Satu-satunya di Indonesia! Kepri Konsisten Ekspor Ratusan Ribu Ayam Hidup ke Singapura

Tanjungpinang – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan (DKP2KH) Provinsi Kepulauan Riau kembali memfasilitasi ekspor ayam hidup (live bird) ke Singapura melalui Pelabuhan Sri Payung, Tanjungpinang, Rabu (8/4/2026).

Pengiriman kali ini merupakan ekspor ke-12 yang dilakukan oleh PT Indojaya Agrinusa (Japfa Group) sejak perdana pada Mei 2023 lalu. Khusus di tahun 2026, ini merupakan pengiriman ketiga dengan jumlah 28.524 ekor ayam yang berasal dari Farm Tirta Madu 1, Desa Toapaya Selatan, Kabupaten Bintan.

“Hingga saat ini, total ekspor ayam hidup dari Kepri ke Singapura telah mencapai 308.656 ekor. Keberhasilan ini adalah buah sinergi antara Pemerintah Provinsi, Pemkab Bintan, Kementerian Pertanian, Bea Cukai, hingga Balai Karantina (BKHIT),” Ujar Kepala DKP2KH Kepri, Rika Azmi.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Ritual, Inilah 5 Kunci Tata Kelola Kurban yang Tertib dan Syar’i

Inovasi “Anti Nak Galau” Jadi Kunci

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP2KH Kepri, Iwan Berri Prima, menambahkan bahwa kelancaran ekspor ini didukung oleh inovasi layanan bernama “Anti Nak Galau” (Pelayanan Kesehatan Hewan dan Fasilitasi Ekspor Ternak Unggas).

Inovasi ini dirancang untuk mempercepat proses birokrasi dan memastikan standar kesehatan hewan memenuhi persyaratan ketat dari Singapura. Berkat konsistensi ini, Kepulauan Riau menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mampu rutin mengekspor ayam hidup ke luar negeri.

Japfa Pastikan Stok Lokal Aman

Head Production Commercial Farm PT Indojaya Agrinusa (Japfa Group), Taopik Robina, menjelaskan bahwa ayam yang diekspor memiliki rata-rata berat 2 kilogram dengan nilai investasi 2,6 dolar Singapura per ekor, atau lebih dari Rp 1 miliar.

Baca Juga :  Ini Link Pendaftaran Beasiswa S1 dan D1 Pemkab Bintan 2026, Cek Syarat dan Batas Waktunya!

Meski rutin melakukan pengiriman ke luar negeri, ia menjamin pasokan untuk kebutuhan lokal di Batam dan Bintan tetap menjadi prioritas utama.

“Ekspor ini tidak mengganggu pasokan lokal karena jumlahnya tidak sampai 20 persen dari total kuota produksi kami. Dari produksi 300 ribu ekor per bulan, kami hanya mengirim sekitar 50 ribu ekor ke Singapura dalam dua kali pengiriman dengan siklus per dua bulan,” jelas Taopik.

Ia menegaskan bahwa standar produk yang dipasarkan di lokal sama tingginya dengan standar ekspor. “Target utama kami tetap pasar lokal, meski produk kami sudah memenuhi standar internasional,” tambahnya.

Baca Juga :  Cari Titik Terang Sengketa Lahan TNI AL, Pemkab Bintan Data Ratusan KK di Tanjung Uban

Kegiatan pelepasan ekspor ini turut dihadiri oleh GM PT Indojaya Agrinusa, Anwar Tandiono, Plt. Kadis Ketahanan Pangan Bintan, Mohammad Panca Azdigoena, serta perwakilan dari Bea Cukai dan BKHIT Kepri. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *