Engku Putri Raja Hamidah: Perempuan di Balik Legitimasi Kekuasaan Melayu

Tanjungpinang — Pulau Penyengat bukan sekadar kawasan cagar budaya yang menyimpan bangunan dan makam bersejarah. Pulau kecil di perairan Tanjungpinang ini juga menyimpan kisah Engku Putri Raja Hamidah, perempuan bangsawan yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Kesultanan Riau-Lingga.

Namanya lekat dengan sejarah Pulau Penyengat yang dikenal masyarakat sebagai pulau mas kawin. Pada 1803, Sultan Mahmud Riayat Syah III menghadiahkan pulau tersebut kepada Raja Hamidah setelah keduanya menikah. Setahun kemudian, Raja Hamidah pindah dari Lingga dan menetap di pulau itu bersama kerabatnya dari pihak Bugis.

banner 728x90

“Pulau Penyengat ini awalnya pulau kosong yang kemudian dibangun sebagai pusat permukiman. Pulau ini menjadi hadiah pernikahan Sultan Mahmud Riayat Syah III kepada Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, yang bergelar Engku Putri,” kata Raja Malik Hafrizal bin Raja Hamzah, sejarawan, tokoh masyarakat Pulau Penyengat sekaligus zuriat atau keturunan keenam Raja Haji Fisabilillah, Sabtu (17/10/20026), kepada  sejumlah wartawan yang tergabung dalam kegiatan Ekspedisi Eksplorasi Penyengat kolaborasi Pemprov Kepri dan PWI Kepri.

Dalam catatan budayawan Rida K Liamsi yang dikutip dari laman Masyarakat Budayawan Kepri msikepri.or.id,  pernikahan Sultan Mahmud Riayat Syah III dan Raja Hamidah berlangsung pada 1803 di istana sementara Sultan Mahmud di Tanjung Unggat. Pernikahan itu disebut berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah pernikahan tersebut, Sultan Mahmud menghadiahkan Pulau Penyengat kepada Raja Hamidah untuk dijadikan tempat tinggalnya bersama kerabat dari pihak Bugis. Istana, parit, benteng, dan permukiman kemudian dibangun di pulau itu.

Sejak menjadi permaisuri, Raja Hamidah dikenal dengan gelar Engku Putri Raja Hamidah. Namun, pengaruhnya tidak berhenti pada kedudukan di lingkungan istana. Ia juga dikenal sebagai perempuan yang memiliki pendirian kuat dan berani mempertahankan prinsip adat serta agama.

Beberapa tahun kemudian setelah jadi permaisuri , Engku Puteri Raja Hamidah diangkat oleh Sultan Mahmud Riayat Syah III sebagai Raja Tua atau Penasehat Kerajaan, Pemangku Adat dan Pemegang Regalia Kerajaan , menggantikan Raja Tua Daeng Andak yang mengundurkan diri . Dengan jabatan ini, Engku Puteri Raja Hamidah mempunyai kekuasaan yang besar dan menentukan di bawah Sultan atau Yang Dipertuan Besar ( YDB ). Tak ada satupun keputusan pemerintahan , hukum dan adat istiadat yang dapat dibuat kecuali dengan persetujuan Engku Puteri Raja Hamidah. Sultan Mahmud pun mendengar apa yang dia katakan .

Pemegang Regalia Kerajaan

Salah satu peran penting Engku Putri Raja Hamidah adalah sebagai pemegang regalia kerajaan, yakni perangkat pusaka kebesaran yang berkaitan dengan legitimasi adat dalam pengangkatan atau penobatan sultan.

Dalam tradisi kerajaan Melayu, regalia bukan sekadar benda pusaka. Keberadaannya berkaitan dengan pengakuan adat terhadap seorang penguasa. Kedudukan Engku Putri sebagai pemegang regalia membuatnya memiliki peran penting dalam proses penabalan sultan.

Baca Juga :  Diminta Menteri KKP, Gubernur Ansar Gesa Persiapan 100 Kampung Nelayan Merah Putih di Kepri

“Jika perangkat regalia tidak disertakan dalam penobatan, secara adat legitimasi penabalan seorang raja dianggap tidak sah,” ujar Raja Malik.

Posisi tersebut menempatkan Engku Putri pada titik penting dalam dinamika kekuasaan Melayu. Ia bukan hanya permaisuri, melainkan juga pemegang otoritas adat yang berpengaruh terhadap legitimasi seorang sultan.

Raja Malik menyebut Engku Putri sebagai sosok yang berani bersikap ketika menghadapi hal-hal yang dianggap bertentangan dengan adat istiadat dan prinsip yang dipegangnya, termasuk ketika berhadapan dengan lingkungan keluarga sendiri maupun pihak luar.

“Dia seorang perempuan yang berani. Dia bisa berseberangan dengan saudara dan keluarganya sendiri, bahkan dengan pihak kolonial Belanda, ketika menyangkut prinsip adat dan agama yang dipegangnya,” kata Raja Malik.

Menolak Campur Tangan dalam Kekuasaan Melayu

Pengaruh Engku Putri juga berkaitan dengan perubahan politik di kawasan Melayu pada awal abad ke-19. Salah satu peristiwa penting terjadi ketika Inggris memperluas pengaruhnya di Singapura.

Raffles mengakui Tengku Long, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hussein, sebagai Sultan Johor-Singapura. Langkah itu berkaitan dengan kepentingan Inggris untuk memperoleh izin mendirikan pangkalan dagang di Singapura. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari persoalan legitimasi kekuasaan yang melibatkan struktur kerajaan Melayu.

Engku Putri menentang langkah yang dinilainya bertentangan dengan adat dan tata aturan kerajaan. Sikap itu memperlihatkan bahwa kedudukannya sebagai pemegang regalia bukan hanya simbolis, tetapi juga berkaitan dengan pertarungan politik dan legitimasi kekuasaan pada masa tersebut.

Perubahan politik kolonial kemudian semakin memengaruhi wilayah kerajaan Melayu. Perjanjian Inggris-Belanda pada 1824 menjadi salah satu titik penting pembagian wilayah pengaruh kedua kekuatan Eropa. Kawasan yang sebelumnya terhubung dalam lingkungan politik kerajaan Melayu terpisah ke dalam wilayah pengaruh Inggris dan Belanda.

Dalam situasi tersebut, sikap Engku Putri menjadi bagian dari kisah tentang upaya mempertahankan adat dan kewenangan kerajaan di tengah perubahan politik kolonial.

Raja Malik Hafrizal saat menunjukkan koleksi manuskrip yang dilestarikan oleh Yayasan Kebudayaan Indera Sakti di Pulau Penyengat. Sabtu, (17/10/2026). F : Channelkepri.com

Perempuan dan Tradisi Intelektual Penyengat

Pulau Penyengat juga dikenal sebagai pusat perkembangan pemikiran, bahasa, dan sastra Melayu. Tradisi menulis di pulau ini tidak hanya berlangsung di lingkungan istana, tetapi turut berkembang di tengah masyarakat, termasuk di kalangan perempuan.

Menurut Raja Malik, salah satu karya yang dikaitkan dengan Engku Putri adalah Risalah Nisya’ Sifat al-Zakir, yang memuat pandangan mengenai sifat dan tuntunan bagi perempuan Melayu dalam kerangka nilai Islam.

Dalam penjelasannya, karya tersebut menunjukkan bahwa perempuan pada masa itu telah menjadi bagian dari tradisi intelektual. Mereka tidak hanya hadir dalam kehidupan rumah tangga atau lingkungan istana, tetapi juga ikut merumuskan pemikiran tentang perempuan, agama, dan kehidupan sosial.

Baca Juga :  ASN Lingga Gelisah THR Tertunda, Wabup Novrizal: Itu Hak yang Wajib Dibayar, Target Cair April Ini!

Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh penulis perempuan lain, di antaranya Raja Aisyah Sulaiman dan Khadijah Terung. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa perempuan memiliki ruang dalam perkembangan sastra dan pemikiran Melayu.

Warisan intelektual Penyengat juga berkaitan dengan upaya memartabatkan bahasa Melayu. Raja Ali Haji dikenal melalui karya-karya kebahasaan, termasuk Gurindam Dua Belas, serta sumbangannya dalam penyusunan tata bahasa dan perbendaharaan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu kemudian menjadi sumber utama bagi perkembangan bahasa Indonesia. Perjalanan itu menunjukkan bahwa Pulau Penyengat memiliki peran yang melampaui lingkup kerajaan, karena tradisi intelektual yang berkembang di pulau tersebut ikut menyumbang pada sejarah bahasa dan kebudayaan Indonesia.

“Pulau Penyengat memang kecil, tetapi memainkan peranan besar bagi persatuan bangsa melalui bahasa Indonesia,” ujar Raja Malik.

Sejumlah manuskrip dan warisan budaya Melayu yang berkaitan dengan tradisi tersebut kini turut dilestarikan oleh Yayasan Kebudayaan Indera Sakti di Pulau Penyengat.

Makam yang Menyimpan Cerita

Di kompleks makam Engku Putri Raja Hamidah, pengunjung tidak hanya menemukan makam sang permaisuri. Di dekatnya terdapat makam Encik Makoh, perempuan yang menjadi istri lain Sultan Mahmud Riayat Syah dan ibu Tengku Hussein, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hussein di Singapura.

Menurut Raja Malik, Engku Putri dan Encik Makoh berasal dari latar kedudukan sosial yang berbeda di lingkungan kerajaan. Engku Putri merupakan permaisuri, sementara Encik Makoh memiliki kedudukan berbeda dalam struktur keluarga sultan.

Kisah keduanya sering memunculkan pertanyaan dari para pengunjung. Ada pula pengunjung yang keliru menganggap Raja Ali Haji sebagai suami Engku Putri. Padahal, Raja Ali Haji merupakan keponakannya.

Ades, juru pelihara makam yang telah merawat kawasan itu selama lebih dari 15 tahun, mengatakan pengunjung umumnya datang untuk berziarah dan mendoakan tokoh yang dimakamkan di sana. Namun, banyak pula yang ingin mengetahui siapa Engku Putri dan apa perannya dalam sejarah kerajaan.

Kapolda Kepri Irjen Pol. Suhendri bersama istri saat melakukan ziarah ke makam Engku Putri Raja Hamidah, Minggu (18/10/2026). F : Channelkepri.com

“Karena pada nisannya disebutkan sebagai pemegang regalia kerajaan, pengunjung sering bertanya apa itu regalia. Kami menjelaskan bahwa regalia merupakan perangkat pusaka kebesaran kerajaan yang berkaitan dengan penabalan sultan,” kata Ades.

Ia mengatakan masyarakat setempat turut membantu menjaga kawasan makam. Selain menjadi lokasi wisata sejarah dan religi, makam Engku Putri juga masih dikunjungi orang-orang yang ingin mengenal sejarah keluarga kerajaan Melayu.

Warisan yang Perlu Dikenalkan Kembali

Bagi sebagian pengunjung, berziarah ke makam Engku Putri bukan hanya perjalanan wisata sejarah, tetapi juga kesempatan mengenal sosok perempuan yang memiliki pendirian kuat.

Baca Juga :  Maling Spesialis Rumah Kosong di Bintan Timur Babak Belur Dihajar Massa, Pelaku Ternyata Pemain Lama

Raisa, salah seorang pengunjung yang datang bersama teman-temannya dari Bogor dan daerah lain di Pulau Jawa, mengaku tertarik mengetahui sejarah Kesultanan Riau-Lingga dan peran Engku Putri.

“Saya ingin mengetahui sejarah kesultanannya, sekaligus berziarah ke makam Engku Putri Raja Hamidah. Beliau merupakan sosok perempuan yang berpendirian teguh dan memiliki pengetahuan luas. Menurut saya, itu bisa menjadi teladan bagi perempuan saat ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, mengatakan makam Engku Putri menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah di Pulau Penyengat. Menurutnya, kisah kerajaan Melayu juga memiliki keterkaitan dengan wisatawan dari Malaysia dan Singapura.

Untuk membantu wisatawan memahami sejarah setiap destinasi, pemerintah daerah bersama sejumlah pihak telah mengembangkan situs pulaupenyengat.id, yang memuat informasi dan cerita mengenai tempat-tempat bersejarah di pulau tersebut.

Buku Engku Puteri Raja Hamidah karya penulis Hasan Junus yang ada di Yayasan Kebudayaan Indera Sakti di Pulau Penyengat.

Hasan mengatakan informasi itu dapat menjadi referensi bagi pemandu wisata dalam menyusun perjalanan dan menjelaskan sejarah kepada pengunjung.

Engku Putri Raja Hamidah Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

Bagi Raja Malik, pengenalan kembali sosok Engku Putri Raja Hamidah kepada generasi muda merupakan hal penting. Ia menyebut pihaknya tengah mengumpulkan sumber-sumber sejarah dan merangkum perjuangan Engku Putri sebagai bagian dari upaya memperkenalkan tokoh tersebut secara lebih luas. Ia juga berharap upaya itu dapat berkembang melalui kerja sama dengan berbagai pihak dan pemerintah, termasuk dalam wacana pengusulan Engku Putri sebagai pahlawan nasional.

Kisah Engku Putri Raja Hamidah memperlihatkan bahwa perempuan dalam sejarah Melayu tidak selalu berada di belakang kekuasaan. Melalui kedudukannya sebagai permaisuri, pemegang regalia, dan sosok yang terlibat dalam tradisi intelektual, ia memiliki peran dalam menjaga legitimasi adat serta menghadapi perubahan politik pada zamannya.

Di Pulau Penyengat, jejaknya masih dapat ditelusuri melalui makam, manuskrip, dan ingatan masyarakat. Tantangannya kini adalah memastikan kisah tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dipahami sebagai bagian dari sejarah Melayu. (dh) 

 

Catatan Redaksi : 

Catatan sejarah ini disusun sebagai upaya merawat ingatan kolektif tentang sosok Engku Hamidah dan jejak sejarah yang menyertainya. Kami menyadari bahwa sejarah dapat memiliki beragam sumber dan sudut pandang. Apabila terdapat koreksi, tambahan informasi, atau bagian yang dinilai kurang tepat, pembaca dapat menghubungi redaksi ChannelKepri.com melalui email redaksichannelkepri@gmail.com. Setiap masukan yang disertai sumber atau rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan akan menjadi bahan evaluasi demi menjaga akurasi dan kelengkapan catatan sejarah ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *