Blackout Batam-Bintan Belum Pulih, PLN Terapkan Pemadaman Bergilir

Tanjungpinang – Pemadaman listrik yang melanda Batam, Bintan, dan Tanjungpinang sejak Senin (12/10/2026) belum sepenuhnya teratasi hingga Selasa (13/10/2026). PLN menyebut gangguan bermula dari keluarnya salah satu pembangkit dari sistem, yang kemudian memicu kolapsnya sejumlah pembangkit akibat beban yang harus ditanggung terlalu tinggi.

Manager PLN UP 3 Tanjungpinang, Ruly Agus Widanarto, menjelaskan kondisi tersebut dalam dialog siaran langsung di RRI Tanjungpinang, Selasa pagi.

banner 728x90

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan pasokan listrik yang berdampak pada aktivitas warga di tiga wilayah tersebut.

Menurut Ruly, pemulihan sistem membutuhkan waktu karena pembangkit yang mengalami kolaps tidak dapat langsung kembali beroperasi secara normal. PLN pun melakukan pemulihan secara bertahap sembari menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

“Untuk Pulau Bintan, Tanjungpinang-Bintan, memang ketergantungan suplai dari Batam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembangkit di Batam terhubung dengan sistem pasokan menuju Bintan, selain melayani kebutuhan listrik di Batam sendiri. Ketika salah satu pembangkit keluar dari sistem, beban yang harus ditanggung pembangkit lainnya menjadi terlalu tinggi hingga menyebabkan gangguan meluas.

PLN Batasi Beban untuk Cegah Blackout Berulang

Ruly mengatakan, PLN berupaya memulihkan pasokan listrik secara bertahap dengan memprioritaskan fasilitas vital, termasuk rumah sakit, agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.

Sejak pukul 09.00 WIB pada Senin kemarin, PLN mulai mengoperasikan pembangkit yang berada di Air Raja, Pulau Bintan, untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik setempat.

Baca Juga :  Lawan Hoaks, Diskominfo Kepri Ajak AMSI Jadi Penjernih Informasi di Era Viral

Namun, kapasitas pembangkit cadangan di Bintan hanya sekitar 7 megawatt (MW). Sementara itu, menurut Ruly, kebutuhan listrik rata-rata di Tanjungpinang dan Bintan mencapai sekitar 80–100 MW.

Keterbatasan kapasitas tersebut membuat pembangkit lokal belum mampu menggantikan seluruh pasokan listrik yang biasanya didukung sistem dari Batam.

Ruly mengatakan, hingga Senin malam, sistem kelistrikan Batam juga belum pulih sepenuhnya. Sejumlah pembangkit memang mulai kembali beroperasi, tetapi pasokan menuju Bintan belum dapat dimaksimalkan karena frekuensi sistem belum stabil dan masih terdapat potensi gangguan teknis.

Kondisi tersebut menyebabkan pemadaman kembali terjadi di sejumlah wilayah.

Untuk menjaga kestabilan pasokan di Bintan, PLN memilih mempertahankan beban sekitar 35 MW pada siang hari. Konsekuensinya, sebagian pelanggan masih harus mengalami pemadaman secara bergiliran.

“Kita melakukan pemadaman bergiliran, tidak bisa secara meluas, tetapi per gardu atau segmen,” kata Ruly.

Pengaturan beban tersebut dilakukan dengan prinsip kehati-hatian agar gangguan tidak kembali meluas dan menyebabkan blackout di Pulau Bintan.

Tanjung Uban dan Kijang Masih Terdampak

PLN telah mengerahkan tim teknis sejak Senin sore untuk melakukan pengaturan pasokan listrik secara bertahap. Meski sejumlah wilayah mulai kembali dialiri listrik, Ruly mengakui masih ada kawasan yang belum normal.

Baca Juga :  Pemkab dan DPRD Bintan Sepakati Perubahan KUA-PPAS 2026, Ranperda APBD Segera Dibahas

Ia secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan di Tanjung Uban dan Kijang yang hingga Selasa pagi masih mengalami gangguan pasokan.

“Kami memahami 24 jam tanpa listrik, tetapi kami sudah memaksimalkan upaya kami,” ujarnya.

PLN juga telah mengirimkan sejumlah genset bergerak atau mobile generator untuk membantu kebutuhan listrik di lokasi tertentu. Namun, jumlahnya masih terbatas sehingga penggunaannya diprioritaskan bagi instansi yang membutuhkan pasokan listrik segera.

Ruly menambahkan, PLN juga telah berkoordinasi dengan Dinas ESDM dan DPRD Provinsi untuk mengupayakan pemanfaatan pembangkit yang tersedia di Bintan secara maksimal.

DPRD Bintan melaksanakan Rapat Pebahasan Ranperda tahun 2027 di teras gedung rapat paripurna, Selasa (13/10/2026) pagi. F : Istimewa

DPRD Bintan Terpaksa Rapat di Teras Gedung

Dampak pemadaman listrik juga dirasakan di lingkungan pemerintahan. Pada Selasa siang, DPRD Kabupaten Bintan terpaksa menggelar rapat pembahasan Ranperda APBD 2027 di teras depan pintu masuk Gedung Rapat Paripurna.

Sejumlah petugas terlihat menata meja dan kursi di luar gedung agar rapat tetap dapat berlangsung meskipun pasokan listrik belum normal.

Ketua DPRD Bintan, Fiven Sumanti, mengatakan pembahasan Ranperda tetap berjalan lancar meski harus dilakukan di luar ruangan.

Menurut Fiven, DPRD sebenarnya memiliki mesin genset. Namun, perangkat tersebut tidak dapat dioperasikan meskipun teknisi telah dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.

Baca Juga :  Mengemban Misi Trigatra Bangun Bahasa: Sepasang Anak Muda Batam Sabet Gelar Duta Bahasa Kepri 2026

“DPRD ada mesin genset, namun karena sudah lama tak dipakai, mesin tidak bisa hidup. Kita sudah panggil teknisi juga tetap tidak bisa menyala,” ujar Fiven.

Ia mengatakan, kondisi di dalam gedung yang gelap serta kabut asap di luar ruangan tidak menyurutkan pelaksanaan agenda pembahasan Ranperda APBD 2027.

Fiven berharap pasokan listrik segera kembali normal. Ia menyebut keluhan masyarakat cukup banyak, terutama dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku budi daya perikanan yang aktivitasnya turut terdampak.

Pemadaman yang berlangsung sejak Senin tersebut menunjukkan besarnya ketergantungan aktivitas masyarakat terhadap pasokan listrik, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pelayanan publik dan kegiatan ekonomi.

Warga Kijang Terpaksa mengungsi ke Rumah Orang Tua di Tanjungpinang

Sumartono salahsatu warga perumahan di KM 19 Kijang, Bintan Timur mengaku sejak Senin kemarin terpaksa mengungsi kerumah orangtuanya di Tanjungpinang akibat pemadaman listrik.

“Sampai saat ini di Bintan masih padam total, tidak bisa ngapa-ngapain, kita punya anak balita juga,” bebernya.

Hingga Selasa, pemulihan pasokan di sejumlah wilayah Bintan masih berlangsung secara bertahap. Masyarakat pun menantikan pasokan listrik kembali normal agar aktivitas sehari-hari dapat berjalan seperti biasa. (Tim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *