergantung pada pasang surut air laut. Saat air surut, siput-siput akan merayap naik ke batang kayu dan di sinilah Pak Kamis menjemput peruntungannya. Meski penghasilannya tidak menentu—kadang melimpah, kadang sama sekali tidak ada—hasil tangkapan tersebut selalu ia jual kepada warga kampung sebagai sumber pendapatan tambahan.

Sebagai kekayaan alam endemik Kepulauan Riau, siput ini jarang ditemukan di daerah lain. Masyarakat setempat biasa mengolahnya menjadi hidangan khas Melayu yang menggugah selera, seperti gulai lemak pekat, kecap pedas manis, atau dicampur ke dalam lendot. Lendot sendiri merupakan makanan khas Melayu Kepri berbahan dasar tepung sagu dengan kuah ikonik yang kental, kenyal, dan lengket seperti lem. Menyantap lendot selagi hangat memberikan sensasi rasa yang istimewa bagi masyarakat Melayu Kepri. Sensasi pedas dari lada hitam, gurih dari udang atau siput hisap, serta kuahnya yang licin dan lembut berpadu sempurna di dalam mulut.

Foto: Dok. Facebook/Indra 79.

Kisah Pak Kamis bukan sekadar drama melankolis individu yang menyentuh hati. Hal yang paling membuat saya salut adalah keteguhan jiwanya. Di tengah gempuran ekonomi global yang tak menentu, ia masih bisa melemparkan senyum lebar dan memelihara rasa syukur. Melalui perawakannya yang kocak dan penuh kehangatan, ia tampak bahagia mengayuh sepeda kesayangannya, meski dengan napas yang tersengal-sengal menantang beban usia.

Di balik senyum dan kayuhan sepeda itu, ia tetaplah potret riil wajah tradisional Karimun hari ini. Pak Kamis adalah representasi dari ribuan masyarakat lokal di wilayah perbatasan. Mereka tangguh, bekerja keras melampaui batas fisik, tetapi tetap terjebak dalam lingkaran ekonomi yang stagnan dan terbatas. Ketangguhan ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian tanpa kehadiran negara.

Baca Juga :  Video Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Narasi investasi yang katanya bernilai miliaran rupiah terbukti belum mampu mengubah nasib buruh tani pemotong getah di garis depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada paradoks besar yang sedang terjadi di perbatasan kita. Selagi Singapura dan Malaysia sudah berlari kencang di era industri teknologi tinggi, garda terdepan Indonesia—seperti pemotongan getah karet tradisional yang dilakoni Pak Kamis—justru masih bertumpu pada kekuatan fisik dan komoditas yang harganya fluktuatif serta sering kali tidak berpihak pada petani.

Sektor perkebunan getah tetap menjadi tumpuan hidup sebagian masyarakatnya, terutama di luar pulau utama atau wilayah pedalaman Karimun. Ketangguhan masyarakat lokal ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendirian tanpa topangan kebijakan afirmasi yang nyata dari pemerintah.

Berkaca dari realitas ini, pemerintah daerah harus mengoptimalkan kembali peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau koperasi untuk menjaga stabilitas harga karet di tingkat lokal. Langkah ini penting demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani getah di Karimun agar memperoleh pendapatan yang lebih layak.

Pemerintah Daerah (Pemda) Karimun harus mengalihkan fokus dari sekadar mempercantik pusat kota di Pulau Karimun Besar. Karimun memiliki wilayah luas di luar pulau utama yang mencakup Kecamatan Selat Gelam, Pulau Buru, Pulau Kundur, Belat, Ungar, Moro, dan Durai. Wilayah-wilayah tersebut sangat membutuhkan pemerataan pembangunan, akses pasar, sembako murah, serta fasilitas dasar yang layak. Langkah konkret ini diperlukan untuk menghapus kesan diskriminasi pembangunan sekaligus mengentaskan ketertinggalan ekonomi masyarakat setempat.

Secara keseluruhan, garis depan NKRI seharusnya tidak sekadar menjadi benteng geografis dalam meredam dampak kesenjangan sosial. Status sebagai beranda negara semestinya mendatangkan keistimewaan berupa percepatan pembangunan yang berkeadilan, khususnya di Karimun, agar mampu mengimbangi kemakmuran negara tetangga. Pak Kamis dan warga perbatasan lainnya adalah mata, telinga, sekaligus benteng kedaulatan Indonesia. Aktivitas harian mereka di pulau-pulau tersebut menegaskan secara hukum internasional bahwa setiap jengkal laut dan darat itu milik sah Republik Indonesia.

Salam sehat dan hormat bagi para pemotong getah di luar sana, khususnya untuk Pak Kamis. Di balik sunyi dan pekatnya subuh di beranda negara, Saudara adalah pejuang tanpa nama yang pantang menyerah. Teruslah melangkah, teruslah bersemangat!

 

Tentang Penulis :

Raja Hardiansyah adalah seorang ASN Tenaga Kependidikan Universitas Maritim Raja Ali  Haji (UMRAH). Pandangan dan analisis yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan resmi redaksi.-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *