Bintan – PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk kembali menegaskan komitmennya dalam membantu pemerintah menanggulangi angka stunting dan malnutrisi. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulannya, “JAPFA for Kids”, perusahaan menyasar delapan Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan.
Program intervensi gizi dan kesehatan ini resmi dimulai pada Kamis (21/5/2026), diawali dengan pelatihan intensif bagi para kepala sekolah dan guru yang akan menjadi penanggung jawab program di lapangan.
Rachmat Indrajaya selaku Corporate Affairs Director PT Japfa Comfeed Indonesia menjelaskan bahwa program JAPFA for Kids tahun ini memfokuskan pada dua pilar utama, yaitu : penurunan angka malnutrisi (gizi kurang dan gizi buruk) pada siswa SD, serta pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Awalnya kami melakukan sosialisasi ke seluruh SD di Teluk Bintan yang berjumlah 14 sekolah. Namun, setelah melalui proses seleksi, terpilih 8 sekolah sebagai binaan program. Hari ini kami melatih kepala sekolah dan guru karena program ini menganut prinsip sharing contribution. Kami tidak bisa berjalan sendiri tanpa keterlibatan aktif sekolah dan orang tua,” ujar Rahmat di SDN 001 Teluk Bintan, Kamis (21/05/2026).
Skrining Kesehatan dan Intervensi Telur 6 Bulan
Pasca-pelatihan, JAPFA akan menggandeng tiga Puskesmas di Kecamatan Teluk Bintan pada bulan Juni mendatang untuk melakukan skrining kesehatan massal. Skrining ini menyasar seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 5 di delapan sekolah terpilih tersebut.
Dari hasil pemeriksaan medis itu, akan dipetakan status gizi masing-masing anak, mulai dari yang normal, gizi kurang, gizi buruk, hingga yang mengalami obesitas. Data inilah yang menjadi basis penentuan penerima manfaat.
Rahmat mengungkapkan, orang tua dari siswa yang terdeteksi mengalami gizi kurang atau gizi buruk akan diundang ke sekolah. Jika mereka berkomitmen dan menandatangani surat persetujuan, JAPFA akan mengintervensi dengan memberikan pasokan protein hewani secara gratis.
“Melalui Japf unit (PT. Indo Jaya Agrinusa-red), Kami akan mendistribusikan telur mentah sebanyak 7 butir setiap minggu untuk satu anak, dan ini berjalan rutin selama 6 bulan ke depan. Telur tersebut disalurkan melalui sekolah, lalu dimasak oleh orang tua di rumah untuk dijadikan bekal wajib anak ke sekolah,” terangnya.
Untuk memastikan telur tersebut benar-benar dikonsumsi, guru yang telah dilatih akan mendampingi dan mengawasi langsung momen makan bekal bersama di sekolah. Perkembangan fisik anak juga dipantau ketat melalui pengukuran berat dan tinggi badan setiap bulan.

Hari Sehat JAPFA: Perangi Cacingan Lewat PHBS
Selain pemenuhan nutrisi, JAPFA memandang perubahan perilaku harian anak sebagai kunci pencegahan stunting jangka panjang. Pasalnya, banyak kasus anak yang asupan makannya sudah baik, namun berat badannya sulit naik akibat terinfeksi cacingan.
Guna mengantisipasi hal itu, setiap sekolah binaan diwajibkan menggelar “Hari Sehat JAPFA” sekali dalam sepekan. Agenda rutinnya dimulai dari Senam 4 Pilar Gizi Seimbang, yang lirik lagunya sarat akan edukasi makanan beragam dan hidup sehat.
“Setelah senam, anak-anak langsung diajak praktik cuci tangan pakai sabun, masuk kelas, lalu diperiksa kebersihan kukunya untuk mencegah cacingan. Baru setelah itu mereka makan bekal bersama,” kata Rahmat.
Momentum makan bersama ini juga dimanfaatkan guru untuk mengedukasi siswa mengenai konsep gizi seimbang. Guru akan mengecek isi bekal para siswa untuk memastikan komponen karbohidrat, sayur, dan protein hewani terpenuhi dengan baik.
“Harapannya, melalui pengecekan bekal bersama ini, anak-anak menjadi tahu bahwa bahan makanan itu beragam dan setiap jenis memiliki nutrisi berbeda yang saling melengkapi. Tidak ada satu pun makanan yang gizinya langsung cukup, karena itu mereka harus dibiasakan makan makanan yang beragam,” pungkasnya. (dw)







