32 Tahun Mengabdi di Polri, Cita-Cita Kompol Rudi: Pensiun Tanpa Pelanggaran

Bintan, Profil45 Dilihat

Bintan – Karier panjang di kepolisian telah membawa Kompol Ahmad Rudi Prasetyo, S.H.,M.H., melewati berbagai medan tugas. Dari daerah konflik di Aceh dan Timor Timur, bertugas di sejumlah satuan kepolisian, hingga akhirnya kembali ke Kabupaten Bintan sebagai Wakapolres.

Namun, setelah lebih dari tiga dekade mengenakan seragam cokelat, cita-cita Rudi justru terdengar sederhana.

banner 728x90

Ia ingin menutup masa pengabdiannya dengan baik.

“Cita-cita kami, pensiun kami tidak ada teguran, pelanggaran. Nanti bisa dinas baik-baik, tidak ada temuan apa pun, raport kami baik,” ujar Rudi, Rabu (12/08/2026).

Kalimat itu menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana ia memandang perjalanan panjangnya sebagai anggota Polri.

Bagi Rudi, keberhasilan seorang anggota polisi bukan semata soal jabatan atau prestasi. Menjaga integritas, disiplin, dan menyelesaikan tugas tanpa meninggalkan persoalan menjadi bagian penting dari pengabdian.

Prinsip itu pula yang ingin ia bawa selama menjalankan tugas sebagai Wakapolres Bintan.

Dari Daerah Konflik hingga Bintan

Perjalanan Rudi di kepolisian dimulai dengan pengalaman yang cukup panjang. Ia pernah menjalankan tugas di Aceh selama sembilan bulan dan di Timor Timur selama dua tahun dua bulan dalam penugasan yang berkaitan dengan konflik dan operasi kepolisian.

Saat itu usianya masih sekitar 23 hingga 24 tahun.

Rudi masih muda, belum menikah, dan mengaku tidak banyak memikirkan rasa takut ketika harus berhadapan dengan situasi berbahaya.

“Waktu itu kami masih muda, belum menikah, tidak ada rasa takut dan gentar. Kalau ada tembakan itu kami kejar. Tidak ada tiarap, tidak ada kami diam. Kami melakukan pengejaran dan pencarian,” kenangnya sambil tersenyum.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya hingga menduduki sejumlah posisi di lingkungan kepolisian.

Baca Juga :  Semenisasi Jalan TMMD Ke-129 di Bintan Hampir Rampung, Progres Tembus 80 Persen

Rudi pernah bertugas di Brimob, SPN, menjadi Kasat Samapta di Natuna, mengikuti pendidikan Sespima, bertugas di Polda Kepri, Polresta Barelang, hingga dipercaya menjadi Wakapolres Natuna.

Ia kemudian kembali ke SPN sebelum akhirnya dipercaya menjadi Wakapolres Bintan.

Menariknya, Bintan bukan wilayah yang benar-benar asing baginya. Pada 2009, Rudy pernah bertugas sebagai Danki Brimob di Bintan.

“Jadi saya sudah dua kali penugasan ke Bintan. Demikian juga dengan Natuna, dua kali juga di SPN,” katanya.

Bintan dan Tantangan Baru

Kembali ke Bintan dengan posisi yang berbeda membuat Rudi melihat wilayah ini dari perspektif baru.

Menurutnya, tantangan di Bintan justru cukup besar. Selain memiliki wilayah yang luas, Bintan terdiri dari 10 kecamatan dengan karakter masyarakat yang beragam. Aktivitas pemerintahan dan program kepolisian yang cukup banyak juga membuat tugasnya semakin dinamis.

“Di sini lebih menantang, karena kegiatannya banyak, tugasnya banyak, dan penduduknya juga sangat padat. Dilihat dari lokasinya sangat luas. Ada 10 kecamatan, ini pun wilayahnya luas-luas banget,” ujarnya.

Namun, Rudi tidak melihat tugas kepolisian hanya sebatas menjaga keamanan.

Pengalamannya selama bertugas di Natuna membuatnya percaya bahwa polisi harus hadir dan membaur dengan masyarakat.

Di Natuna, ia terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari bakti sosial, anjangsana, pembagian sembako, kegiatan kebersihan lingkungan, sunatan massal hingga donor darah.

Pendekatan serupa ingin ia lanjutkan di Bintan.

Polisi, Masyarakat dan Sepasang Sepatu Lari

Ada satu hal yang menarik dari sosok Rudi. Di tengah padatnya tugas sebagai pejabat kepolisian, olahraga menjadi bagian dari rutinitasnya.

Ia bukan sekadar menjadikan olahraga sebagai aktivitas untuk mengisi waktu luang. Baginya, olahraga adalah kebutuhan.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha 2026, Satgas Saber Pangan Polres Bintan Sidak Pasar Antisipasi Penimbunan

Rudi rutin berlari pada pagi atau sore hari. Ketika tidak berpuasa, ia bisa berlari hingga 20 kilometer. Saat menjalankan puasa Senin-Kamis, jaraknya tetap sekitar 5 hingga 10 kilometer.

Kecintaannya terhadap olahraga lari juga mengantarkan Rudi mengikuti lomba kelas master kategori usia 40 tahun ke atas.

Pada 2022, ia berhasil meraih juara pertama kategori Full Marathon (FM) dengan jarak 42,195 kilometer dalam ajang yang digelar di Kabupaten Natuna.

Perlombaan tersebut diikuti sekitar 950 peserta dari berbagai instansi. Rudi berhasil menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 4 jam 15 menit.

Olahraga pula yang menjadi salah satu caranya membangun kedekatan dengan masyarakat.

Di Bintan, ia berencana mengikuti berbagai aktivitas bersama komunitas, mulai dari trabas, bersepeda hingga kegiatan olahraga lainnya.

Bagi Rudi, aktivitas semacam itu bukan hanya soal menjaga kebugaran. Ada ruang untuk berinteraksi dengan masyarakat tanpa sekat.

Disiplin Dimulai dari Diri Sendiri

Pengalaman panjang membuat Rudi memiliki satu prinsip sederhana dalam memimpin anggota.

Pemimpin harus memberikan contoh terlebih dahulu.

“Jadikan contoh kepada anak buah. Kita harus disiplin dulu, berbuat baik dulu, sehingga anggota akan mencontoh dan tidak ada pelanggaran,” tegasnya.

Ia ingin pengalaman yang diperolehnya selama bertugas di Natuna maupun Polresta Barelang dapat diterapkan di Bintan, terutama dalam membangun kedisiplinan anggota.

Baginya, tidak semua anggota harus selalu mengejar prestasi besar.

Tetapi setidaknya, jangan sampai ada pelanggaran.

“Walau tidak ada prestasi yang baik, jangan ada kasus,” katanya.

Prinsip itu juga ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rudi mengaku menjaga pola hidup dengan disiplin. Ia terbiasa tidur sekitar pukul 21.00 dan bangun sekitar pukul 04.00 untuk beribadah sebelum menjalankan aktivitas olahraga. Pola makan juga dijaga dengan mengurangi gorengan, makanan pedas, es dan santan.

Baca Juga :  Pastikan Kesiapan Personel, Dansatgas Tekankan Kedisiplinan dalam Pengerjaan TMMD Ke-129 Bintan

Bukan Jabatan yang Dibawa Pulang

Setelah 32 tahun mengabdi sebagai anggota Polri, Rudi tampaknya semakin menyadari bahwa jabatan pada akhirnya akan berakhir.

Yang tersisa adalah bagaimana seseorang menjalani pengabdiannya.

Ia ingin kelak meninggalkan institusi dengan catatan yang baik.

Tidak ada teguran. Tidak ada pelanggaran. Tidak ada persoalan yang menjadi beban di akhir masa dinas.

Dan di balik prinsip kedisiplinannya, Rudi menyandarkan perjalanan hidupnya pada keyakinan agama.

Ia mengatakan pekerjaan harus dijalankan dengan ikhlas dan tidak membuat seseorang melupakan kewajiban kepada Tuhan.

Bahkan, ia mengaku telah menjalankan puasa Senin-Kamis sejak 1997 dan berusaha mempertahankannya hingga sekarang.

Ketika ditanya tentang pesan untuk masyarakat Bintan sekaligus untuk dirinya sendiri, jawabannya kembali kepada hal yang paling mendasar.

“Di akhir hidup kita ini, yang dirindukan oleh orang beriman adalah husnul khotimah. Kita beriman dan bertakwa, jangan lupa ibadah salat lima waktu, kerja ikhlas lillahi taala. Kalau mengejar dunia itu tidak ada habisnya,” tuturnya.

Mungkin di situlah benang merah perjalanan panjang Kompol Ahmad Rudi Prasetyo.

Dari medan konflik ketika masih muda, perjalanan panjang dari satu penugasan ke penugasan lain, hingga kini berada di Bintan, ia tidak berbicara tentang seberapa tinggi jabatan yang ingin diraih.

Justru sebaliknya.

Ia ingin ketika waktunya tiba untuk melepas seragam, ia dapat meninggalkan institusi dengan catatan yang baik.

Bukan tentang seberapa banyak jabatan yang pernah diduduki, tetapi bagaimana pengabdian itu dijalani hingga akhir.

Dan bagi Rudi, mungkin itulah arti sederhana dari sebuah pengabdian. (dh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *